Home » Kesmavet » Pertahanan Hidup Bacillus anthracis

Pertahanan Hidup Bacillus anthracis

Bacillus anthracis bentuk vegetatif dan bentuk spora

Sumber: Fasanella et al. 2010

Artikel berikut ini akan menjelaskan pertahanan hidup Bacillus anthracis. Bacillus anthracis bentuk vegetatif tidak mempunyai kemampuan hidup yang baik apabila berada di luar tubuh inang. Jumlah koloni akan cepat menghilang dalam 24 jam bila diinokulasi dalam air. Bentuk vegetatif akan mati pada suhu 60 – 65 °C dalam waktu 30 menit. Hal yang berbeda terjadi apabila bakteri ini dalam bentuk spora. B. anthracis akan membentuk spora di luar tubuh inang segera setelah berhubungan dengan udara bebas (oksigen). B. anthracis di luar tubuh inang akan bersporulasi pada suhu 14 – 42 °C dengan suhu optimum 21 – 37 °C. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan atau dengan kata lain bentuk spora merupakan mekanisme pertahanan dari B. anthracis terhadap kondisi yang tidak menguntungkan. Bentuk spora sangat tahan terhadap pengaruh lingkungan, sehingga setiap hewan mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan autopsi. Spora B. anthracis dapat dibentuk di tanah, jaringan atau binatang mati dan tidak terbentuk di jaringan serta darah binatang hidup. Spora ini dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering dan juga tahan dalam waktu yang lama pada bulu, debu, kapas, kulit, serbuk tulang, pakaian serta tahan terhadap suhu rendah. Spora anthrax juga tahan terhadap kondisi yang ektrim seperti panas, dingin, pH, kekeringan, iradiasi, bahan-bahan kimia dan beberapa desinfektan.

Spora B. anthracis dapat dimatikan dengan cara autoclave pada suhu 120 °C selama 15 menit. Selain itu, spora B. anthracis sensitif terhadap formaldehida 2 – 3% pada suhu 40 °C selama 20 menit, 0.25% pada 60 °C selama 6 jam, 4% setelah kontak minimal 2 jam. Spora juga dapat mati dengan fenol 5%, merkuri klorida, larutan soda kaustik dan kalium.

 

Sumber :

Fasanella A, Galante D, Garofolo G, Jones MH. 2010. Anthrax undervalued zoonosis. Veterinary Microbiology 140 : 318–331.

Soeharsono 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

WHO, FAO, OIE 2008. Anthrax in Humans and Animals. Ed ke-4. France : WHO Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Gejala Klinis Penyakit Ebola

Manusia Telah dilaporkan bahwa beberapa kasus infeksi penyakit pada manusia tidak disertai manifestasi penyakit ataupun ...