Home » Info & Tips » Penyakit-Penyakit Kausa Virus pada Sapi yang Harus Diwaspadai

Penyakit-Penyakit Kausa Virus pada Sapi yang Harus Diwaspadai

Artikel sebelumnya telah dibahas mengenai penyakit-penyakit kausa bakteri pada sapi, pada artikel berikut ini kita akan membahas mengenai penyakit-penyakit kausa virus pada sapi yang harus diwaspadai. Banyak penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus yang berakibat fatal dan mematikan pada sapi. Biasanya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus dapat berlangsung cepat, sangat mudah menular, sulit untuk diobati dan dapat mengakibatkan kematian yang tinggi pada sapi. Selain itu, banyak penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus pada sapi yang belum ada pengobatannya serta vaksinasi juga belum tersedia sehingga tindakan pencegahan dan pengendalian penting untuk dilakukan. Penjelasan dari masing-masing penyakit kausa virus pada sapi dapat dilihat di bawah ini.

1. Malignant catarrhal fever (MCF) (penyakit ingusan)

a. Agen penyebab

Malignant catarrhal fever (MCF) merupakan penyakit serius dan fatal yang menyerang hewan ruminansia seperti sapi, banteng, kerbau, babi dan rusa serta spesies lainnya dari Artiodactyla (hewan berkuku genap). Telah terbukti bahwa penyakit MCF dibawa oleh domba dan rusa kutub. Sapi Bali sangat peka terhadap infeksi dari virus MCF. Biasanya domba dianggap sebagai sumber infeksi dari penyakit MCF pada Sapi bali di Indonesia. Penyakit MCF merupakan penyakit yang umum menyerang sapi di Indonesia.

MCF disebabkan oleh herpesvirus yaitu alcelaphine herpesvirus-1 (AIHV-1) atau ovine herpesvirus-2 (OvHV-2) dari genus Macavirus dan famili Herpesviridae serta subfamili Gammaherpesvirinae. Virus ini tahan pada suhu 50 °C sampai -60 °C, pada pembekuan kering dapat bertahan selama 1 minggu, di dalam gliserin 50% tahan sampai 7 hari, tetapi labil pada proses pembekuan cair. Virus ini lebih tahan lama di dalam sel daripada di luar sel dan penyakitnya bersifat sporadis.

b. Cara penularan

Penularan penyakit ini pada sapi dapat terjadi melalui kontak dengan sekresi atau eksudat pada hidung dan mata hewan pembawa penyakit (domba, kambing dan rusa). Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui pakan (rumput), minuman serta peralatan yang tercemar virus ini. Kontaminasi padang rumput oleh hewan pembawa penyakit dapat menjadi sumber penularan bagi ternak lainnya yang digembalakan di padang rumput tersebut. Pekerja yang tangan atau pakaiannya tercemar dengan virus ini juga dapat memfasilitasi penularan MCF pada ternak. Penyakit ini juga dapat ditularkan secara udara melalui kontak dekat dengan hewan pembawa penyakit. Penularan antara sapi yang satu dengan yang lainnya tidak dapat terjadi tetapi sumber penularan yang utama yaitu dari domba dan kambing. Beberapa ahli berpendapat bahwa penularan penyakit MCF secara kongenital juga dapat terjadi sehingga dapat menginfeksi sapi yang baru lahir.

Domba dapat terinfeksi MCF setelah lahir. Infeksi terjadi sejak kelahiran sampai umur 4 bulan dan kebanyakan domba terinfeksi pada umur 4 bulan atau lebih awal. Penularan melalui plasenta dapat terjadi namun jarang. Domba yang baru melahirkan dapat menjadi sumber penularan dari penyakit ini. Peternakan sapi yang berdekatan dengan peternakan domba dapat menjadi faktor resiko terhadap penularan penyakit ini.

c. Gejala klinis

Biasanya infeksi MCF pada domba tidak menimbulkan gejala klinis, sedangkan pada sapi dan hewan Artiodactyla lainnya gejala klinis yang muncul berlangsung cepat dan terjadi secara tiba-tiba. Penyakit MCF dapat bersifat akut sampai kronis. Pada kasus akut, gejala klinis yang muncul tidak khas. Biasanya gejala yang muncul berupa demam, gangguan pernafasan, radang gastrointestinal disertai perdarahan, diare dan disentri serta kematian akan terjadi dalam 12 – 24 jam.

Secara umum, gejala klinis yang muncul berupa demam tinggi, keluarnya air mata (lakrimasi) yang berlebihan dan eksudat pada hidung yang dapat berkembang menjadi mukopurulen. Pada hewan yang sedang laktasi, akan menghasilkan penurunan produksi susu. Kedua kornea mata menjadi keruh dan terjadi ulserasi di bagian mata. Mulut bagian luar merah dan terjadi keropeng nekrotik. Selaput lendir mulut mengalami hiperemi yang diikuti dengan nekrosis yang meluas serta terjadi erosi pada lidah, palatum durum dan gusi. Kadang terdapat laminitis dan nekrosis pada kulit sekitar tanduk. Diare juga dapat terjadi dan kadang-kadang juga terjadi hematuria (urin berdarah). Pada vulva terjadi pembengkakan, pengelupasan kulit ambing dan papulae pada daerah ketiak dan selakangan. Gejala saraf juga dapat terjadi berupa hyperesthesia (peningkatan kepekaan terhadap semua stimulus), inkoordinasi dan nystagmus (gerakan pada mata yang tidak terkontrol). Biasanya sebelum kematian terjadi gejala kekejangan dan koma. Proses persembuhan dari penyakit ini berlangsung sangat lama serta biasanya diikuti dengan kebutaan.

Gejala klinis Malignant catarrhal feverGambar 1 Gejala klinis Malignant catarrhal fever. (A) eksudat pada hidung sapi, (B) kornea mata menjadi keruh

d. Pengobatan

Sampai saat ini tidak ada pengobatan yang efektif dalam menyembuhkan penyakit MCF. Agen penyebab penyakit MCF adalah virus sehingga pemberian antibiotik tidak efektif dan obat antivirus untuk penyakit ini juga tidak tersedia. Pengobatan biasanya hanya bersifat suportif dan hanya untuk mengurangi keparahan penyakit yaitu dengan pemberian antibiotik sulfonamid untuk mencegah infeksi sekunder, pemberian kortikosteroid dan pemberian terapi cairan (infus). Meskipun demikian, angka kematian dari penyakit MCF dapat mencapai 100%. Pencegahan merupakan kunci utama agar ternak sapi terhindar dari penyakit ini.

e. Pencegahan dan pengendalian

Tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit MCF adalah sebagai berikut:

  • Sumber penularan utama dari penyakit ini yaitu domba, kambing dan rusa sehingga pencegahan yang dilakukan yaitu jangan menggabungkan sapi terutama sapi bali dengan domba, kambing dan rusa dalam satu kawasan.
  • Jarak antara peternakan domba atau kambing harus lebih dari 1 km dari peternakan sapi.
  • Jangan mengembalakan sapi di padang rumput dimana domba, kambing dan rusa juga terdapat di sana terutama ketika mereka melahirkan.
  • Hindari pakan sapi, minuman dan peralatan lainnya dari kontaminasi ekskreta domba, kambing dan rusa yang terinfeksi MCF.
  • Sampai saat ini belum tersedia vaksin yang dapat mencegah penyakit ini.

 

2. Penyakit Jembrana

a. Agen penyebab

Penyakit Jembrana merupakan penyakit infeksi akut terutama pada sapi Bali. Selain sapi Bali, penyakit ini juga menyerang sapi Ongole, Holstein, Madura dan sapi Rambon (persilangan antara sapi Bali dan Ongol). Penyakit Jembrana telah dilaporkan terjadi di beberapa provinsi di Indonesia diantaranya Bali, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Morbiditas dan mortalitas (tingkat kematian) dari penyakit Jembrana cukup tinggi. Tingkat kematian penyakit ini pada sapi Bali dapat mencapai 17%, morbiditasnya 60% serta dapat juga mengancam produktivitas dari sapi Bali seperti sebagai sapi potong yang diambil dagingnya dan sebagai sapi pekerja.

