Home » Kesmavet » Permasalahan Tuberkulosis Terhadap Kesehatan Masyarakat

Permasalahan Tuberkulosis Terhadap Kesehatan Masyarakat

TB merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia. Pada tahun 1993 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan TB sebagai Global Emergency. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi TB. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia terjadi pada negara-negara berkembang. Kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. TB merupakan penyebab kematian terbesar ke-3 setelah penyakit kardiovaskular dan penyakit saluran pernapasan serta merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis yaitu pada umur 15 – 50 tahun. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 – 4 bulan, hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20 – 30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain itu, pasien TB juga mengelurkan biaya yang cukup besar untuk pengobatan sehingga pendapatan yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi berkurang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Cina didapatkan bahwa hilangnya pendapatan pasien TB rata-rata sebesar 4.559 yuan dan total rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh pasien TB untuk pengobatan sebesar 7.367 yuan (US $ 921). Kebanyakan pasien memiliki kapasitas kecil untuk membayar biaya perawatan. Mereka biasanya meminjam uang pada kerabat dan teman (66%), meminjam di bank (8,3%) dan menjual aset produktif (45%).

Menurut Kemenkes RI (2011), kerugian ekonomi yang timbul akibat TB diperkirakan mencapai Rp 8,5 triliun per tahun. Angka ini dihitung berdasarkan hari produktif yang hilang karena sakit, hari yang hilang karena meninggal dunia lebih cepat dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan. Kerugian ini hampir separuh dari total anggaran pemerintah untuk sektor kesehatan. Kasus TB yang masih tinggi di Indonesia membuat pemerintah meningkatkan pembiayaan kesehatan untuk program TB. Pada tahun 2009, alokasi anggaran kesehatan pemerintah untuk operasional program TB sebesar 145 milyar rupiah, meningkat 7,1% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 135 milyar rupiah.

TB juga memberikan dampak yang besar terhadap kualitas hidup pasien berupa dampak fisik, sosial dan mental. Dampak fisik pada pasien dapat berupa keterbatasan dalam melakukan kegiatan fisik secara normal. Dampak sosial dan mental terhadap pasien TB dapat berupa terisolasi atau dikucilkan oleh masyarakat. Pasien TB mengalami ketakutan dan kecemasan karena tidak bisa diterima di masyarakat. Penelitian terhadap persepsi pasien tentang TB menunjukkan bahwa reaksi pasien pada saat mengetahui diagnosa adalah kekhawatiran (50%) dan pikiran untuk bunuh diri (9%). Pasien TB memiliki persistensi stigma dan rendahnya kualitas emosi, bahkan setelah sembuh.

Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB diantaranya :

1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat seperti pada negara negara yang sedang berkembang

2. Kegagalan program pemberantasan TB yang dapat diakibatkan oleh :

  • Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
  • Tidak memadainya organisasi pelayanan TB seperti : kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus atau diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar
  • Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan panduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis)
  • Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG
  • Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat
  • Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan
  • Dampak pandemi HIV

Situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries) termasuk Indonesia. Pada tahun 2010 diperkirakan terdapat 8,8 juta kasus TB, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif serta 1,4 juta orang meninggal di seluruh dunia akibat TB termasuk 0,35 juta orang dengan penyakit HIV.

Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB multidrug resistance (MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.

TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-4 terbanyak di dunia sebanyak 0,37 – 0,54 juta setelah India (2,0 – 2,5 juta), Cina (0,9 – 1,2 juta), Afrika Selatan (0,40 – 0,59 juta). Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110/100.000 penduduk. Secara regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah yaitu: 1) wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160/100.000 penduduk; 2) wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110/100.000 penduduk; 3) wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210/100.000 penduduk. Khusus untuk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali angka prevalensi TB adalah 68/100.000 penduduk.

Penyakit TB merupakan fenomena gunung es (iceberg), dimana hanya sebagaian kecil penyakit TB yang menunjukkan gejala klinis sehingga yang tampak di masyarakat hanya sebagaian kecil saja dari keseluruhan. Selain itu, dengan adanya perbedaan gejala klinis dari TB maka tidak semua penderita dalam msyarakat dapat tercatat dengan baik oleh petugas kesehatan. Pada umumnya hanya pada penyakit dengan gejala klinis yang berat yang akan tercatat sedangkan penyakit TB yang tanpa gejala klinis umumnya tidak tercatat. Oleh sebab itu, akan terjadi pelaporan kasus TB yang rendah dari yang sebenarnya.

 

 

 

Sumber :

[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Panduan Nasional Penularan Tuberkulosis. Edisi ke-2. Jakarta : Depkes RI.

Dhuria M, Sharma N, Ingle GK. 2008. Impact of Tuberculosis on The Quality of Life. Indian Journal of Community Medicine 33(1) : 58-59.

Jackson S et al. 2006. Poverty and The Economic Effects of TB in Rural China. Int J Tuberc Lung Dis 10(10) : 1104-1110.

Maehmud R. 2009. Bagaimana Agar Penderita Tuberkulosis Tidak Lolos. Upaya dalam Meningkatkan Case Detection Rate. Jurnal Kesehatan Masyarakat 3(2) : 43-45.

Rajeswari R, Balasubramanian R, Muniyandi M, Narayanan PR. 2005. Perceptions of Tuberculosis Patients about Their Physical, Mental and Social Well-being: A Field Report from South India. Social Science & Medicine 60: 1845–1853.|

Sengupta S et al. 2006. Social Impact of Tuberculosis in Southern Thailand: Views from Patients, Care Providers and The Community. Int J Tuberc Lung Dis 10(9) : 1008–1012.

[WHO] World Health Organization. 2011. Global Tuberculosis Control 2011. France : WHO Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Apa Itu Leptospirosis dan Bahayanya Terhadap Hewan

Apa itu Leptospirosis dan agen penyebabnya? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ...