Home » Reproduksi » Patogenesa,Terapi serta Pencegahan Endometritis

Patogenesa,Terapi serta Pencegahan Endometritis

gejala endometritis

Sumber: http://www.agritech.tnau.ac.in/expert_system/cattlebuffalo/Obstetrics%20and%20Gynecological%20conditions.html

a. Patogenesa

Selama dan setelah kelahiran, bakteri masuk secara ascendend ke dalam vagina, melewati serviks dan mengkontaminasi lumen uterus. Sebagian besar bakteri ini bersifat kontaminan oportunistik dan bakteri-bakteri ini dieliminasi dari uterus selama tiga minggu pertama setelah kelahiran dengan adanya kontraksi uterus (involusi), regenerasi endometrium dan aktivasi kekebalan tubuh dengan cara fagositosis bakteri oleh neutrofil. Beberapa sapi perah mengalami endometritis pada tiga minggu pertama setelah partus dan mengalami lesio berupa materi purulen di uterus yang dapat terdeteksi di vagina.

Kasus endometritis dapat terjadi karena melakukan IB (inseminasi buatan) dan penanganan partus kurang higienis, sehingga banyak bakteri yang masuk, seperti bakteri non spesifik (E. Coli, Staphilylococcus, Streptococcus dan Salmonella sp.), maupun bakteri spesifik (Brucella sp, Vibrio foetus dan Trichomonas foetus) yang terbawa masuk ke dalam uterus pada saat dilakukannya IB atau masuk pada saat melahirkan dimana serviks dalam keadaan terbuka. Bakteri tersebut dapat berasal dari lingkungan seperti feses maupun kotoran yang lainnya. Terjadinya infeksi juga tergantung dari virulensi kuman maupun daya tahan yang dimiliki oleh sapi. Daya tahan uterus tergantung dari kebersihan uterus dari sisa-sisa plasenta, kemampuan involusi uterus, penutupan serviks maupun pemulihan vagina dan vulva ke status seperti sebelum bunting dan melahirkan. Endometritis yang ringan tidak selalu diikuti pembentukan cairan abnormal, sedangkan pada infeksi berat cairan diproduksi dalam bentuk mukus, serus sampai dengan bentuk nanah. Kondisi yang berat dapat berkembang menjadi pyometra disertai dengan pembentukan nanah sebaliknya kasus yang ringan dapat menimbulkan terjadinya banyak kasus kawin berulang.

 

b. Terapi dan Pencegahan

Terapi yang berpotensi mengatasi kasus ini adalah terapi antibiotika sistemik, irigasi uterus, pemberian estrogen untuk menginduksi respon uterus, dan injeksi prostaglandin untuk menginduksi estrus. Pengobatan yang direkomendasikan untuk endometritis yang agak berat adalah memperbaiki vaskularisasi dengan mengirigasi uterus mempergunakan antiseptika ringan seperti lugol dengan konsentrasi yang rendah. Irigasi diulangi beberapa kali dengan interval 2-3 hari. Antibiotika diberikan secara intra uterine dan intra muskular. Discharge dapat dikeluarkan dengan menyuntikkan preparat estrogen. Untuk endometritis ringan cukup diberikan antibiotika intra uterine.
Pencegahan terhadap kasus ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi uterus seperti kebersihan alat yang digunakan pada saat menangani kelahiran, sanitasi kandang dan pelaksanaan IB yang aseptis. Sebaiknya sebelum diberikan antibiotika, dilakukan perbaikan sirkulasi darah di uterus dengan pemberian antiseptika ringan atau air hangat.
Sumber :

Ball PJH, Peters AR. 2004. Reproduction in Cattle 3rd ed. Great Britain: Blackwell Publishing.

Sheldon M. 2007. Endometritis in Cattle: Pathogenesis, Consequences for Fertility, Diagnosis and Therapeutic Recommendations. Royal Veterinary College, University of London. http://www.partners-in-reproduction.com/vets/newsletters/newsletter_2.pdf. [17 Januari 2010].

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Diagnosa dan Pengobatan Pyometra

Diagnosa Pyometra Stadium awal dari pyometra biasanya gejala klinis belum terlihat dengan jelas, sehingga pada ...

error: Content is protected !!