Home » Kesmavet » Pencegahan Aflatoksikosis pada Manusia

Pencegahan Aflatoksikosis pada Manusia

Aflatoksin2
Keberadaan mikotoksin dalam bahan pangan atau pakan sangat dipengaruhi oleh faktor yang tidak bisa terkontrol (uncontrollable) seperti halnya kondisi iklim. Stres atau tekanan terhadap temperatur menjadi penyebab utama tumbuhnya kapang pada hasil panen bebijian, sementara temperatur dan kelembaban yang tinggi menjadi penyebab utama tumbuhnya kapang selama penyimpanan hasil panen. Namun kadar mikotoksin (aflatoksin) dalam bahan pangan atau pakan dapat ditekan melalui tindakan berikut ini:

  1. Penerapan cara penanganan pra panen dan paska panen serta persiapan pengolahan yang baik misalnya pencucian, pengeringan dan penyimpanan pada suhu rendah dan kering.
  2. Mencegah tumbuhnya kapang pada komoditas pertanian melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) atau Good Manufacturing Practices (GMP).
  3. Kontrol regulatori
    FAO, WHO dan UNICEF telah menetapkan bahwa “safe level” kandungan aflatoksin dalam bahan pangan adalah maksimum 30 ppb (part perbillion atau ug/kg) untuk aflatoksin B1. Beberapa negara Ada yang mengikuti anjuran WHO misalnya India. FDA (Food Drug Administration) di Amerika Serikat menetapkan kadar aflatoksin maksimum yang dibolehkan pada kacang tanah 15 ppb sedang pada makanan lain dan makanan ternak 20 ppb, di Swedia kadar aflatoksin maksimum yang dibolehkan pada bahan makanan 5 ppb untuk aflatoksin total sedangkan pada makanan ternak kadar yang dibolehkan 600 ppb aflatoksin B1. Di Indonesia, berdasarkan keputusan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.1.4057 tanggal 9 September 2004, batas maksimum kandungan aflatoksin B1 dan aflatoksin total pada produk olahan jagung dan kacang tanah masing-masing adalah 20 ppb dan 35 ppb. Sementara itu Codex Alimentarius Commission pada tahun 2003 menentukan batas maksimum kandungan aflatoksin total pada kacang tanah yang akan diproses sebesar 15 ppb. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan keamanan pangan di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara maju.
  4. Strategi detoksifikasi dari aflatoksin
    Beberapa cara telah dicoba untuk menghilangkan daya racun (detoksifikasi) aflatoksin dari bahan pangan, baik secara fisik mencakup radiasi, pemanasan, dan ekstraksi aflatoksin dari bahan pangan. Metode kimia mencakup perlakuan dengan asam, basa, oksidator dan dengan bisulfit. Metode biologi mencakup fermentasi dengan kapang dan pembuatan oncom, tempe serta percobaan-percobaan dengan mikroba lain termasuk bakteri dan protozoa.

 
Sumber :

Djaafar TF, Rahayu S. 2007. Cemaran Mikroba pada Produk Pertanian, Penyakit yang Ditimbulkan dan Pencegahannya. Jurnal Litbang Pertanian 26(2) : 67-75.

Media Indonesia. 2008. Kontaminasi Mikotoksin Dalam Pangan dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. http://mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-05/2008-05-14_19.pdf [26 Mei 2009].

Muhilal. 1999. Hubungan Aflatoxin dengan Carcinoma Hati. Cermin Dunia Kedokteran No. 15.

Syarief R dkk. 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor : IPB Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Agen Penyebab Ringworm dan Cara Penularannya

Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh jamur/cendawan yang hidup pada bagian kutan/superfisial atau bagian dari ...

error: Content is protected !!