Home » Kesmavet » Sejarah dan Agen Penyebab Rabies

Sejarah dan Agen Penyebab Rabies

Sejarah

Rabies telah dikenal sejak zaman dahulu dan penyakit ini dinilai sangat penting sehingga salah satu prasasti yang dibuat pada zaman kekuasaan Raja Hammurabi (2300 SM) mencatat bahwa: “bila seekor anjing ditemukan gila dan pihak penguasa telah menyampaikan kepada pemilik anjing, namun pemilik anjing tidak menjaganya dengan baik sehingga anjing tersebut menggigit orang dan menyebabkan kematian maka pemilik harus membayar 2/3 dari satu mine (40 shekel) perak. Apabila anjing tersebut menggigit budak dan menimbulkan kematian maka pemilik harus membayar 15 shekel perak”. Penyakit rabies telah tersebar di seluruh dunia kecuali Australia, Inggris dan Selandia Baru. Menurut World Health Organization (WHO), rabies menduduki peringkat kedua belas sebagai penyakit yang paling mematikan di dunia. Penyakit rabies diperkirakan menyebabkan 35.000 – 40.000 kematian per tahun.

Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Schoorl di Jakarta pada tahun 1884 pada seekor kuda, kemudian Esser pada tahun 1889 juga menemukan rabies pada seekor kerbau di Bekasi. Rabies di Indonesia menjadi populer di beberapa daerah setelah ditemukan rabies pada seekor anjing pada tahun 1990 di Penning. Sedangkan rabies pada manusia di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh de Haan pada tahun 1894 pada seorang anak di Cirebon. Secara kronologis tahun kejadian penyakit rabies mulai di Jawa Barat (1948), Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), DI Aceh (1970), Jambi dan DI Yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara (1972), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983) dan pulau Flores (1997). Pada akhir tahun 1997, wabah rabies muncul di Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai akibat pemasukan secara ilegal anjing dari pulau Buton Sulawesi Tenggara yang merupakan daerah endemik rabies.

Sampai saat ini daerah tertular rabies terdapat di 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia dan hanya provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, NTB, Papua dan Irian Jaya Barat yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Provinsi Banten dinyatakan daerah baru tertular Rabies, setelah terjadi kasus luar biasa (KLB) di Kabupaten Lebak pada tahun 2008. Provinsi Bali merupakan daerah yang sebelumnya tidak pernah terjadi kasus rabies yang secara historis dinyatakan bebas Rabies, tetapi pada bulan September tahun 2008 terjadi KLB rabies di Kabupaten Badung.

Agen penyebab

Rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu Rhabdovirus yang termasuk ke dalam ordo Mononegavirales, famili Rhabdoviridae dengan genus Lyssavirus. Rhabdovirus merupakan virus RNA yang berbentuk peluru atau batang (bahasa yunani rhabdo artinya bentuk batang). Virus ini berukuran panjang 180 nm dan lebar 65 nm. Partikel virus dikelilingi oleh selubung selaput dengan duri yang menonjol yang panjangnya 10 nm dan terdiri atas glikoprotein tunggal. Virus ini memiliki genom beruntai tunggal, RNA negative-sense (12 kb; BM 4,6 x 106) yang berbentuk linear dan tidak bersegmen. Selain itu juga memiliki kapsid yang berfungsi untuk melindungi genom dan juga memberikan bentuk pada virus. Komposisi dari virus rabies ini terdiri atas RNA 4%, protein 67%, lipid 26%, dan karbohidrat 3%. Rhabdovirus melakukan replikasi dalam sitoplasma dan virion bertunas dari selaput plasma. Karakter yang menonjol dari Rhabdovirus yaitu merupakan virus yang tersusun luas dengan rentang inang yang lebar (memiliki inang dari berbagai jenis hewan). Virus ini merupakan jenis virus yang mematikan.

Struktur Rhabdovirus

Sumber: MacLachlan dan Dubovi 2011

Gambar 1 Struktur Rhabdovirus

 

Sumber:

Astawa NM, Suardana IBK, Agustini LP, Faiziah. 2010. Imunological detection of rabies virus in brain tissue of infected dogs by monoclonal antibody. Jurnal Veteriner 11(4):196-202.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. 2008. Jakarta: Depkes.

MacLachlan NJ, Dubovi EJ. 2011. Fenner’s Veterinary Virology. Edisi ke-4. UK: Academic Press Elsevier.

Soeharsono. 2002. Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Soejoedono RR. 2004. Zoonosis. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...