Home » Info & Tips » Penyakit-Penyakit Kausa Bakteri pada Sapi yang Harus Diwaspadai

Penyakit-Penyakit Kausa Bakteri pada Sapi yang Harus Diwaspadai

Sapi merupakan hewan ruminansia yang banyak diternakkan dan diambil dagingnya sebagai sumber protein hewani. Selain itu, sapi perah juga dapat diambil susunya untuk dikonsumsi masyarakat. Tingginya permintaan terutama terhadap daging membuat masyarakat banyak mengembangkan peternakan sapi baik dalam skala besar maupun skala kecil. Agar suatu peternakan sapi dapat memperoleh hasil yang optimal, peternak harus melakukan upaya penanganan kesehatan melalui pencegahan dan pengendalian penyakit pada sapi secara tepat. Sapi dapat dengan mudah terinfeksi penyakit apabila peternak tidak menerapkan manajeman kesehatan yang baik. Infeksi penyakit pada sapi tentunya dapat memberikan kerugian besar bagi peternak. Kerugian tersebut tidak hanya akibat dari banyaknya sapi yang mati tetapi juga banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk perawatan serta pengobatan terhadap sapi yang sakit. Terdapat beragam agen penyebab penyakit pada sapi salah satunya yaitu bakteri. Artikel berikut ini akan membahas mengenai penyakit-penyakit kausa bakteri pada sapi yang harus diwaspadai sehingga peternak dapat mengenali gejala dari setiap penyakit tersebut pada sapi serta dapat melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian sedini mungkin.

1. Anthrax (radang limpa)

a. Agen penyebab

Anthrax merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Bacillus anthracis yang termasuk ke dalam famili Bacillaceae. Penyakit ini dapat meninfeksi hewan terutama hewan herbivora dan juga manusia. B. anthracis merupakan bakteri Gram positif, berbentuk batang, aerobik, tidak motil, memiliki kapsul dan membentuk spora. Bentuk spora sangat tahan terhadap pengaruh lingkungan, sehingga setiap hewan mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan autopsi. Spora B. anthracis dapat dibentuk di tanah, jaringan atau binatang mati dan tidak terbentuk di jaringan serta darah binatang hidup. Spora ini dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering dan juga tahan dalam waktu yang lama pada bulu, debu, kapas, kulit, serbuk tulang, pakaian serta tahan terhadap suhu rendah. Spora anthrax juga tahan terhadap kondisi yang ektrim seperti panas, dingin, pH, kekeringan, iradiasi, bahan-bahan kimia dan beberapa desinfektan.

Bacillus anthracis bentuk vegetatif dan bentuk spora

Sumber: Fasanella et al. 2010

Gambar 1 Bacillus anthracis bentuk vegetatif (kiri) dan bentuk spora (kanan)

b. Cara penularan

Anthrax tidak menyebar langsung dari salah satu hewan terinfeksi ke hewan lain tetapi dapat masuk ke dalam tubuh karena spora anthrax tertelan pada saat digembalakan atau merumput serta dapat juga melalui air ataupun alat-alat kandang yang mengandung spora anthrax. Selain itu, hewan juga dapat terinfeksi anthrax melalui pernafasan dengan menghirup spora anthrax saat merumput. Bangkai hewan yang terinfeksi anthrax apabila tidak cepat dikubur akan menjadi sumber penyebaran spora anthrax ke lingkungan.

c. Gejala klinis

Anthrax pada hewan dapat ditemukan dalam bentuk perakut, akut, subakut sampai dengan kronis. Anthrax pada hewan ruminansia biasanya berbentuk perakut dan akut. Gejala penyakit pada bentuk perakut berupa demam tinggi (42 °C), gemetar, susah bernafas, kongesti mukosa, konvulsi, kolaps dan mati. Darah yang keluar dari lubang kumlah (anus, hidung, mulut atau vulva) berwarna gelap dan sukar membeku. Bentuk akut biasanya menunjukan gejala depresi, anoreksia, demam, nafas cepat, peningkatan denyut nadi, kongesti membran mukosa.

gejala anthrax
Gambar 2 Gejala klinis dari Anthrax yang ditandai dengan keluarnya darah di lubang kumlah yaitu salah satunya di hidung

d. Pengobatan

Hewan akan sembuh jika diobati secara dini dengan penisilin. Pengobatan terdiri dari pemberian sodium benzil penisilin secara intravena dengan dosis 12.000 – 17.000 unit/kg berat badan dan diikuti dengan pemberian amoksisilin intramuskular.

e. Pencegahan dan pengendalian

  • Vaksinasi hewan secara teratur khusus untuk pengendalian pada daerah endemis (daerah yang sering terjadi penyakit anthrax)
  • Diagnosa secara cepat, isolasi dan pengobatan dari hewan sakit. Hewan yang terinfeksi anthrax dapat sembuh jika cepat diobati.
  • Pembukaan (autopsi) bangkai hewan mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan.
  • Kelompok hewan yang terinfeksi harus segera diisolasi (dipisahkan) paling sedikit dua minggu setelah kasus terakhir dan hewan maupun produknya (daging, susu) dimusnahkan dan tidak boleh keluar dari daerah tersebut.
  • Hewan yang terinfeksi anthrax segera dimusnahkan dengan pembakaran suhu tinggi atau dengan mengubur bangkai tersebut sedalam 2 meter dan menaburinya dengan lapisan kapur aktif.

 

2. Septicaemia Epizootica (SE)/penyakit ngorok

a. Agen penyebab

Septicaemia Epizootica (SE) disebut juga dengan penyakit ngorok. Penyakit ini merupakan satu satu penyakit hewan menular strategis pada ruminansia besar yang ada di Indonesia. Penyakit SE dapat menyerang terutama sapi dan kerbau. Selain itu, penyakit ini juga dapat terjadi pada kambing, domba dan babi serta satwa liar seperti rusa, unta, gajah, kuda, keledai dan yaks. Penyakit SE dilaporkan terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia seperti Bengkulu, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Nusa Tenggara Timur. Tingkat kematian atau case fatality rate (CRF) penyakit ini tinggi apabila tidak ditangani dengan baik. CRF SE dapat mencapai 100%. Morbiditas dari kasus ini sangat tergantung dari kondisi imunitas hewan serta kondisi lingkungan.

Septicaemia Epizootica merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella multocida. Pasteurella multocida merupkan bakteri Gram negatif berbentuk coccobacillus yang berukuran sangat halus dan bersifat bipolar. Bakteri ini tidak membentuk spora, bersifat non motil dan mempunyai selubung. P. multocida rentan terhadap suhu panas rendah (550C) dan juga sangat rentan terhadap disinfektan. Septicaemia Epizootica yang terjadi di negara-negara Asia termasuk Indonesia umumnya disebabkan oleh P. multocida serotipe B:2, sedangkan untuk negara-negara di Afrika biasanya disebabkan oleh P. multocida serotipe E:2. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa terdapat serotipe tipe baru dari P. multocida yaitu serotipe B:6 dan E:6. Serotipe lainya dari P. multocida yang dihubungkan dengan Septicaemia Epizootica ialah serotipe A: 1 dan A: 3, serotipe ini dihubungkan dengan kematian dari sapi dan kerbau di india.

b. Cara penularan

Penyakit SE biasanya menyerang sapi umur 6 – 24 bulan dan sering terjadi pada musim hujan yang dingin. Sapi yang belum divaksinasi SE lebih banyak terinfeksi penyakit ini. Kondisi stress dalam pengangkutan merupakan penyebab utama terjadinya penyakit ini, sehingga penyakit ini disebut juga dengan shipping fever. Faktor-faktor predisposisi dari penyakit SE yaitu kelelahan, kedinginan, pengangkutan dan anemia.

Penularan SE pada hewan dapat terjadi terutama melalui kontak dengan ekskreta (leleran hidung, saliva, urin, feses) dari hewan yang terinfeksi SE. Ekskreta dari hewan yang terinfeksi dapat mencemari lingkungan disekitarnya seperti tanah atau ke media lain (pakan, minuman, peralatan lainnya) dan ini juga dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan. Eksktreta dari hewan yang terinfeksi mengandung sejumlah besar bakteri P. multocida. Apabila ekskreta jatuh ke tanah, maka bakteri P. multocida akan berkembang dan bertahan selama lebih dari 1 minggu terutama pada kondisi tanah yang lembab, hangat dan teduh serta dapat menulari hewan yang digembalakan di tempat tersebut. Ketika bakteri penyebab SE masuk ke dalam tubuh hewan, maka ia akan menyerang terutama saluran pernafasan hewan.

c. Gejala klinis

Secara umunya penyakit SE bersifat akut dan dapat menyebabkan kematian hewan dalam waktu singkat. Biasanya hewan mengalami peningkatan suhu tubuh, edema submandibular yang dapat menyebar ke daerah dada dan gejala pernafasan dengan suara ngorok atau keluarnya eksudat dari hidung dan kemudian hewan akan mengalami kelesuan atau kelemahan dan akhirnya mengalami kematian. Biasanya kerbau lebih peka terhadap penyakit SE dibandingkan dengan sapi. Lama atau jalanya penyakit sampai pada kematian pada kerbau lebih pendek dibandingkan dengan sapi, kisaran waktunya mulai kurang dari 24 jam dalam kejadian perakut sampai 2 – 5 hari. Gejala penyakit muncul setelah masa inkubasi 2 – 5 hari. Gambaran klinis menunjukkan adanya 3 fase. Fase pertama adalah kenaikan suhu tubuh, yang diikuti fase gangguan pernafasan dan diakhiri oleh fase terakhir yaitu kondisi hewan melemah dan hewan berbaring di lantai. Septikemia dalam banyak kasus merupakan tahap kejadian paling akhir. Berbagai fase penyakit di atas tidak selamanya terjadi secara berurutan dan sangat tergantung pada lamanya penyakit.
Penyakit SE terdiri atas tiga bentuk yaitu bentuk busung, pektoral dan intestinal. Gejala klinis dari ketiga betuk penyakit ini sebagai berikut:

• Penyakit SE bentuk busung
Penyakit SE bentuk busung menunjukkan adanya bentuk busung pada bagian kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelembir dan kadang-kadang pada kaki depan. Selain itu, kadang terjadi juga bentuk busung pada bagian dubur dan alat kelamin. Tingkat mortalitas penyakit pada bentuk ini cukup tinggi mencapai 90% dan berlangsung cepat sekitar tiga hari sampai satu minggu. Sebelum mati akan tampak gangguan pernafasan dan suara ngorok merintih serta suara gigi gemeretak.

• Penyakit SE bentuk pektoral
Gejala bronkhopneumonia lebih menonjol pada penyakit SE bentuk ini. Penyakit SE bentuk pektoral umumnya dimulai dengan adanya batuk kering dan nyeri yang diikuti oleh keluarnya eksudat dari hidung. Biasanya bentuk ini berlangsung antara satu sampai tiga minggu.

• Penyakit SE bentuk intestinal
Pada beberapa kasus, penyakit SE kadang-kadang dapat mencapai bentuk intestinal. Keadaan ini dicapai ketika penyakit sudah berjalan kronis. Hewan akan menjadi kurus, dengan gejala batuk yang terus menerus, nafsu makan terganggu serta terus menerus mengeluarkan air mata. Selain itu, sering juga terjadi mencret yang bercampur darah.

gejala SE
Gambar 3 Gejala klinis Septicaemia Epizootica yang ditandai dengan keluarnya eksudat dari hidung


d. Pengobatan

Pengobatan terhadap penyakit SE dapat dilakukan dengan seroterapi dengan serum kebal homolog dengan dosis 100 – 150 ml untuk ternak besar dan 50 – 100 untuk ternak kecil. Antiserum homolog diberikan secara intravena (IV) atau subkutan (SC). Sedangkan antiserum heterolog diberikan secara SC. Penyuntikan dengan antiserum ini dapat memberikan kekebalan selama 2 sampai 3 minggu dan hanya baik serta efektif apabila dilakukan pada stadium awal penyakit. Sebaiknya pemberian seroterapi dikombinasikan dengan pemberian antibiotika atau kemoterapetika. Apabila antiserum tidak tersedia, pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian preparat antibiotika seperti Oxytetracycline dengan dosis 50 mg/10 kg BB, Streptomycin dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB dan Sulphadimidine (Sulphamezathine) dengan dosis 2 gram/30 kg BB.


e. Pencegahan dan pengendalian

Tindakan pencegahan dan penegndalian terhadap penyakit SE dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Apabila ada ada hewan yang terserang penyakit SE segera di isolasi (dipisahkan dari hewan lainnya) serta segera diberikan pengobatan dengan penyuntikan antiserum
  • Daerah yang bebas SE, tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan peraturan ketat terhadap pemasukan hewan ke daerah tersebut
  • Daerah tertular SE, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu vaksinasi hewan dengan vaksin oil adjuvan sedikitnya setahun sekali dengan dosis 3 ml secara intra muskular. Pemberian antiserum juga dapat dilakukan dengan menggunakan dosis pencegahan yaitu untuk ternak besar dosisnya 20 – 30 ml dan ternak kecil 10 – 20 ml. Antiserum heterolog disuntikkan secara subkutan (SC) dan antiserum homolog disuntikkan secara intravena (IV) atau SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul penyakit dapat disusul dengan vaksinasi.

