Home » Klinik & bedah » Kerugian Akibat Infestasi Caplak Rhipicephalus sanguineus pada Hewan

Kerugian Akibat Infestasi Caplak Rhipicephalus sanguineus pada Hewan

Infestasi caplak pada anjing (https://www.researchgate.net)

Salah satu caplak yang sering menyerang anjing yaitu caplak Rhipicephalus sanguineus. Caplak Rhipicephalus sanguineus merupakan ektoparasit yang sangat merugikan induk semangnya. Bentuk kerugian yang dihasilkan karena infestasi caplak ini adalah berupa penyakit yang akan diderita oleh induk semang. R. sanguineus dapat menularkan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, rickettsia, protozoa dan lainnya. Caplak ini juga menularkan boutonneuse fever, erlichiosis dan sejumlah penyakit-penyakit lain termasuk rocky mountain spotted fever dan Q fever.

Biasanya penyakit yang disebabkan oleh bakteri berupa suatu ikutan akibat garukan pada kulit yang disebabkan kegatalan yang terjadi karena gigitan dan isapan darah oleh caplak sehingga menyebabkan suatu infeksi sekunder. Selain penyakit diatas, penyakit lain yang ditimbulkan dari infestasi caplak ini adalah dermatosis, envenomisasi, eksanguinasi, paralisa, dan otoakariasis. Dermatosis merupakan radang pada kulit disertai luka dan kebengkakan, dan merupakan predisposisi timbulnya miasis dan infeksi sekunder. Envenomisasi adalah reaksi alergi dan gangguan sistemik akibat inokulasi cairan air liur caplak. Eksanguinasi adalah anemia akibat investasi caplak dalam jumlah banyak. Paralisa atau kelumpuhan akibat toksin yang dikeluarkan oleh caplak dan menyerang caplak. Otoakariasis terjadi jika infestasi caplak pada saluran telinga.

Kelainan-kelainan yang dapat ditimbulkan oleh karena aktivitas makan dan menghisap darah oleh caplak dapat dikelompokkan dalam 5 kelompok umum yaitu sebagai berikut :

  1. Kerusakan mekanis pada integumen yang diakibatkan iritasi oleh gigitan caplak yang menyebabkan peradangan. Hal ini menyebabkan kegatalan sehingga hewan akan menggaruk, menggigit atau menjilat tempat yang gatal, sehingga kulit menjadi lecet, luka, bengkak, ulserasi dan infeksi sekunder.
  2. Kerusakan sistemik akibat pemasukan air liur caplak yang mengandung bahan-bahan toksik pada saat menggigit atau menghisap darah. Saliva merupakan faktor transmisi penyakit dari caplak ke induk semang. Beberapa jenis caplak juga menghasilkan toksin (ixovotoxin) yang mempengaruhi susunan syaraf pusat dan neuromuscular junction sehingga menimbulkan kelumpuhan (tick paralyze). Bahan-bahan toksik yang kemungkinan dihasilkan oleh ovarium atau ovum menyebabkan paralisa motor ringan yang mengarah ke atas dengan cepat. Gejala yang teramati yaitu peningkatan suhu tubuh, kesulitan bernafas, berbicara (menggonggong) serta menelan, dan kadang-kadang kematian akibat paralisa pernafasan atau jantung.
  3. Anemia, dapat terjadi pada kasus infestasi caplak yang hebat, karena caplak merupakan penghisap darah yang ganas. Seekor caplak Rhipicephalus sanguineus betina dapat menghisap 1-2 mililiter darah selama berada pada tubuh inangnya. Selain itu anemia juga dapat terjadi akibat adanya parasit darah yang ditularkan melalui gigitan caplak.
  4. Othematoma atau otitis eksterna. Othematoma atau otitis eksterna adalah peradangan pada daun telinga. Hal ini dapat terjadi apabila caplak menyerang bagian interna daun telinga atau pada bagian eksterna telinga anjing, sehingga menimbulkan rasa gatal dan sakit. Karena anjing sering menggaruk telinganya, kadang-kadang ada pembuluh darah di telinga yang pecah sehingga darah terbendung dalam telinga.
  5. Vektor penyakit Boutonneuse fever, Rocky mountain spotted fever, Siberian tick typhus, Q fever, Tularemia, Babesiosis, dan Canine piroplasmosis. Rhipicephalus sanguineus juga menularkan Babesia canis, Babesia gibsoni, Erlichia risticii, Haemobartonella canis, Hepatozoon canis, Erlichia canis, dan Erlichia platys. Gejala klinis yang nampak terbagi tiga yaitu stadium hiperakut, akut, dan kronis. Gejala hiperakut yang nampak adalah hewan akan mengalami shock, anoreksia, kelemahan umum, demam, hemolitik anemia, dan hematuria serta muntah-muntah.

 

 

 

 

Sumber:

Levine N.D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Terjemahan G. Ashadi Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Levine, D.N. 1995. Protozoologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Lord C.C. 2001. Brown Dog Tick – Rhipicephalus sanguineus Latreille. http://creatures.ifas.ufl.edu/urban/medical/brown_dog_tick.htm.

Subranto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing dan Kucing. Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Berbagai Jenis Ektoparasit yang Dapat Menginfeksi Anjing

Parasit dapat hidup di luar (di permukaan tubuh) ataupun di dalam tubuh induk semang. Parasit ...