Home » Kesmavet » Pengobatan dan Pencegahan Terhadap Infeksi Pseudomonas aeruginosa

Pengobatan dan Pencegahan Terhadap Infeksi Pseudomonas aeruginosa

 

gejala klinis p.aeriginosa

Pseudomonas aeruginosa merupakan flora normal pada tubuh dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Oleh sebab itu, upaya untuk mencegah dari infeksi Pseudomonas aeruginosa yaitu dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Apabila pasien telah terinfeksi Pseudomonas aeruginosa, maka diperlukan pengobatan secara tepat. Artikel berikut ini akan membahas mengenai pengobatan dan pencegahan terhadap infeksi Pseudomonas aeruginosa.

 

Pengobatan

Pseudomonas aeruginosa meningkat secara klinik karena resisten terhadap berbagai antimikroba dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan tingkat Multi Drug Resistance (MDR) yang tinggi. Definisi dari MDR-PA (Multi Drug Resistance- Pseudomonas aeruginosa) adalah resisten P. aeruginosa terhadap beberapa antimikroba diantaranya kelas β-laktam, carbapenem, aminoglikosida dan fluoroquinon.

Infeksi yang telah terbentuk sulit untuk diobati karena Pseudomonas aeruginosa sering resisten terhadap antimikrobial. Pseudomonas aeruginosa tidak boleh diobati dengan terapi obat tunggal karena tingkat keberhasilan rendah dan bakteri dengan cepat menjadi resisten. Pengobatan Pseudomonas aeruginosa dilakukan secara kombinasi seperti penisillin anti-Pseudomonas (tikarsilin atau piperasilin) dan aminoglikosida. Obat lainnya yang bekerja aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa diantaranya aztreonam, imipenem, kuinolon yang terbaru termasuk ciprofloxacin dan sefalosporin yang terbaru (ceftazidime dan cefoperazone). Ceftazidime digunakan dalam terapi primer infeksi Pseudomonas aeruginosa. Pola kepekaan bakteri ini bervariasi secara geografik, maka diperlukan tes kepekaan sebagai pedoman untuk pemilihan terapi antimikroba.

 

Pencegahan

Pseudomonas aeruginosa merupakan flora normal pada tubuh dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan tubuh normal. Oleh karena itu, upaya pencegahan yang paling baik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap tinggi. Menjaga jumlah netrofil tetap di atas 500/µl merupakan salah satu upaya untuk membatasi infeksi pada pasien dengan penurunan sistem imun. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara membersihkan kateter segera setelah dipakai, melakukan perawatan khusus pada pasien luka bakar dan pasien dengan sistem imun yang rendah.

Pencegahan kontaminasi terhadap kolam renang umum, dilakukan klorinasi terhadap air, menghindari lantai kolam renang yang kasar untuk mengurangi gesekan pada kulit dan membersihkan lantai kolam renang beserta saluran air menggunakan senyawa ammonium quaternium diikuti penggunaan ozone untuk memecah biofilm.

Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen nosokomial sehingga metode untuk mengendalikan infeksi ini mirip dengan metode untuk patogen nosokomial lainnya. Kemampuannya untuk tumbuh subur dalam lingkungan yang basah menuntut perhatian khusus pada bak cuci, bak air, pancuran, bak air panas dan daerah basah yang lain. Vaksin dari jenis yang tepat yang diberikan pada penderita dengan risiko tinggi akan memberikan perlindungan terhadap sepsis akibat Pseudomonas. Pengunaan vaksin telah digunakan secara ekperimental pada penderita leukimia, luka bakar, fibrosis kistik dan imunosupresi.

 

Sumber :

Fiorillo R, Zucker M, Sawyer D, Lin AN. 2001. The Pseudomonas Hot Foot Syndrome. Engl J Med 345: 335-338.

Gillespie SH and Hawkey PM. 2006. Principles and Practice of Clinical Bacteriology. Ed ke-2. England: John Wiley & Sons Ltd.

Levinson W and Jawetz E. 2003. Medical Microbiology and Immunology: Examination and Board Review. Ed ke-7. USA: McGraw-Hill Companies.

Melnick J and Adelberg’s. 2007. Medical Microbiology. Ed ke-24. New York: The McGraw-Hill Medical.

Strateva T and Daniel Y. 2009. Pseudomonas aeruginosa – A Phenomenon of Bacterial Resistance. Journal of Medical Microbiology 58: 1133–1148.

 

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Apa Itu Leptospirosis dan Bahayanya Terhadap Hewan

Apa itu Leptospirosis dan agen penyebabnya? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ...

error: Content is protected !!