 

3. Brucellosis

a. Agen penyebab

Brucellosis merupakan penyakit hewan menular yang dapat menginfeksi sapi, kambing, domba, babi dan ternak lainnya serta dapat juga menginfeksi manusia. Brucellosis telah menjadi problem nasional baik untuk kesehatan masyarakat maupun persoalan ekonomi peternak.

Brucellosis disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella dan famili Brucellaceae. Brucellosis pada sapi disebabkan oleh bakteri Brucella abortus. Selain Brucella abortus, terdapat beberapa spesies lainnya dari Brucella yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia diantaranya yaitu: Brucella suis pada babi, Brucella canis pada anjing, Brucella ovis pada domba jantan dan Brucella melitensis pada kambing dan domba. Brucella sp. merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang halus (kokobasil) dengan panjang 0,6- 1,5 mikron dan lebar 0,5-0,7 mikron.

Brucella sp
. tidak tahan terhadap pemanasan dan desinfektan. Sifat ini penting diketahui dalam hubungannya dengan upaya penanggulangannya, yakni dengan memutus siklus penularannya. Bakteri ini apabila terdapat di dalam tubuh inang bersifat fakultatif intraseluler (dapat tumbuh di dalam sel) sehingga sulit untuk difagosit oleh sel-sel makrofag.


b. Cara penularan

Sapi dapat tertular brucellosis dengan rute oral (saluran pencernaan) melalui air atau pakan yang tercemar oleh selaput fetus atau cairan yang keluar dari rahim hewan penderita infeksi. Sapi yang mengalami abortus (keguguran) akibat penyakit brucellosis akan mengeluarkan bakteri Brucella abortus dalam jumlah besar melalui membran fetus, cairan reproduksi, urin dan feses. Bahan-bahan tersebut akan mencemari lingkungan sekitarnya seperti rumput atau air minum. Sebuah studi telah membuktikan bahwa penularan brucellosis pada sapi dapat juga terjadi melalui selaput lendir konjungtiva, goresan pada kulit atau dengan inseminasi yang semennya tercemar oleh bakteri Brucella abortus. Brucellosis juga dapat menular melalui susu induk yang menderita brucellosis kepada pedet, namun kejadian ini jarang terjadi. Manusia juga dapat tertular brucellosis setelah minum susu sapi atau kambing yang terinfeksi brucellosis tanpa dipasteurisasi terlebih dahulu. Penularan melalui selaput lendir atau kulit yang luka, misalnya kontak langsung dengan fetus yang abortus atau plasenta dari sapi penderita brucellosis dapat juga menyebabkan penularan brucellosis pada manusia.

Bakteri Brucella abortus yang masuk ke dalam tubuh sapi akan menyebar dan menetap pada organ tubuh melalui pembuluh darah dan limfe. Bakteri ini akan berkumpul terutama di dalam saluran reproduksi yaitu di plasenta dan endometrium sapi yang sedang bunting.


c. Gejala klinis

Gejala klinis yang utama dari brucellosis pada sapi adalah abortus pada umur kebuntingan 6 – 7 bulan ke atas. Abortus sendiri terjadi karena rapuhnya pertautan plasenta fetalis dengan plasenta maternalis sehingga terpisah sebagai akibat bersarangnya bakteri Brucella abortus di tempat itu. Selaput fetus yang yang diaborsikan terlihat oedema, hemoragi, nekrotik dan adanya eksudat kental serta adanya retensi plasenta, metritis dan keluar kotoran dari vagina. Brucellosis juga menyebabkan perubahan pada ambing. Lebih dari separo dari sapi-sapi dengan titer aglutinasinya tinggi menunjukkan presentasi yang tinggi di dalam ambingnya. Setelah sapi mengalami abortus 2 – 3 kali biasanya infeksi menjadi menetap atau kronis, tidak memperlihatkan tanda-tanda klinik dan sapi yang bersangkutan dapat kembali bunting normal. Akan tetapi, sapi-sapi tersebut tubuhnya terus menerus mengeluarkan bakteri Brucella abortus yang bersifat patogen dan akan menjadi sumber infeksi bagi sapi lain maupun bagi manusia (dikenal dengan sapi karier). Sapi yang terinfeksi secara kronis dapat menunjukkan gejala higroma (pembesaran kantong persendian karena berisi cairan bening atau fibrinopurulen). Pembesaran kantong persendian karpus dan tarsus cukup mencolok sehingga dapat dilihat dari jauh. Gejala klinis brucellosis pada sapi jantan adalah radang pada epididimis, radang testis (orchitis) dan pembengkakan pada persendian lutut.

gejala brucellosis
Gambar 4 Gejala klinis brucellosis. (A) higroma pada sapi akibat brucellosis, (B) abortus pada sapi

d. Pengobatan

Pengobatan brucellosis dengan antibiotik biasanya tidak efektif dan tidak memberikan hasil yang memuaskan karena bakteri ini bersifat fakultatif intraseluler. Akan tetapi dalam kondisi laboratorium dapat diatasi dengan pemberian rifampicin maupun tetracyclin. Tindakan pencegahan dan pengendalian merupakan yang paling penting.

e. Pencegahan dan pengendalian

Pencegahan dan pengendalian terhadap brucellosis yaitu sebagai berikut:

  • Tindakan higiene dan sanitasi di peternakan terutama pada tatalaksana makanan dan perkandangan.
  • Melakukan vaksinasi hewan pada daerah dengan prevalensi brucellosis mencapai 2% atau lebih. Vaksin yang digunakan yaitu vaksin aktif Brucella abortus strain 19.
  • Pada daerah dengan prevalensi brucellosis kurang dari 2% dilakukan tindakan pengujian dan apabila ada yang positif dilakukan pemotongan (test and slaughter).
  • Sisa-sisa abortusan yang bersifat infeksius dihapushamakan. Fetus yang abortus dan plasenta harus dibakar atau dikubur. Vagina sapi yang mengalami abortus harus diirigasi selama 1 minggu. Tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan larutan kresol 4% atau desinfektan sejenis seperti phenol, amonium kwarterner, biocid dan lisol.
  • Hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita brucellosis.
  • Pedet (anak sapi) yang lahir dari induk yang menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis.
  • Kandang bekas sapi yang menderita brucellosis dan peralatannya harus dicuci dan dihapushamakan serta ternak pengganti jangan segera dimasukkan.
  • Dalam hal pemasukan sapi antar daerah, pengawasan lalu lintas ternak dan fungsi karantina harus dilaksanakan dengan seksama. Sapi yang menderita brucellosis tidak boleh dimasukkan ke dalam daerah yang masih bebas brucellosis.

Sumber:

Acha PN, Szyfres B. 2001. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. Edisi ke-3. Volume I. USA : Pan American Health Organization.

Direktorat Kesehatan Hewan. 1977. Septicaemia Epizootica (SE). Dalam Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Lokakarya Penyusunan Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Bogor. Hal 37-48.

[FAO] Food and Agriculture Organisation. 2014. Specific Diseases of Cattle. http://www.fao.org/docrep/003/t0756e/t0756e03.htm [26 Mei 2014].

Fasanella A, Galante D, Garofolo G, Jones MH. 2010. Anthrax undervalued zoonosis. Veterinary Microbiology 140 : 318–331.

Natalia L, Priadi A. 2006. Penyakit Septicaemia Epizootica: Penelitian dan Usaha Pengendalianya pada Sapi dan Kerbau di Indonesia. Dalam: Puslitbang Peternakan. Prosiding Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. 12 juli 2006. Hal 53-67.

[OIE] Office International et Epizootics. 2000. Anthrax. In : Manual of Standar Diagnostic and Vaccines. World Health Organization.

[OIE] Office International et Epizootics. 2009. Haemorragic Septicaemia. http://www.oie.int/animal-health-in-the-world/technical-disease-cards/ [25 Mei 2014].

Setiawan ED. 1991. Brucellosis pada Sapi. Wartazoa 2(1): 22-25.

Soeharsono 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

WHO, FAO, OIE 2008. Anthrax in Humans and Animals. Ed ke-4. France : WHO Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Apa Itu Leptospirosis dan Bahayanya Terhadap Hewan

Apa itu Leptospirosis dan agen penyebabnya? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ...