Home » Kesmavet » Titik Kritis dari Penyebaran Virus Avian Influenza

Titik Kritis dari Penyebaran Virus Avian Influenza

Terdapat beberapa titik kritis yang perlu segera diperbaiki dalam upaya menekan penyebaran virus avian influenza (AI) yang meliputi peternakan, tempat penampungan unggas (TPnU), tempat pemotongan unggas (TPU) atau rumah potong unggas (RPU) atau rumah potong unggas skala kecil (RPU-SK) dan los daging/karkas unggas (pasar). Titik kritis ini dapat dilihat pada diagram alir pada Gambar 1. Upaya menekan penyebaran virus AI di pasar unggas dapat dimulai dengan menerapkan praktek-praktek terbaik keamanan dalam perdagangan unggas.

Pasar unggas menjadi salah satu titik kritis dari penyebaran virus AI antar unggas, unggas kepada manusia maupun dari unggas ke lingkungan. Pada umumnya pasar unggas (pasar tradisional) di Indonesia menjadi transaksi penjualan unggas hidup dan produknya serta pada pasar unggas juga terdapat TpnU sekaligus RPU-SK dan tempat penjualan karkas, hal ini menyebabkan sangat tingginya peluang untuk terjadinya penyebaran virus AI sehingga perlu segera diperbaiki.

Pasar dapat menjadi sumber penyebaran penyakit zoonosis yang cepat. Bahkan kalau kita lihat saat ini sejumlah wabah penyakit ditularkan melalui pangan dan hewan hidup yang dijual di pasar. Pada tahun 1997, berdasarkan penelitian yang dilakukan di pasar Hong Kong menunjukkan sebesar 20% unggas yang dijual di pasar terinfeksi virus AI (H5N1). Penelitian yang dilakukan pada 38 TpnU di Jakarta yang dipilih dengan menggunakan ayam sentinel menunjukkan 84,2% TpnU terdapat sirkulasi virus AI.

Unggas hidup di pasar berada di kandang kecil dan jumlahnya melebihi kapasitas kandang membuat feses dapat mengkontaminasi bulu pada unggas lain. Selain itu, membuat unggas merasa tertekan dan tidak nyaman serta mengepak-ngepakkan sayapnya membuat feses terbawa ke udara. Hal ini dapat berpeluang untuk terbawanya virus melalui udara dan dapat menularkan kepada unggas lain, penjual maupun pembeli serta dapat mengkontaminasi daging/karkas unggas dan produk lain yang ada di pasar. Kadang-kadang unggas yang tidak terjual tetap menetap di pasar selama 24 jam. Hal ini memberikan kesempatan untuk virus bertransmisi di pasar. Biasanya sumber unggas di pasar tidak diketahui dengan pasti. Unggas hidup yang dijual di pasar dapat berasal dari berbagai peternak dan juga dari berbagai daerah. Unggas di pasar juga dicampur dengan unggas yang lain seperti itik dan bebek serta unggas hidup dapat dibeli dipasar dan dibawa keluar pasar untuk dipelihara atau dipotong di rumah serta digunakan untuk keperluan lainnya. Hal ini membuat virus AI dapat penyebar dan menular ke area di luar pasar dan berpotensi untuk menularkan kepada unggas lainnya yang berada di luar pasar bahkan dapat menginfeksi manusia.

Titik kritis penyebaran virus AI

Gambar 1 Diagram alir penyediaan unggas hidup dan karkas serta titik kritis dalam rantai perdagangan unggas

Biasanya masyarakat Indonesia lebih menginginkan unggas untuk dipotong di pasar dan menyaksikan apakah pemotongan sesuai dengan syariat islam. Penyembelihan unggas di pasar biasanya tidak dilakukan dengan baik (tidak memperhatikan higiene dan sanitasi) serta dilakukan pada tempat terbuka dan digabungkan dengan tempat penjualan daging/karkas unggas sehingga feses dan darah ayam yang telah disembelih dapat mengkontaminasi daging/karkas unggas. Hal ini juga sangat berpeluang untuk terkontaminasi virus AI.

 
Sumber :

Antara IMS dkk. 2009. Pola Distribusi Unggas dari Pasar Tradisional Berperan dalam Penyebaran Virus Flu Burung. Journal Veteriner 10(2): 104-110.

Cardona C, Yee K, Carpenter T. 2009. Are Live Bird Markets Reservoirs of Avian Influenza?. Poultry Science 88 :856–859.

FAO. 2011. Approaches to Controlling, Preventing and Eliminating H5N1 Highly Pathogenic Avian Influenza in Endemic Countries. Roma: FAO.

Komnas FBPI, USDA, CIVAS. 2008. Pedoman Penataan Pasar Unggas, Rantai Distribusi Unggas dan Produk Unggas. Jakarta: Komnas FBPI, USDA, CIVAS.

Kung NY et al. 2007. Risk for Infection with Highly Pathogenic Influenza A Virus (H5N1) in Chickens, Hong Kong, 2002. Emerg. Infect. Dis. 13: 412–418.

WHO. 2006b. Public Health Interventions for Prevention and Control of Avian Influenza. New Delhi: WHO.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...

error: Content is protected !!