Home » Kesmavet » Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis

Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis

gejala Tb
Tindakan pencegahan terhadap TB harus melibatkan semua pihak mulai dari penderita, masyarakat dan petugas kesehatan. Adapun upaya pencegahan yang harus dilakukan yaitu :

a. Penderita tidak menularkan kepada orang lain

  • Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu tangan atau tissu
  • Tidur terpisah dari keluarga terutama pada dua minggu pertama pengobatan
  • Tidak meludah di sembarang tempat, tetapi dalam wadah yang diberi lysol, kemudian dibuang dalam lubang dan ditimbun dalam tanah
  • Menjemur alat tidur secara teratur pada pagi hari
  • Membuka jendela pada pagi hari, agar rumah mendapat udara bersih dan cahaya matahari yang cukup sehingga bakteri penyebab TB dapat mati
  • Pengobatan dini bagi penderita

b. Masyarakat tidak tertular dari penderita TB

  • Meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain dengan makan-makanan yang bergizi
  • Tidur dan istirahat yang cukup
  • Tidak merokok dan tidak minum-minuman yang mengandung alkohol
  • Membuka jendela dan mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur dan ruangan lainnya
  • Imunisasi BCG pada bayi
  • Imunisasi orang-orang yang kontak dengan penderita. Tindakan pencegahan bagi orang-orang sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan lainnya yang terindikasi dengan vaksin BCG
  • Segera periksa bila timbul batuk lebih dari tiga minggu
  • Menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
  • Meningkatkan pendidikan kesehatan pada masyarakat
  • Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya terhadap petugas kesehatan
  • Tersedia sarana-sarana kedokteran dan tempat pemeriksaan penderita
  • Adanya sistem pelaporan kasus dan pencatatan
  • Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para imigran, orang-orang kontak dengan penderita seperti keluarga, petugas kesehatan dan petugas di rumah sakit serta tindak lanjut bagi yang positif TB

Awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD (International Union Against Turberculosis and Lung Disease) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagi studi, uji coba klinik (clinical trials), pengalaman-pengalaman terbaik (best practices) dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insiden TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.
WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS, setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB, akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci:

  1. Komitmen pemerintah dalam kegiatan penanggulangan TB secara komprehensif
  2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
  3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan
  4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu
  5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan

Pada tahun 1995, program nasional penanggulangan TB di Indonesia mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan di puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh UPK terutama puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.

 

 
Sumber :

[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Panduan Nasional Penularan Tuberkulosis. Edisi ke-2. Jakarta : Depkes RI.

Hiswani. 2003. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat. Medan : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

[WHO] World Health Organization. 2011. Global Tuberculosis Control 2011. France : WHO Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Apa Itu Leptospirosis dan Bahayanya Terhadap Hewan

Apa itu Leptospirosis dan agen penyebabnya? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ...