Home » Kesmavet » Sejarah dan Etiologi Virus Ebola

Sejarah dan Etiologi Virus Ebola

Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola pernah menggemparkan dunia sebagai penyakit misterius karena tingginya angka kejadian penyakit dan kematian yang diakibatkan oleh infeksi virus ini. Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola pada awalnya dilaporkan terjadi di Sudan dan Zaire (Afrika Tengah). Penyakit ini pertama kali terjadi di Sudan Barat Daya pada bulan Juni 1976 yang mengakibatkan 286 orang terinfeksi dan angka kematiannya mencapai 53%. Kemudian penyakit ini terjadi lagi di Zaire pada bulan Juli dengan tahun yang sama. Kejadian penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola di Zaire  lebih banyak dibandingkan dengan kasus yang terjadi di Sudan yaitu menginfeksi 318 orang dengan jumlah kematian sebanyak 88%. Kasus yang terjadi di Zaire telah menyerang 55 desa dari 550 desa di daerah epidemi dan penyakit ini berakhir pada bulan November tahun 1976. Virus Ebola telah berhasil diisolasi dari spesimen asal dekat sungai Ebola bagian barat laut Zaire sehingga virus ini diberi nama virus Ebola.

Kasus infeksi oleh virus Ebola ditemukan lagi di Kongo pada tahun 1995 dan pada tahun 2000 terjadi di Uganda. Fasilitas isolasi terhadap penderita penyakit menular pada saat itu belum tersedia sehingga mengakibatkan terjadinya penularan penyakit ini di rumah sakit (nasocomial transmission) yang menyebabkan beberapa dokter dan perawat ikut tertular oleh virus ini. Sampai saat ini, penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola sangat ditakuti karena bersifat fatal dengan kematian yang tinggi serta vaksin terhadap penyakit ini belum ditemukan.

Virus Ebola memiliki morfologi yang mirip dengan virus Marburg yaitu berbentuk filamen dan berkelok-kelok sehingga dimasukkan ke dalam famili Filoviridae (filo = filamen/benang) dan genus Filovirus. Virus Ebola termasuk ke dalam virus RNA (EBO). Bentuk virus Ebola di bawah mikroskop elektron yaitu berbentuk pleomorfik, menyerupai filamen panjang sampai beberapa mikron, kadang-kadang menyerupai bentuk huruf U atau angka 6 dan melingkar (Gambar 1). Diameter virion yaitu berukuran sekitar 80 nm dengan panjang 800 – 1.000 nm. Kapsomer tertutup nukleokapsid yang berbentuk helicoid.

Agar lebih paham mengenai virus baca juga artikel berikut ini: Ciri-Ciri Umum Virus

Secara antigenik virus Ebola berbeda dengan virus marburg meskipun kedua virus ini memiliki morfologi yang mirip. Virus Ebola yang diisolasi dari Sudan dan Zaire yang sebelumnya dianggap sama ternyata termasuk dalam 2 golongan biotipe yang berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada sifat-sifat biologik, immunologik, genetik dan sifat-sifat kimiawinya. Sama halnya dengan virus marburg, penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola dikenal sebagai African hemoragic fever atau green monkey disease.

Genus virus Ebola terdiri atas empat spesies yang telah diakui dan satu spesies baru yang namanya masih tentatif yaitu Bundibugyo ebolavirus yang di isolasi dari outbreak yang terjadi di Uganda. Empat spesies virus Ebola yang telah diakui antara lain: Zaire ebolavirus, Sudan ebolavirus, Ivory Coast ebolavirus (sebelumnya dikenal dengan Cote d’ivoire Ebola virus) dan Reston ebolavirus. Saat ini, terdapat 13 strain virus Ebola yang telah berhasil di identifikasi. Strain virus Ebola dari Republik Demokratik Kongo (yang dulunya bernama Zaire), Gabon, Pantai Gading, dan Sudan berhubungan dengan penyakit pada manusia dan hewan, meskipun beberapa manusia yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis (asimtomatik). Strain Reston dilaporkan terdapat di Itali, Filipina, dan Amerika Serikat yang menyebabkan penyakit hemoragik fatal pada hewan, tetapi pada manusia yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis (asimtomatik).

virus-ebola

Sumber: CDC 2009

Gambar 1 Virus Ebola (CDC 2009)

Virus Ebola relatif stabil pada suhu 20 °C, tetapi menjadi inaktif pada suhu 60 °C selama 30 menit. Vitus Ebola dapat inaktif oleh sinar ultraviolet, sinar gama, pelarut lemak, beta propiolakton serta desinfektan seperti hipoklorit dan fenol. Kera, mencit, marmot dan hamster yang diinfeksi secara eksperimental di laboratorium sangat peka terhadap virus Ebola serta dapat mengakibatkan kematian. Pada manusia, virus Ebola sangat ganas sehingga dimasukkan ke dalam biosafety level IV (WHO risk group 4). Ini berarti bahwa semua pekerjaan yang berkaitan dengan virus ini memerlukan fasilitas keamanan yang maksimum sehingga tenaga laboratorium dapat terhindar dari penularan virus ini.

Baca juga mengenai: Virologi dan Taksonomi Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus

 

 

Sumber:

Acha PN, Szyfres B. 2003. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. Third Edition. Volume III. USA : Pan American Health Organization.

[CDC] Centers for Disease Control and Prevention. 2009. Ebola Hemorrhagic Fever. US: Department of Health and Human Services.

[CFSPH]  The Center for Food Security and Public Health. 2009. Viral Hemorrhagic Fevers-Ebola and Marburg. Iowa: Iowa  State University.

Soeharsono. 2002. Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Wabah Virus Ebola yang Sangat Mematikan di Afrika Barat

Baru-baru ini telah terjadi wabah virus Ebola di Afrika Barat yang mengakibatkan 467 orang meninggal ...