Home » Kesmavet » Kasus Rabies di Indonesia

Kasus Rabies di Indonesia

Rabies di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Schoorl di Jakarta pada tahun 1884 pada seekor kuda, kemudian Esser pada tahun 1889 juga menemukan rabies pada seekor kerbau di Bekasi. Rabies di Indonesia menjadi populer di beberapa daerah setelah ditemukan rabies pada seekor anjing pada tahun 1990 di Penning. Sedangkan rabies pada manusia di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh de Haan pada tahun 1894 pada seorang anak di Cirebon. Secara kronologis tahun kejadian penyakit rabies mulai di Jawa Barat (1948), Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sumatera Utara (1956), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (1958), Sumatera Selatan (1959), DI Aceh (1970), Jambi dan DI Yogyakarta (1971), Bengkulu, DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara (1972), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), Kalimantan Tengah (1978), Kalimantan Selatan (1983) dan pulau Flores (1997). Pada akhir tahun 1997, wabah rabies muncul di Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai akibat pemasukan secara ilegal anjing dari pulau Buton Sulawesi Tenggara yang merupakan daerah endemik rabies.

Sampai saat ini daerah tertular rabies terdapat di 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia dan hanya terdapat 9 provinsi yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies yaitu sebagai berikut: Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, NTB, Jawa Timur, Papua Barat dan Papua. Provinsi Banten dinyatakan daerah baru tertular Rabies, setelah terjadi kasus luar biasa (KLB) di Kabupaten Lebak pada tahun 2008. Provinsi Bali merupakan daerah yang sebelumnya tidak pernah terjadi kasus rabies yang secara historis dinyatakan bebas Rabies, tetapi pada bulan September tahun 2008 terjadi KLB rabies di Badung. Rata-rata kasus rabies pada manusia di Indonesia yaitu 168 kasus/tahun.

Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian rabies yaitu: kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan kasus yang positif rabies dan mati berdasarkan uji Lyssa. Penentuan suatu daerah dikatakan tertular rabies berdasarkan ditemukannya positif hasil pemeriksaan laboratorium terhadap hewannya, kewenangan ini ditentukan oleh Kementerian Pertanian.

Berdasarkan laporan dari Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan bahwa dari tahun 2008 sampai tahun 2012 jumlah spesimen positif Hewan Penular Rabies (HPR) menunjukkan peningkatan. Tahun 2012 kasus GPHR yaitu sebesar 84.750 kasus. Jumlah spesimen yang diperiksa pada tahun 2012 sebanyak 1.155 spesimen, sedangkan kematian karena rabies pada manusia berdasarkan uji Lyssa sebanyak 135 kasus. Jumlah kasus Lyssa pada tahun 2012 terjadi di 16 provinsi dan 62 kabupaten/kota. Pada tahun 2013 sampai bulan Juli, kasus GPHR yaitu sebesar 18.548 kasus dan jumlah kasus rabies pada manusia berdasarkan uji Lyssa yaitu sebesar 31 kasus (Gambar 1 dan 2). Pada Gambar 1 dapat terlihat bahwa persentase penatalaksanaan kasus gigitan/Post Exposure Treatment (PET) mengalami peningkatan yaitu 71.843 dari 84.010 (85,52%) pada tahun 2011 menjadi 74.331 dari 84.750 (87,71%) pada tahun 2012.

Situasi GHPR dan PET di Indonesia Tahun 2008 - Juli 2013

Sumber: Subdit Pengendalian Zoonosis, Dit. PPBB, Kemenkes RI 2013)

Keterangan:
GHPR : Gigitan Hewan Penular Rabies
PET : Post Exposure Treatment dengan Vaksin Anti Rabies (VAR)

Gambar 1 Situasi GHPR dan PET di Indonesia Tahun 2008 – Juli 2013

Kasus rabies pada manusia di Indonesia tahun 2008 - Juli 2013

Sumber: Subdit Pengendalian Zoonosis, Dit. PPBB, Kemenkes RI 2013

Keterangan:
Kasus Lyssa: kasus pada manusia yang positif rabies berdasarkan uji Lyssa

