Home » Klinik & bedah » Perhatikan Hal Berikut Ini Agar Hewan Terhindar dari Otitis

Perhatikan Hal Berikut Ini Agar Hewan Terhindar dari Otitis

Apa itu otitis?

Secara umum telinga terbagi menjadi tiga bagian, bagian luar (eksternal), tengah dan dalam (internal). Peradangan pada telinga dapat terjadi pada  salah satu atau ketiga bagian telinga tersebut. Peradangan pada telinga akibat infeksi disebut otitis. Otitis dapat dikategorikan berdasarkan lokasi tempat terjadinya peradangan. Apabila infeksi terjadi di liang telinga bagian luar maka diklasifikasikan sebagai otitis eksterna. Sedangkan apabila infeksi terjadi di liang telinga bagian tengah, maka diklasifikasikan sebagai otitis media, yang biasanya disebabkan oleh robeknya gendang telinga yang disertai infeksi. Apabila infeksi terjadi pada telinga bagian dalam, maka diklasifikasikan sebagai otitis interna.

Otitis dikenal juga sebagai “swimmer ear” atau “tropical ear”. Kejadian penyakit dapat berlangsung dari peradangan ringan sampai parah yang dikenal dengan otitis nekrotikan eksterna. Hal ini disebabkan peluruhan sel kulit yang normal atau serumen sebagai barier protektif pada saluran telinga bagian luar pada kondisi kelembaban yang tinggi dan temperatur yang panas.

bagian-telinga

Gambar 1. Telinga yang mengalami radang (otitis)

Keterangan gambar:
1. Daun telinga kemerahan, sedikit bengkak disertai kotoran telinga
2. Saluran telinga menyempit/tertutup sebagian akibat bengkak
3. Kotoran dalam saluran telinga

 

Penyebab otitis

Banyak hal yang dapat menyebabkan dan mempertinggi resiko terkena otitis. Perhatikan hal berikut ini agar hewan terhindar dari otitis diantaranya:

  1. Kotoran. Sebagian besar kasus infeksi  pada telinga berawal dari kotornya telinga. Kotoran yang terdapat dalam telinga bisa berasal dari luar (debu, tanah, dll) atau dari dalam telinga sendiri.
    Seperti juga manusia, secara normal telinga hewan memproduksi semacam cairan berwarna kuning kecoklatan seperti lilin (wax), yang berfungsi menjaga kelembaban dan kondisi mikroorganisame di dalam telinga.  Lilin ini disebut sebagai serumen. Penumpukan serumen yang berlebihan dapat bisa menjadi tempat yang cocok untuk tumbuhnya bakteri atau jamur, selain itu juga menimbulkan rasa tidak nyaman yang memancing hewan menggaruk/mencakar-cakar telinga. Garukkan ini menyebabkan luka kecil yang kemudian dapat berkembang menjadi infeksi.
  2. Bakteri & Jamur adalah salah satu agen utama penyebab infeksi pada telinga. Jamur/kapang yang secara normal hidup dalam telinga adalah Malassezia pachydermatis. Karena sesuatu hal bisa saja terjadi populasi berlebihan dari jamur ini dan menyebabkan terjadinya otitis.
  3. Ear mite/tungau telinga. Tungau/kutu berukuran kecil yang sering menyebabkan otitis pada anjing adalah Otedectes sp. (Gambar 2). Tungau spesies lain yang juga bisa menyebabkan otitis adalah Sarcoptes, Demodex dan Notoedres.
  4. Alergi. Alergi terhadap serbuk sari, makanan atau obat-obatan juga dapat menyebabkan otitis.
  5. Gangguan hormon: penyakit-penyakit yang menyebabkan gangguan hormon dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh yang berkurang menyebabkan berbagai penyakit mudah muncul salah satunya adalah infeksi telinga. Pemeriksaan darah di laboratorium kadang-kadang diperlukan untuk mendiagnosa otitis yang disebabkan gangguan hormon.
  6. Tumor/polip dapat saja tumbuh di telinga atau saluran telinga. Tumor/polip ini bisa muncul sebagai akibat infeksi telinga yang berkepanjangan.
  7. Bentuk telinga yang terlipat/ menutup seperti pada beberapa ras hewan mempertinggi resiko terkena otitis. Bulu yang tumbuh berlebihan dalam telinga juga meningkatkan resiko terkena otitis.

otodectes-sp

Gambar 2 Otedectes sp.

Otitis yang tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat menyebabkan radang berlangsung lama/kronis. Pada beberapa kondisi radang kronis ini dapat menyebabkan tumbuhnya polip. Lebih lanjut lagi polip ini dapat berkembang menjadi tumor/kanker dan menutup saluran telinga, akibatnya hewan tidak dapat mendengar suara dengan baik lagi.

Baca juga mengenai: Enteritis pada Hewan

Berdasarkan lama kejadiannya, otitis dibedakan menjadi otitis akut dan otitis kronis. Otitis akut diawali dengan erytema dan edema. Pada batas kulit di saluran telinga, ada terasa panas dan sakit dan hewan menggoyangkan kepala dan mengaruk telinga yang terkena otitis dan memiringkan kepalanya sehingga telinga yang terkena otitis menjadi terkulai (lebih turun). Otitis akan menyebabkan peningkatkan serumen pada kulit dan pus. Pada otitis subkut, vesikula putih dan fistula kemudian berkembang dimana akan ruptur dan ulcerasi. Membran tympani menebal dan berbentuk opak, namun kadang-kadang dapat terkikis atau erosi oleh eksudat inflamasi kemudian infeksi menyebar ke bagian telinga dalam sehingga menimbulkan akibat yang serius. Otitis kronis terjadi sebagai hasil dari inflamasi yang persisten dan merupakan lanjutan dari sindrom yang terlihat pada awal masa akut. Ada hiperplasi epidermal pada garis atau batasan kanal eksternus, terjadi peningkatan aktifitas kelenjar serumen dan penutupan meatus eksternus. Bentuk khusus dari penyakit ini sering disebut otitis seruminal yang merupakan akibat dari infeksi  sekuder akibat adanya seborea pada telinga anjing.

Faktor predisposisi dari otitis ekterna diantaranya adalah breed predilection, faktor lingkungan (temperature, kebasahan, kelembaban) dan umur anjing.

1. Breed predilection

Anjing dengan telinga berat dan terkulai seperti coocker spaniel memiliki masalah telinga akibat kebasahan (moisture) pada telinga

2. Faktor cuaca dan iklim

Peningkatan suhu lingkungan akan meningkatkan kasus otitis eksterna.

3. Umur

Insiden tinggi akan infeksi telinga terjadi pada umur 5-8 tahun. Ada juga korespondensi antara peningkatan kejadian dengan insiden anjing yang menderita hipotiroidismus (kondisi normal yang diasosiasikan dengan perubahan kulit) dan beberapa tahun setelah atropi ( contohnya alergi kulit yang menyebabkan kulit inflamasi) mulai terjadi di anjing.

 

Gejala dari otitis

Secara umum, gejala klinis otitis adalah hewan sering kali menggoyang/ menggeleng-gelengkan kepala, mencakar-cakar telinga atau menggosok-gosokkan telinga/kepala pada dinding, atau atau benda lain. Dari dalam telinga bisa saja muncul cairan kotor dan kadang-kadang disertai bau tidak sedap. Selain dari gejala klinis, metoda yang paling sering dan mudah digunakan adalah memeriksa telinga dengan menggunakan alat yang disebut otoskop. Dengan alat ini dokter hewan dapat melihat keadaan telinga  bagian luar dan tengah termasuk saluran telinga. Tes lain bisa saja dilakukan dengan cara mengambil kotoran yang terdapat di dalam telinga, kemudian diperiksa menggunakan mikroskop. Dari kotoran tersebut di diketahui kondisi dan penyebab radang telinga. Dengan diagnosa penyakit yang tepat, pembersihan telinga secara rutin dan pengobatan yang tepat dan segera, dalam waktu 2 minggu sebagian besar kasus infeksi telinga dapat sembuh dan kembali seperti semula (fausta).

Baca juga mengenai: Indigesti pada Sapi

 

 

Sumber:

Bell, M. 2009. Otitis Externa Part 1 (Inflammation of the external ear). http://www.dogsvictoria.org.au/assets/dr%20bell%20articles/otitis%20externa%20part%201.pdf [29 Oktober 2009].

Center for Food Security and Public Health. 2005. Acariasis. www.cfsph.iastate.edu.com [1 November 2009].

Foster and Smith. 2009. Ear Infections (Otitis Externa) and Ear Cleaning in Dog. http://www.peteducation.com/article [29 Oktober 2009].

Office des International Epizootic. 2008. OIE Terresterial Manual. http://www.oie.int/eng/normes/mmanual/2008/pdf/2.09.08_MANGE.pdf [1 November 2009].

Kozak FK. 2009. Acute Otitis Externa. Columbia: Parkhust Exchange.

Nash H. 2009. Ear Infection (Otitis Externa) in Cats. www.peteducation.com [29 Oktober 2009].

Sara L. Beers, MD, and Thomas J. Abramo, MDY. 2004. Otitis Externa Review.  Pediatric Emergency Care  20: 4.

Tilley L.P. and Smith. 1997. The Fife Minute Veterinary Consult. Baltimore: William and Wilkins.

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Pododermatitis pada Sapi

Pododermatitis adalah peradangan dan infeksi pada jaringan di antara kuku, sekitar daerah coronaria dan di ...

error: Content is protected !!