Site icon Berbagi Informasi Mengenai Ilmu Veteriner

Gejala Klinis dan Diagnosa Ringworm

A. Gejala Klinis

Gejala klinis dari hewan yang terserang ringworm yaitu lokasi infeksi terdapat bentukan yang khas yang terlihat seperti cincin dengan batas jelas dan umumnya dijumpai di daerah leher, muka terutama sekitar mulut, pada kaki dan perut bagian bawah. Biasanya hewan yang terinfeksi mengalami kerontokan rambut dan patah-patah khususnya di daerah yang terserang, kadang-kadang disertai sisa-sisa kulit kering yang menyerupai ketombe. Kulit kering yang mengelupas kadang menyerupai sisik. Daerah kerontokan rambut biasanya berbentuk lingkaran (sirkular). Gejala klinis akan bervariasi apabila disertai infeksi sekunder oleh mikroorganisme lainnya. Gejala dimulai dari bercak merah, eksudasi, rambut patah atau rontok. Perkembangan selanjutnya sangat bervariasi, dapat berupa benjolan kecil dengan erupsi kulit atau berbentuk seperti tumor yang dikenal dengan kerion.

Beberapa hewan (terutama kucing) yang terinfeksi dapat menjadi carrier (pembawa), kemudian menularkan jamur/cendawan kepada hewan lainnya. Pada kucing berbulu pendek dan mempunyai kekebalan tubuh yang baik, ringworm dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 bulan. Kucing dengan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat terinfeksi tetapi sama sekali tidak menunjukan gejala klinis yang berarti, tetapi tidak ada jaminan kucing ini tidak menjadi carrier.

 

Gejala Klinis Ringworm pada Anjing

Gejala klinis ringworm pada anjing yaitu sering terjadi kerusakan rambut di seluruh muka, hidung dan telinga. Perubahan yang tampak pada kulit berupa lingkaran atau cincin dengan batas jelas dan umumnya dijumpai di daerah leher, muka terutama sekitar mulut, pada kaki (Gambar 1) dan perut bagian bawah (Gambar 2). Selanjutnya terjadi keropeng, lepuh dan kerak. Dibagian keropeng biasanya bagian tengahnya kurang aktif, sedangkan pertumbuhan aktif terdapat pada rambut berupa kekusutan, rapuh dan akhirnya patah serta ditemukan pula kegatalan.

Gambar 1 Ringworm pada anjing pada bagian kaki, wajah dan sekitar mulut

Gambar 2 Ringworm pada anjing pada bagian perut bagian bawah

Baca juga mengenai: Agen Penyebab Ringworm dan Cara Penularannya

Gejala Klinis Ringworm pada Kucing

Gejala klinis ringworm pada kucing terutama oleh M. canis, sering tidak jelas. Umumnya akan dapat diketahui bila telah ada penularan yang nyata pada manusia akibat kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi. Biasanya gejala klinis ditandai dengan adanya pembentukan sisik tanpa adanya lesi yang bersifat agak ringan, gatal-gatal, kadang-kadang ditemukan kerontokan rambut sehingga daerah tersebut agak gundul. Biasanya puncak kerontokan pada kucing terlihat dalam waktu 5 minggu sejak kontak dengan M. canis. Lesi yang lebih berat, dapat berbentuk kerak-kerak yang nyata. Lesi ini sering ditemukan di daerah muka dan kaki. Infeksi yang lebih parah dapat meluas ke beberapa bagian tubuh.

Gambar 3 Ringworm pada kucing

 

Gejala Klinis Ringworm pada Sapi

Pada sapi, di bagian permukaan kulit dan rambut yang terinfeksi akan ditemukan adanya lesi berbentuk bulatan-bulatan seperti cincin dalam berbagai ukuran dan berwarna keputih-putihan, yang dalam keadaan intensif dapat disertai dengan adanya kerak-kerak peradangan dan kerontokan rambut.

Lesi ini dapat ditemukan pula di daerah kepala, leher, dada dan bahu. Pada sapi tidak dijumpai tanda-tanda kegatalan. Infeksi yang parah pada sapi menyebabkan tubuhnya sangat kurus dan tidak ada nafsu makan.

Sumber: http://www.msd-animal-health.ie

Gambar 4 Ringworm pada sapi

 

B. Diagnosa Ringworm

Penyakit ini dapat dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan seperti gigitan serangga, urtikaria, infeksi bakteri dan dermatitis lainnya, namun dengan adanya bentuk cincin pada derah yang terinfeksi dan peneguhan diagnose dengan pemeriksaan laboratorium akan memastikan bahwa hewan tersebut menderita penyakit ringworm.

Baca juga mengenai: Infestasi Jamur atau Mikosis pada Anjing dan Kucing

 

 

 

Sumber

Ahmad R Z. 2009. Permasalahan & Penanggulangan Ring Worm Pada Hewan. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.

Boel  T. 2009. Mikosis superficial. Fakultas kedoteran gigi. Universitas Sumatera Utara.

Quinn P J, Markey BK, Carter ME, Donnely WJC, Leonard F C and Maghire D. 2002. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Blackwell Science Ltd. Blackwell Publishing Company Australia.

 

 

 

Exit mobile version