Gambar 2 Kasus rabies pada manusia di Indonesia tahun 2008 – Juli 2013

Pada tahun 2012 terdapat 79.192 kasus gigitan hewan penular rabies yang dilaporkan terjadi pada 23 provinsi di Indonesia. Kasus GHPR paling banyak terjadi di Bali yaitu sebanyak 55.836 kasus dengan kasus positif rabies pada manusia berdasarkan uji Lyssa dan meninggal yaitu berjumlah 8 orang. Menyusul kemudian Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kasus GHPR sebesar 5.564 kasus dan 8 kasus positif rabies pada manusia serta Sumatera Utara dengan kasus GHPR sebanyak 4.563 kasus dan 18 kasus positif rabies pada manusia. Sebaran kasus rabies (GHPR dan Lyssa) di Indonesia selama tahun 2012 dapat dilihat pada Gambar 3.

Situasi rabies (GHPR dan Lyssa) di Indonesia tahun 2012

Sumber: Ditjen PP & PL, Kemenkes RI 2013

Gambar 3 Situasi rabies (GHPR dan Lyssa) di Indonesia tahun 2012

Kasus rabies yang disebabkan oleh gigitan anjing hampir dilaporkan setiap tahun dari berbagai daerah tertular di Indonesia terutama Sumatera Barat, Jawa Barat dan NTT. Sepanjang tahun 2008 – 2010 telah terjadi kasus rabies di daerah bebas seperti pulau Bali, kabupaten Garut, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Cianjur, kabupaten/kota Sukabumi, kabupaten Lebak di provinsi Banten, dan kota Gunungsitolai di pulau Nias. Pada tahun 2008 provinsi Bali melaporkan adanya kasus gigitan pertama yang dikonfirmasi sebagai Rabies. Kasus ini menjadi kasus pertama yang pernah dilaporkan dari pulau dengan populasi anjing yang tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Menurut perkiraan populasi anjing di Bali sekitar 600 ribu ekor (tidak ada data pasti mengenai jumlah populasi anjing yang sebenarnya di Bali) atau sekitar 96 ekor per km2. Kasus GHPR yang terjadi di Bali mengalami peningkatan pada tahun 2012 dimana pada tahun 2011 kasus GHPR sebesar 52.798 kasus meningkat menjadi 55.836 pada tahun 2012. Sedangkan kasus rabies pada manusia berdasarkan uji Lyssa (kasus Lyssa) mengalami penurunan pada tahun 2012 dimana pada tahun 2011 kasus Lyssa sebesar 8 kasus dan pada tahun 2012 kasus Lyssa menurun sebesar 23 kasus (Gambar 4). Kumulatif kasus rabies di provinsi Bali tahun 2009 – 23 Agustus 2013 dapat dilihat pada Gambar 4.

Kumulatif kasus rabies di provinsi Bali tahun 2009 - 23 Agustus 2013Gambar 4 Kumulatif kasus rabies di provinsi Bali tahun 2009 – 23 Agustus 2013

Sumber:

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. 2008. Jakarta: Depkes.

Naipospos TS. 2010. Vaksin Oral Rabies. e-Buletin Veterinae. http://civas.info/index.php?option=com_content&view=article&id=5:vaksin-oral-Rabies&catid=30:opini&Itemid=63 [6 Juni 2014].

Soejoedono RR. 2004. Zoonosis. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Utami S, Sumiarto B. 2010. Identifikasi virus rabies pada anjing liar dikota makassar. J Sain Vet 28(2):69-74.

[Kemenkes RI] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kemenkes RI.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Gejala Klinis Penyakit Ebola

Manusia Telah dilaporkan bahwa beberapa kasus infeksi penyakit pada manusia tidak disertai manifestasi penyakit ataupun ...