Home » Anatomi & Fisiologi » Macam-Macam Jaringan Ikat

Macam-Macam Jaringan Ikat

Jaringan ikat dapat dikelompokkan dalam enam kelompok utama, yaitu jaringan ikat longgar, jaringan lemak, jaringan ikat padat, jaringan tulang rawan, jaringan tulang, dan jaringan darah. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari kelompok jaringan ikat tersebut.

 

A. Jaringan ikat longgar

Jaringan ikat longgar merupakan jaringan ikat yang paling banyak tersebar dalam tubuh hewan vertebrata. Jaringan ini mempunyai ciri-ciri utama yaitu susunan serat-seratnya yang longgar. Matriksnya berupa cairan lendir (mukus). Pada matriks terdapat berkas serabut kolagen yang fleksibel, tetapi tidak elastis. Adanya serabut kolagen memungkinkan terjadinya gerakan dari bagian-bagian yang saling dihubungkan. Pada matriks juga terdapat fibroblast, sel mast, dan plasma sel. Jaringan pengikat longgar terdapat di sekitar pembuluh darah, saraf, dan sekitar organ tubuh. Beberapa fungsi jaringan ikat longgar sebagai berikut:

  1. Membentuk membran yang membatasi jantung dan rongga perut
  2. Mengikatkan kulit pada jaringan di bawahnya
  3. Mengelilingi pembuluh darah dan saraf yang menyusup ke organ
  4. Pengikat lapisan epitelium pipih membentuk lembar mesenterium
  5. Membantu melekatkan organ pada otot dinding tubuh
  6. Memberi bentuk organ dalam seperti kelenjar limfa, sumsum tulang, dan hati.

jaringan-ikat-longgar

Gambar 1 Jaringan ikat longgar

 

B. Jaringan lemak

Jaringan lemak memiliki susunan menyerupai jaringan ikat longgar yang tersusun atas sel-sel lemak. Sel-sel lemak yang mengandung lemak tersebut di dalam matriks jaringan lemak. Setiap sel lemak berisi tetes lemak (fat droplet) yang mengisi hampir seluruh isi sel (Gambar 2). Jaringan lemak dapat ditemukan di bawah kulit, ginjal, dan jantung. Fungsi jaringan lemak, antara lain sebagai cadangan makanan dan menjaga hilangnya panas secara berlebihan.

jaringan-lemak

Gambar 2 Jaringan lemak

 

C. Jaringan ikat padat

Jaringan ini tersusun atas serat-serat yang padat. Komponen utama jaringan ikat padat adalah serabut kolagen, Oleh karena itu, sifat jaringan ini fleksibel dan tidak elastik. Serabut kolagen tersebut bergabung membentuk bundel-bundel yang paralel (Gambar 3). Berdasarkan struktur serabutnya, jaringan ikat padat dapat dikelompokkan menjadi jaringan ikat padat teratur dan jaringan ikat padat tidak teratur. Jaringan ikat padat teratur menghubungkan antara otot dan tulang (tendon), serta menghubungkan tulang dengan tulang (ligamen). Sementara itu, jaringan ikat padat tidak teratur terdapat di kulit.

a-jaringan-ikat-padat-b-struktur-serabut-kolagen

Gambar 3 (a) Jaringan ikat padat, (b) struktur serabut kolagen

 

D. Jaringan tulang rawan

Matriks jaringan tulang rawan terdiri atas kondrin, yaitu zat jernih seperti kanji yang terbuat dari mukopolisakarida dan fosfat. Oleh karena itu, sel tulang rawan disebut kondrosit. Kondrosit berfungsi mensintesis dan mempertahankan matriks yang mengandung serabut kolagen, serabut elastis, dan serabut fibrosa. Kondrin dihasilkan oleh sel kondroblast yang terletak pada lakuna. Tulang rawan selalu terbungkus oleh membran perikondrium karena masih bersifat lunak.

Jaringan tulang rawan pada anak berasal dari jaringan pengikat embrional (mesenkim), sedangkan pada orang dewasa dibentuk oleh selaput rawan atau fibrosa tipis yang dinamakan perikondrium. Pada stadium embrio, rangka hewan mamalia terdiri atas kartilago (tulang rawan). Pada perkembangan selanjutnya, sebagian mengalami osifikasi (mengeras) menjadi tulang keras dan hanya sebagian kecil yang tersisa pada stadium dewasa. Misalnya pada daun telinga, hidung, serta antarruas tulang belakang dan tulang dada.

Tulang rawan berfungsi sebagai rangka tubuh pada awal embrio, menunjang jaringan lunak dan organ dalam, serta melicinkan permukaan tulang dan sendi. Tulang rawan tidak mempunyai saraf dan pembuluh darah. Berdasarkan susunan serabutnya, jaringan tulang rawan dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Tulang rawan hialin

Kartilago hialin mengandung serabut kolagen yang halus, berwarna putih kebiru-biruan, dan tembus cahaya. Kartilago hialin terdapat pada ujung tulang keras, cakram epifisis, persendian, dan saluran pernapasan (dari hidung sampai dengan bronkus). Kartilago hialin berfungsi untuk memberi kekuatan, menyokong rangka embrionik, menyokong bagian tertentu rangka dewasa, dan membantu pergerakan persendian.

tulang-rawan-hialin

Sumber: Bacha & Bacha 2000

Gambar 4 Tulang rawan hialin. (2) Kondrosit dalam lakuna; (5) Matrik interteritorial; (7) Perikondrium, kondrogenik; (8) Perikondrium, fibrous; (9) Matrik teritorial

