Home » Anatomi & Fisiologi » Struktur Penyusun dan Sifat Kerja Otot

Struktur Penyusun dan Sifat Kerja Otot

Secara anatomi otot tersusun oleh dua jenis filamen dasar, yaitu filamen aktin dan filamen miosin. Keadaan filamen aktin tipis, sedangkan miosin tebal. Kedua filamen inilah yang menjadi penyusun suatu struktur otot yang disebut miofibril. Sekumpulan miofibril ini akan membentuk serabut otot dan sekumpulan serabut otot akan membentuk otot (Gambar 1).

Bagian-bagian penyusun otot

Gambar 1 Bagian-bagian penyusun otot

Sebelum kita lebih jauh membahas tentang otot, kita perlu mengetahui bagaimana mekanisme pergerakan otot. Otot yang berfungsi sebagai alat gerak aktif, mempunyai kemampuan berkontraksi dan berelaksasi. Otot disebut sedang berkontraksi, apabila otot tersebut sedang memendek atau memanjang (otot sedang bekerja), sedangkan otot dikatakan berelaksasi, apabila otot itu sedang beristirahat. Secara umum, otot memiliki tiga sifat dalam melakukan gerakan, yaitu kontraktibilitas, ekstensibilitas, dan elastisitas. Sifat kontraktibilitas memungkinkan otot mampu memendek sehingga lebih pendek dari ukuran normalnya. Sifat kontraktibilitas ini terjadi apabila otot sedang melakukan kerja. Otot dikatakan memiliki sifat ekstensibilitas karena otot mampu memanjang, sehingga ukurannya lebih panjang dari ukuran normalnya (ukurannya semula), sedangkan karakter elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali ke ukuran normalnya.

Pergerakan (kontraksi) yang terjadi pada otot karena adanya rangsangan. Berkontraksinya otot tidak disebabkan oleh satu rangsangan saja, tetapi oleh serangkaian rangsangan yang sifatnya berurutan. Otot salah satu rangsangan akan memperkuat rangsangan yang lain. Dengan demikian, akan terjadi ketegangan (tonus) yang maksimum. Tonus yang terjadi berlangsung secara terus-menerus. Gerak yang dihasilkan juga dari kerja sama otot, tulang, dan sendi. Saat bekerja otot memiliki dua sifat, yaitu antagonis dan sinergis. Berikut akan dijelaskan mengenai dua sifat otot tersebut.

1. Sifat antagonis otot

Dikatakan antagonis, apabila kerja otot menyebabkan pengaruh yang sifatnya berlawanan. Gerakan ini terjadi jika sebagian atau sebuah otot yang melekat pada tulang yang sama berkontraksi, sementara sebagian atau sebuah otot pasangannya berelaksasi. Keadaan otot yang saling antagonis, misalnya pada kerja otot yang disebut ekstensor (meluruskan) dan fleksor (gerak membengkokkan), otot trisep dan otot bisep. Di samping itu, otot yang bekerja secara antagonis terjadi pada otot-otot yang bekerja abduktor (menjauhi badan) dan adduktor (mendekati badan), contohnya pada gerakan tangan sejajar bahu dan sikap gerak yang sempurna.

Otot juga memiliki sifat antagonis yang disebut depresor (ke bawah) dan elevator (ke atas), contohnya pada gerakan merunduk dan menengadahkan kepala. Gerak antagonis yang lain adalah supinator (membalik) dan pronator (menelungkup), contohnya pada gerak membalik dan menelungkupkan telapak tangan.

2. Sifat sinergis otot

Gerakan otot sifatnya sinergis, yaitu terjadi jika sekelompok atau pasangan otot berkontraksi atau berelaksasi dalam waktu yang bersamaan dan mengakibatkan satu gerak bagian tubuh atau gerak otot yang apabila berkontraksi menimbulkan gerak searah. Gerak sinergis didapati pada gerakan menengadahkan telapak tangan atau menelungkupkan telapak tangan, gerakan pada otot-otot punggung
dan otot-otot leher.

 

 

Sumber:

Bakhtiar S. Biologi. 2011. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan Nasional.

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi U. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Pengobatan dan Pencegahan Terhadap Infeksi Pseudomonas aeruginosa

  Pseudomonas aeruginosa merupakan flora normal pada tubuh dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan ...

error: Content is protected !!