Penyakit Jembrana disebabkan oleh Bovine lentivirus dari famili Retroviridae dan subfamili Lentivirinae. Penemuan tentang virus penyebab jembrana ini menarik perhatian dunia dikarenakan virus penyebab penyakit ini satu kelompok dengan virus HIV penyebab AIDS pada manusia, yaitu virus dari keluarga Retroviridae, sub-keluarga Lentivirinae. Telah dibuktikan bahwa virus Jembrana merupakan virus yang menyebabkan imunodefisiensi khususnya pada sapi Bali.

b. Cara penularan

Cara penularan penyakit Jembrana masih belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli berpendapat bahwa penularan penyakit Jembrana dapat terjadi secara mekanis melalui gigitan lalat penghisap darah seperti Tabanus rubidus atau dengan perantara jarum suntik. Selain itu, penyakit jembrana dapat ditularkan melalui kontak dekat dengan hewan terinfeksi selama fase akut. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa virus Jembrana dapat ditemukan di air liur, susu dan urin. Berdasarkan hal tersebut, penyakit Jembrana dapat memungkinkan untuk ditularkan melalui ekskreta dari hewan yang terinfeksi. Selama tahap demam (febril) penyakit ini dapat ditularkan melalui rute oral, intranasal dan konjungtiva.

c. Gejala klinis

Hewan yang terserang penyakit Jembrana menunjukkan gejala klinis berupa peningkatan suhu tubuh yang tinggi berkisar antara 40 – 42 °C, disertai dengan kelesuan dan kehilangan nafsu makan. Gejala tersebut disusul dengan pengeluaran sekresi atau eksudat yang berlebihan pada hidung, lakrimasi dan hipersalivasi. Pada awalnya eksudat hidung bersifat encer dan bening, kemudian lambat laun eksudat tersebut berubah menjadi kental. Gejala selanjutnya adalah pembengkakan dan pembesaran kelenjar limfe superfisial (prescapularis, prefemoralis, parotidea). Selain itu juga terjadi perdarahan dan erosi di bagian selaput lendir di sekitar lubang hidung, bagian dorsal lidah dan rongga mulut.

Gejala yang mencolok pada hewan yang menderita penyakit Jembrana adalah berkeringat darah. Keadaan ini biasanya terlihat sewaktu-waktu dan setelah demam serta berlangsung selama 2-3 hari. Sekitar 7% dari hewan yang mengalami peningkatan suhu tubuh mencapai 41 °C menunjukkan gejala tersebut. Gejala ini terutama ditemukan di daerah panggul, punggung, perut dan skrotum. Keringat biasanya encer seperti air dan berwarna merah seperti darah apabila masih segar dan menetes dari permukaan kulit melalui sepanjang bulu rambut. Apabila keringat menempel pada batang rambut akan membentuk kerak berbintil-bintil dan tidak lepas bila diusap dengan tangan. Sapi betina bunting yang menderita penyakit ini sering mengalami keguguran, terutama pada trisemester awal atau pada usia 4 bulan kebuntingan. Hewan yang terserang penyakit ini biasanya berumur lebih dari 1 tahun.
Pada kejadian yang bersifat akut terutama pada wabah pertama, kematian dapat terjadi tiba-tiba. Kematian biasanya terjadi dalam waktu singkat dan biasanya disebabkan oleh infeksi sekunder seperti pneumonia. Kadang-kadang penyakit Jembrana dapat sembuh secara spontan.

Gejala klinis penyakit JembranaGambar 2 Gejala klinis penyakit Jembrana yang ditandai dengan terjadinya keringat darah

d. Pengobatan

Sampai saat ini tidak ada pengobatan yang efektif untuk membunuh virus Jembrana. Pengobatan biasanya hanya bersifat suportif dan hanya untuk mengurangi keparahan penyakit yaitu dengan pemberian antibiotik yang berspektrum luas untuk mencegah infeksi sekunder dan pemberian terapi cairan (infus cairan elektrolit). Sebagian besar hewan yang terserang dapat mengalami kesembuhan secara klinis 5 minggu setelah infeksi, tetapi hewan yang sembuh dari penyakit Jembrana akan tetap membawa virus secara persisten sedikitnya 25 bulan dan tidak menunjukkan gejala klinis.

e. Pencegahan dan pengendalian

Tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit Jembrana yaitu sebagai berikut:

  • Lakukan vaksinasi hewan yang berisiko. Saat ini sudah tersedia vaksin untuk penyakit Jembrana yaitu dari plasma hewan yang diinfeksi secara buatan dan dapat juga dengan vaksin inaktif yang berasal dari homogenisasi jaringan limpa sapi yang terinfeksi virus Jembrana. Vaksinasi dapat dilakukan sebanyak dua kali setahun dan untuk vaksin kedua (booster) diberikan 1 bulan sejak vaksin pertama.
  • Pemberantasan vektor terutama lalat dengan insektisida agar jumlah vektor sebagai sumber penular penyakit dapat dikendalikan.
  • Segera lakukan isolasi (pemisahan) pada hewan yang terserang penyakit Jembrana agar tidak menularkan ke hewan lainnya.
  • Segera lakukan pemusnahan hewan yang mati akibat penyakit Jembrana dengan mengubur atau membakar.
  • Penutupan daerah yang tertular serta mengontrol dan mengawasi secara ketat pergerakan dan transportasi hewan di daerah yang tertular untuk mencegah bertambahnya daerah tertular baru. Selain itu, tindakan karantina hewan juga perlu dilakukan.

 

3. Bovine viral diarrhea (BVD)

a. Agen penyebab

Bovine viral diarrhea (BVD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus BVD dari genus Pestivirus dan famili Flaviviridae. BVD dapat menginfeksi sapi, domba serta spesies lainnya dari Artiodactyla . Virus ini merupakan RNA virus kecil yang memiliki amplop dan diklasifikasikan sebagai Pestivirus bersama dengan border disease virus, yang juga menginfeksi biri-biri serta classical swine fever (hog cholera). Terdapat dua spesies berbeda dari virus BVD yang telah ditemukan berdasarkan genotipenya yaitu: BVDV-1 dan BVDV-2. BVDV-1 terdistribusi diseluruh dunia dan memiliki beberapa subtipe (BVDV-1a, BVDV-1b dan 2a). BVDV-2 telah dilaporkan ditemukan di Eropa, walaupun sangat jarang ditemukan diluar Amerika Utara. BVDV-1 cenderung tidak menimbulkan penyakit yang parah, sedangkan BVDV-2 dapat menyebabkan wabah penyakit yang lebih parah dan menyebabkan diare haemorrhagic akut serta mengakibatkan kematian.

b. Cara penularan

Cara penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan sapi yang terinfeksi. Hewan dengan infeksi akut biasanya merupakan sumber infeksi dari virus BVD, sedangkan hewan yang terinfeksi persisten (karier) dapat menularkan jutaan virus setiap hari sehingga merupakan sumber konstan dari penularan virus BVD. Cara infeksi dapat melalui inhalasi, tertelan lewat mulut dari saliva hewan yang terinfeksi, cairan mata ataupun hidung, serta dapat juga melalui feses atau urine hewan yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan fetus yang abortus dan melalui udara dari droplet yang mengandung partikel virus yang tersebar di udara.

c. Gejala klinis

Gambaran penyakit BVD secara klinis bervariasi tergantung kepada virus BVD yang menginfeksi. Keadaan ini terjadi mungkin sama pada tiap peternakan atau terjadi hanya sebagian saja yang terlihat. Ragam kejadiannya dimulai dari infeksi non klinis yang tidak terlihat atau kejadian demam yang ringan (sering disangka sebagai gangguan respirasi) hingga kepada kejadian yang akut dan fatal. Selain itu, infeksi kronis dapat juga terjadi. Gejala klinis dari penyakit BVD dapat dibedakan berdasarkan infeksinya yaitu:

• Infeksi akut (transien)
Infeksi akut hanya berlangsung dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Gejala klinis yang terlihat berupa demam, diare mulai dari yang ringan sampai berat berupa diare bercampur darah dan lendir, penyakit pernapasan, leleran fibrous dari hidung, leleran dari mulut, masalah reproduksi dan banyak lagi. Hal ini tergantung pada usia dan status kekebalan tubuh hewan yang terinfeksi serta strain BVDV yang menginfeksi. Beberapa hewan tidak menunjukkan gejala klinis (penyakit subklinis), tetapi memberi efek imunosupresif sehingga virus melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan rentan terhadap penyakit lain. Sebagian besar hewan pulih dalam beberapa minggu, tetapi beberapa hewan akan mati.

• Infeksi janin
Sebagian besar infeksi akut pada sapi BVDV bersifat subklinis, tetapi apabila sapi bunting terinfeksi virus ini dapat juga menyebabkan infeksi pada fetus (janin). Infeksi janin dapat terjadi setiap saat janin terkena virus BVD, tetapi hasilnya bervariasi tergantung pada strain virus dan usia kebuntingan. Aborsi juga dapat terjadi selama kebuntingan, namun kelahiran cacat dan infeksi persisten terjadi selama spesifik periode kebuntingan. Infeksi selama musim kawin bisa mengakibatkan infertilitas atau kematian embrio dini. Infeksi pada trimester pertama kebuntingan dapat mengakibatkan aborsi atau infeksi persisten pada pedet. Infeksi pada trimester kedua kebuntingan dapat mengakibatkan aborsi, cacat lahir, bayi lahir mati, atau kelemahan pada sapi, tetapi tidak menyebabkan infeksi persisten pada pedet.

• Infeksi persisten
Infeksi persisten pada pedet terjadi ketika fetus terinfeksi virus BVD selama trimester pertama kebuntingan. Pada masa tersebut sistem kekebalan janin belum cukup berkembang untuk merespon infeksi virus BVD. Fetus kemungkinan aborsi tetapi jika fetus bertahan kemungkinan akan berkembang menjadi infeksi persisten pada pedet. Beberapa pedet yang terinfeksi persisten akan mengalami gangguan pertumbuhan, sementara yang lain mungkin terlihat sehat dan tumbuh sangat baik, sehingga tidak mungkin mendeteksi hewan infeksi persisten secara visual. Sebagian besar hewan infeksi persisten mati pada umur 2 tahun, tetapi beberapa akan bertahan beberapa tahun dan berperan sebagai karier virus BVD sepanjang hidupnya dan akan menjadi ancaman bagi kesehatan ternak lainnya.

Gejala klinis BVD

Gambar 3 Gejala klinis Bovine viral diarrhea pada sapi


d. Pengobatan

Pengobatan yang dapat dilakukan hanya bersifat supportif saja karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Pencegahan dan pengendalian merupakan hal penting yang harus dilaksanakan.

e. Pencegahan dan pengendalian

Pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:

  • Vaksinasi hewan yang berisiko. Hewan yang telah divaksinasi tetap diberikan booster vaksin tunggal setiap tahun.
  • Penerapan biosekuriti yang baik di peternakan agar virus tidak terbawa ke peternakan.
  • Sanitasi dengan melakukan desinfeksi kandang secara rutin dan dikombinasikan dengan sistem all in all out.
  • Lakukan isolasi hewan baru selama 30 hari sebelum kontak dengan hewan di dalam peternakan.
  • Jika ada hewan yang terinfeksi segera lakukan tindakan isolasi (pengasingan).
  • Pedet yang baru lahir diberi kolostrum secara maksimal.
  • Pengujian hewan baru untuk infeksi persisten.
  • Melakukan pengujian dengan pemeriksaan darah pada semua kelahiran pedet sekitar 3 bulan setelah terlihat hewan pertama yang sakit BVD. Dan terus melakukan pengujian sampai 9 bulan setelah terlihat hewan terakhir yang sakit karena BVD.
  • Kurangi stress pada sapi yang bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit lain, kekurangan nutrisi, ketidaknyamanan kandang dan kualitas air yang jelek.
  • Pengguguran hewan setelah terinfeksi BVD.

 

 

 

Sumber:

Baker, J. 1995. The Clinical Manifestation of Bovine Viral Diarrhea Infection. Vet Clin North Am Food Anim Pract. 13(3):425-54.

[CFSPH] The Center for Food Security and Public Health. 2009. Malignant Catarrhal Fever. Iowa: Iowa State University.

[FAO] Food and Agriculture Organisation. 2014. Specific Diseases of Cattle. http://www.fao.org/docrep/003/t0756e/t0756e03.htm [26 Mei 2014].

Hilmiati N, Muzani A. Jembrana Disease: a Review. Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Strategis pada Ternak Ruminansia Besar. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB.

[OIE] Office International et Epizootics. 2013. Malignant Catarrhal Fever. OIE. Chapter 2.4.15.

Sudarisman. 2011. Bovine Viral Diarrhea pada Sapi di Indonesia dan Permasalahannya. Wartazoa 21(1): 18-24.

Supriyadi A, Hadi S, Karyati D, Hartanto T, Utami SW et al. 2011. Studi Retrospektif Terhadap Vaksinasi Penyakit Jembrana di Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Dilavet 21 (1): 12-20.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...