2. Tulang rawan fibrosa

Kartilago fibrosa mengandung serabut kolagen yang padat dan kasar sehingga matriksnya berwarna gelap dan keruh (Gambar 5). Kartilago fibrosa terdapat pada ruas-ruas tulang belakang, simfisis pubis, dan persendian. Kartilago fibrosa berfungsi untuk menyokong dan melindungi bagian di dalamnya.

tulang-rawan-fibrosa

Sumber: Bacha & Bacha 2000

Gambar 5 Tulang rawan fibrosa. (1) Kondrosit; (3) Serabut kolagen; (6) Matrik

3. Tulang rawan elastis

Kartilago elastis mengandung serabut elastis dan serabut kolagen. Matriksnya berwarna keruh kekuning-kuningan (Gambar 6). Kartilago ini lebih elastis dari kartilago yang lain sehingga mudah pulih posisinya. Kartilago ini terdapat di epiglotis, daun telinga, dan bronkiolus. Kartilago elastis berfungsi untuk memberi fleksibilitas dan sebagai penyokong.

tulang-rawan-elastis

Sumber: Bacha & Bacha 2000

Gambar 6 Tulang rawan elastis. (2) Kondrosit dalam lakuna; (4) Serabut elastis

 

E. Jaringan tulang

Tulang merupakan jaringan pengikat yang termineralisasi (mengandung mineral). Sel tulang disebut osteosit yang dibentuk oleh osteoblast. Antara osteosit yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh kanalikuli. Matriks osteoblast mengandung kalsium fosfat yang memperkeras matriks sehingga tulang lebih keras daripada tulang rawan.

Berat tubuh mamalia dewasa, 15% berupa tulang. Berat tulang sebagian besar tersusun atas garam mineral, yaitu 85% kalsium fosfat, 10% kalsium karbonat, 4% magnesium klorida, dan 1% kalsium fluorida. Oleh karena itu susunan tulang menjadi keras dan kaku. Endapan garam mineral menyusun dan melingkari bagian pusat tulang sehingga membentuk pita melingkar disebut lamela. Pada batas lamela terdapat lakuna yang di dalamnya terdapat osteosit (sel tulang). Setiap tulang dibungkus oleh periosteum, yaitu jaringan pengikat fibrosa yang berbentuk lembaran pipih dan liat. Lapisan dalam dilapisi oleh endosteum. Berdasarkan susunan matriksnya, jaringan tulang dibedakan menjadi tulang keras atau tulang kompak dan tulang berongga atau tulang spons. Tulang keras memiliki matriks yang susunannya rapat. Sementara itu, tulang spons memiliki susunan matriks longgar atau berongga (Gambar 7).

Susunan anatomi tulang panjang terdiri atas bagian epifisis di kedua ujung dan diafisis di bagian tengah. Epifisis tulang panjang berbentuk bonggol serta tersusun oleh periosteum dan tulang rawan. Diafisis tulang panjang terdiri atas periosteum, tulang keras, tulang spons, dan rongga sumsum tulang.

Pada tulang keras atau kompak, sel-sel tulang tersusun membentuk sebuah sistem yang disebut sistem Havers. Bagian tengah sistem Havers terdapat saluran disebut saluran Havers yang berisi pembuluh darah, pembuluh limfa, dan saraf. Antara dua saluran Havers dihubungkan oleh saluran Volkman. Sekeliling sistem Havers terdapat lapisan tulang yang disebut lamela (Gambar 8a). Pada lamela-lamela inilah terdapat osteosit (sel-sel tulang) yang menempati lakuna (rongga) yang tersusun secara konsentris (Gambar 8b).

penampang-membujur-tulang-panjang

Gambar 7 Penampang membujur tulang panjang

a-sistem-havers-pada-jaringan-tulang-b-osteosit-sel-tulang-pada-lakuna

Gambar 8 (a) Sistem Havers pada jaringan tulang, (b) osteosit (sel tulang) pada lakuna

 

F. Jaringan darah

Jaringan darah merupakan jaringan ikat yang sangat khusus. Matriks pada darah tersusun atas plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah terususun atas air, garam, dan berbagai protein. Pada plasma darah terdapat sel-sel darah yang terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keping darah). Jaringan ini berfungsi sebagai alat transportasi yang menopang kelangsungan hidup manusia. Selain darah, tubuh juga mempunyai jaringan yang mirip jaringan darah, yaitu peredaran limfatik. Peredaran limfatik, memiliki komponen seluler berupa limfosit dan granulosit. Jaringan ini berfungsi untuk transpor lemak dan protein dari satu jaringan ke jaringan yang lain.

Eritrosit tidak memiliki inti sel. Fungsi utama eritrosit adalah mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah. Eritrosit dan trombosit melakukan fungsi utamanya di dalam pembuluh darah. Sebaliknya, leukosit melakukan fungsi utamanya di luar pembuluh darah. Leukosit berperan dalam sistem pertahanan tubuh.

mikroskopik-darah-kucing

Sumber: Bacha & Bacha 2000

Gambar 9 Struktur jaringan darah. Pada gambar terlihat adanya sel darah putih diantaranya (2) eosinofil, (3) limfosit, (4) monosit, (5) netrofil dan (6) trombosit

leukosit-sebagai-sel-penyusun-jaringan-darah

Gambar 10 Leukosit sebagai sel penyusun jaringan darah

 

 

 

 

Sumber:

Bacha WJ, Bacha LM. 2000. Color Atlas of Veterinary Histology. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Bakhtiar S. Biologi. 2011. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan Nasional.

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi U. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Purnomo, Sudjino, Trijoko, Hadisusanto S. 2009. Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Tipe Nekrosa Fibrinoid dan Gangren

Tampilan morfologi jaringan nekrosa bervariasi, hal ini tergantung pada jaringan yang terlibat, penyebab kerusakan jaringan, ...

error: Content is protected !!