Home » Klinik & bedah » Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Canine Distemper Virus

Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Canine Distemper Virus

Anjing yang berusia 2 tahun mengalami Canine Distemper akut dengan gejala klinis berupa konjungtivitis, rhinitis dan dermatitis pada kulit wajah (facial dermatitis)

Sumber: Mazzaferro 2010

Artikel berikut ini akan membahas mengenai pengobatan dan pencegahan infeksi Canine Distemper Virus. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

Pengobatan

Tidak ada obat antivirus yang efektif untuk mengobati Canine Distemper. Pengobatan terhadap infeksi Canine Distemper Virus (CDV) hanya bersifat simptomatis dan suportif. Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

  • Pemberian antibiotik spektrum luas yang bertujuan untuk mencegah dan membatasi invasi bakteri sekunder.
  • Pemberian cairan elektrolit (balanced electrolyte solutions) untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.
  • Pemberian nutrisi secara parenteral.
  • Pemberian antipiretik untuk anjing yang mengalami demam.
  • Pemberian analgesik untuk mengurangi rasa sakit.
  • Pemerian antikonvulsan seperti diazepam, pentobarbital, potassium bromide untuk mengendalikan gejala saraf (kejang-kejang).
  • Anjing yang mengalami gangguan dalam penglihatannya dapat diberikan glukokortikoid untuk mencegah kebutaan.
  • Discharge pada mata dan hidung harus dibersihkan secara rutin.

Prognosa (peluang sembuh) untuk Canine Distemper yang menunjukkan gejala saraf buruk (< 10%). Pengobatan untuk gejala sayaraf akut pada penderita distemper sering tidak berhasil. Anjing yang menderita Canine Distemper dengan gejala saraf yang parah dan tidak bisa lagi disembuhkan dapat dilakukan euthanasia dan hal ini diperbolehkan dengan tujuan agar anjing tidak mengalami penderitaan terus-menerus.

Anjing yang dapat pulih dari Canine Distemper masih ada kemungkinan akan mengalami penderitaan dalam jangka panjang seperti terjadinya enamel hypoplasia atau kekurangan enamel gigi yang merupakan efek dari infeksi Canine Distemper Virus. Kekurangan enamel gigi apabila tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan gigi yang parah. Selain itu, efek jangka panjang lainnya yaitu terjadinya hiperkeratosis (pengerasan yang tidak wajar) pada hidung dan telapak kaki) sehingga dapat mengakibatkan ketidaknyamanan.

 

Pencegahan

Kunci utama dari pencegahan terhadap infeksi Canine Distemper Virus yaitu dengan vaksinasi dan menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi Canine Distemper Virus terutama pada anak anjing. Anak anjing sangat rentan terinfeksi virus distemper, terutama jika kekebalan alami yang diperolehnya dari induk sudah menghilang sebelum anak anjing tersebut mampu membentuk kekebalan tubuhnya sendiri. Untuk melindungi anjing dewasa, pemilik hewan harus memberikan vaksin secara berkala sehingga anjing tersebut mempunyai titer antibodi yang cukup untuk melawan virus tersebut.

Terdapat dua jenis vaksin untuk Canine Distemper Virus yang tersedia yaitu MLV dan rCDV. Pemberian vaksin Canine Distemper Virus biasanya telah dalam kombinasi dengan parvovirus dan adenovirus-2. Pemberian vaksin Canine Distemper Virus dimulai sejak anjing berumur 6 minggu dengan interval pemberian vaksin 3 – 4 minggu sampai pada umur 16 minggu. Anjing harus divaksinasi kembali 1 tahun setelah pemberian vaksin Canine Distemper Virus terakhir kali pada tahap awal. Vaksin komersial dapat memberikan kekebalan berkelanjutan yang dapat bertahan sampai beberapa tahun. Pada anjing dewasa, vaksinasi Canine Distemper Virus dianjurkan setiap 3 tahun.

 

 

Sumber:

Ettinger SJ, Feldman EC. Textbook of Veterinary Internal Medicine. Volume I. Edisi ke-6. 2004. St. Louis, Missouri: Elsevier Inc.

John D. 2000. Textbook Small Animals Medicine. London: W.B Saunders.

Mazzaferro EM. 2010. Small Animals Emergency and Critical Care. USA: Wiley-Blackwell.

Tilley LP. FWK Smith. 1997. The 5 Minute Veterinary Consult, Canine and Feline. Baltimore : Wiliams & Wilkins Company.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Pengobatan dan Pencegahan Terhadap Infeksi Pseudomonas aeruginosa

  Pseudomonas aeruginosa merupakan flora normal pada tubuh dan tidak akan menimbulkan penyakit selama pertahanan ...

error: Content is protected !!