Site icon Berbagi Informasi Mengenai Ilmu Veteriner

Komponen Dasar Protozoa

Protozoa merupakan organisme uniseluler (sel tunggal) yang termasuk anggota dari hewan  (animal kingdom) yang lebih sederhana. Berbeda dengan tumbuha, organisme ini memperoleh energi dari material genetik. Hampir semua kelompok protozoa berukuran mikroskopis. Kurang lebih 64.000 jenis protozoa telah diberi nama. Sebagaian besar dari organisme ini hidup bebas, tetapi kurang lebih 7.000 merupakan parasit pada bermacam-macam hewan.

Protozoa merupakan eukaryotik yang menyimpan imformasi genetik di dalam kromosom dan diselubungi oleh membran (nuclear envelope). Protozoa tersusun dari organel-organel tetapi bukan organ karena mereka merupakan diferensiasi dari satu sel. Seperti sel eukaryotik, protozoa memiliki inti (nukleus), retikulum endoplasmik, mitokondria, badan golgi, dan lisosom.

Kebanyakan protozoa memiliki inti vesikuler dan semua inti terlihat sama. Mereka memiliki kromosom atau sekurang-kurangnya bahan yang akan membentuk kromosom selama pembelahan dan biasanya sebagai massa pokok yang terletak di tengah. Selaput inti berlubang-lubang, tetapi lubang tersebut hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Pada ciliata atau heterokariotik terdapat dua tipe inti (makronukleus dan mikronukleus) (Gambar 1). Mereka agak padat dibandingkan dengan inti vesikuler dan mereka tampak berbeda satu sama lain. Mikronukleus relatif kecil dan membelah diri dengan mitosis serta mempunyai dua setel kromosom (diploid) yang berperan dalam mengendalikan fungsi reproduksi dan organisme. Makronukleus relatif besar, membagi secara amitosis pada waktu pembelahan dan memiliki n setel kromosom yang berperan dalam mengendalikan fungsi vegetatif dari organisme.

Sumber: http://smartsciencepro.blogspot.co.id

Gambar 1 Struktur sel dari protozoa Paramecium sp.

Sitoplasma dari protozoa berisi bermacam-macam organel seperti retikulum endoplasmik, ribosom, mitokondria, badan golgi, vakuola kontraktil, zat cadangan seperti glikogen, vakuola makanan dan silia atau flagela (Gambar 2). Mitokondria yang terletak diantara retikulum endoplasma dan ribososom seperti pada sel eukaryotik lain biasanya berisi krista yang berbentuk tubuler lebih banyak daripada yang berbentuk piringan. Badan golgi pada protozoa tersusun dari material lipoid yang tergabung dengan substansi protein berbentuk tubuler atau vesikuler. Badan golgi berfungsi dalam proses sekresi dan ekskresi. Vakuola makanan pada protozoa berfungsi sebagai tempat mencerna makanan. Vakuola makanan mensekresikan enzim asam yang mampu merubah makanan menjadi bahan yang dapat diasimilasi oleh sitoplasma. Sedangkan vakuola kontraktil berfungsi dalam proses ekskresi dan sekresi hasil sisa metabolisme yang terdiri atas air karbondioksida dan senyawa nitrogen.

Gambar 2 Struktur sitoplasma dari protozoa

Protozoa bergerak dengan flagela (Gambar 3a), silia (Gambar 1), pseudopodia (Gambar 3b), selaput undulasi, atau yang lainnya. Flagela merupakan organel yang menyerupai cambuk tersusun oleh aksonema sentral dan selubung luar. Aksonema berasal dari granula basal atau blefaroplas di dalam sitoplasma dan berisi 9 pasang mikrotubulus tepi dan 2 sentral. Kadang-kadang flagela dapat berjalan ke belakang sepanjang tubuh, melekat sepanjang tubuh atau hanya pada beberapa tempat. Dalam keadaan ini membentuk suatu membrana undulasi. Flagela ditemukan pada flagellata, beberapa amoeba dan gamet jantan dari beberapa Apicompleksa. Silia merupakan flagela yang kecil yang umunya tersusun berjajar sehingga mirip seperti bulu mata. Apabila dua atau lebih jajaran silia transversal bergabung membentuk bangunan menyerupai cuping segitiga, struktur tersebut dikenal sebagai membranela. Membranela ditemukan terutama di sekitar mulut dan selaput undulasi terutama pada celah mulut dari beberapa ciliata. Sedangkan pseudopodia merupakan alat gerak sementara yang dapat dibentuk dan ditarik apabila dibutuhkan. Labopodia merupakan pseudopodia yang relatif lebar dengan lapisan luar yang tebal dan banyak cairan di dalamnya. Miksopodia, rizopodia atau retikulopodia merupakan kaki palsu yang berfilamen dengan lapis dalam yang padat dan lapisan luar yang lebih encer dimana terjadi sirkulasi granuler. Gerakan pada protozoa dapat juga dihasilkan dari pembengkokan, menggertak atau meliukkan seluruh tubuh. Mikrotubulus dan mikrofibil juga melakukan hal yang sama.

Gambar 3 Flagela, membran undulan (a) dan pseudopodia (b) dari protozoa

Terdapat banyak tipe makanan pada protozoa diantaranya sebagai berikut:

Makanan dapat juga diambil ke dalam tubuh melalui lubang sementara pada dinding sel. Lubang sementara in dibentuk oleh pseudopodia atau beberapa cara lain, meskipun demikian makanan yang diperoleh ditahan di dalam vakuola makanan sampai dicerna dan bahan yang tidak dicerna dikeluarkan melalui pintu sementara atau permanen. Vakuola kecil yang berisi cairan diambil keluar melalui pintu sementara pada dinding tubuh, proses ini disebut sebagai pinositosis.

Ekskresi dan osmoregulasi (keseimbangan air) pada protozoa dapat terjadi secara difusi melalui dinding tubuh atau melalui vakuola kontraktil yang sangat sederhana atau dapat juga berhubungan dengan suatu sistem saluran makanan atau vakuola serta dapat juga melalui pinositosis. Protozoa air tawar umumnya mempunyai vakuola kontraktil, sedangkan pada protozoa air asin dan protozoa parasit umumnya tidak mempunyai vakuola kontraktil.

Reproduksi pada protozoa dapat terjadi melalui dua cara yaitu aseksual (berkembang biak tanpa perkawinan) dan seksual (berkembang biak melalui perkawinan). Reproduksi secara aseksual terjadi dengan beberapa cara diantaranya:

Sumber: Urquhart 1996

Gambar 4 Tahap trofozoid amoeboid dan tahap kista non-motil dengan 4 inti

Reproduksi protozoa secara seksual terjadi berupa perkawinan antara mikrogamet dan makrogamet. Setelah terjadi perkawinan akan menghasilkan zigot, lalu terbentuk ookinet kemudian menjadi ookista yang di dalamnya terbentuk sporozoid, proses ini disebut sporogoni.

 

 

 

Sumber:

Levine ND. 1994. Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: UGM Press.

Safar R. 2010. Parasitologi Kedokteran. Bandung: Yrama Widya.

Urquhart GM, Armour J, Duncan JL, Dunn AM, Jennings FW. 1996. Veterinary Parasitology. UK: Blackwell Science.

 

Exit mobile version