Home » Kesmavet » Kasus Anthrax di Indonesia

Kasus Anthrax di Indonesia

Kasus anthrax di Indonesia pertama kali dilaporkan di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1832. Pada tahun 1969 tercatat bahwa 36 orang yang terinfeksi meninggal setelah memakan daging hewan yang terinfeksi. Empat tahun kemudia empat orang lagi meninggal setelah memakan daging hewan yang terinfeksi anthrax. Infeksi anthrax juga telah menyebar ke beberapa daerah di tanah air dan telah dilaporkan kejadian luar biasa (KLB) anthrax di beberapa provinsi di Indonesia diantaranya : Teluk Betung Provinsi Lampung pada tahun 1884, Kabupaten Bulelang Provinsi Bali dan Palembang Sumatera Selatan pada tahun 1885 serta Kabupaten Bima NTB pada tahun 1976 dan Kabupaten Paniai Irian Jaya pada tahun 1985 dengan ribuan ternak babi mati dan 11 orang meninggal karena memakan daging babi. KLB juga terjadi di Jawa Tengah pada tahun 1990 di Kabupaten Semarang, Boyolali dan Demak dengan total kasus 48 orang tanpa menyebabkan kematian. Pada tahun 2000 terjadi KLB di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat dengan 32 kasus, tahun 2001 di Kabupaten Bogor dengan 22 orang terinfeksi dan 2 orang meninggal. Pada bulan Februari 2011 terjadi lagi wabah anthrax di Desa Tangkisan, Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali dengan didapatkan satu ekor sapi mati karena anthrax. Pada saat itu, sapi tersebut kemudian disembelih dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitarnya dan menimbulkan infeksi kepada manusia sehingga saat itu Boyolali dinyatakan KLB anthrax serta pada Mei 2011 terjadi lagi KLB di Jawa Tengah yaitu di Kabupaten Seragen.

Saat ini sudah 11 provinsi di Indonesia tertular anthrax dan merupakan daerah endemis yaitu diantaranya : DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Jawa Barat (Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Depok), Jawa Tengah (Kota Semarang, Kab. Boyolali), NTB (Sumbawa, Bima), NTT (Sikka, Ende), Sumatra Barat, Jambi, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan (Makassar, Wajo, Gowa, Maros), Sulawesi Utara dan Papua (Gambar 1). Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan propinsi di Indonesia yang paling sering terjadi kasus anthrax, diikuti oleh Propinsi Jawa Barat. Kasus anthrax yang paling banyak terjadi di NTB adalah di Pulau Sumbawa dan berdasarkan data kasus anthrax selama 11 tahun (1984 – 1994) kasus anthrax di NTB terjadi hampir setiap tahun meskipun kejadiannya cenderung menurun (Tabel 1). Sementara itu, kajian retrospektif kejadian anthrax selama 20 tahun (1974-1995) menunjukkan pola letupan anthrax di 5 kabupaten di Jawa Barat pada berbagai jenis hewan terjadi setiap 3 – 4 tahun sekali, dengan interval puncak kurva selang 14 tahun.
kasus anthrax di indonesia2

Gambar 1 Provinsi di Indonesia yang endemis anthrax

Tabel 1 Kasus anthrax pada ternak di NTB dari tahun 1984 – 1994 berdasarkan lokasi kejadian
Kasus anthrax pada ternak di NTB dari tahun 1984 - 1994 berdasarkan lokasi kejadian
Kejadian anthrax pada manusia di Indonesia hampir selalu berhubungan dengan wabah penyakit anthrax pada hewan. Total kasus anthrax pada manusia di Indonesia dari tahun 1992 – 2001 telah dilaporkan sebanyak 599 kasus dengan kematian sebanyak 10 orang. Selama periode tahun 2002 hingga tahun 2007 kasus penyakit antraks pada manusia di Indonesia mencapai 348 orang dengan kematian mencapai 25 orang atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai sebesar 7.2%. Keseluruhan kasus tersebut terjadi di 5 provinsi yang termasuk sebagai daerah endemis antraks di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Terdapat sembilan kecamatan di Kabupaten Bogor yang dinyatakan sebagai daerah endemis anthrax yaitu : Bojong Gede, Cibinong, Citeureup, Babakan Madang, Sukaraja, Jonggol, Sukamakmur, Cileungsi dan Kelapanunggal (Gambar 2). Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang setelah tahun 2000 selalu terjadi kasus antraks pada manusia. Selama periode tahun 2001 hingga tahun 2007 di Kabupaten Bogor pada manusia telah terjadi 97 kasus penyakit antraks dengan kematian mencapai 8 orang atau CFR yang mencapai 8.2%. Keseluruhan kasus tersebut terjadi di 4 kecamatan yaitu Citeuruep, Cibinong, Babakan Madang, dan Sukaraja. Kecamatan Babakan Madang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang tercatat mempunyai angka kesakitan tertinggi dan angka kematian tertinggi di akhir tahun 2004 yaitu enam orang meninggal dunia akibat adanya penyakit anthrax ini dengan CFR 15% dari populasi yang beresiko 195 orang.

Kasus anthrax pada hewan di Kabupaten Bogor lebih sedikit dibandingkan pada manusia dan terutama banyak terjadi pada kambing dan domba. Tahun 2001 kasus anthrax terjadi di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Desa Karadenan, Kecamatan Cibinong, sedangkan di Kota Bogor terjadi di Desa Kedung Badak dan Cimahpar. Tahun 2002 kasus anthrax kembali terjadi di Desa Hambalang. Pada tahun 2003 kasus anthrax terjadi di Kecamatan Citeureup dan Kecamatan Tanah Sareal.

Peta daerah endemis anthrax per kecamatan di Kabupaten Bogor
Gambar 2 Peta daerah endemis anthrax per kecamatan di Kabupaten Bogor

Provinsi Jawa Tengah terdapat delapan kabupaten atau kota yang endemis anthrax meliputi dua kota yaitu : Salatiga dan Surakarta, serta enam kabupaten yaitu Semarang, Sragen, Klaten, Boyolali, Pati dan Karanganyar. Empat kabupaten yaitu Pati, Boyolali, Karangayar dan Sragen menjadi daerah dengan pengawasan intensif karena terjadi kasus anthrax sejak 2007 hingga 2011. Kasus anthrax pada manusia di Jawa Tengah dari tahun 2007 – 2011 menunjukkan bahwa, pada tahun 2007 terjadi 10 kasus anthrax di Kabupaten Pati, tahun 2008 dan 2009 masing-masing 2 kasus anthrax di Kabupaten Boyolali, tahun 2010 terjadi 28 kasus anthrax dengan 1 orang meninggal di Kabupaten Sragen serta tahun 2011 terjadi 28 kasus anthrax yang tersebar di Kabupaten Pati, Boyolali dan Sragen. Data selengkapnya disajikan pada Gambar 3. Selain itu, kasus anthrax pada hewan dari tahun 1990 – 2011 dapat dilihat pada Tabel 2.

Berdasarkan riwayat kontak, distribusi anthrax pada manusia di Jawa tengah pada tahun 2011 paling banyak terjadi pada orang-orang yang menangani atau mengelola daging dan mengkonsumsi daging (22.78%) dan sisanya pada orang-orang yang kontak dengan limbah cucian daging (3.11%) serta mengelola daging (3.11%). Berdasarkan jenis kelaminnya, kasus anthrax pada manusia di Jawa Tengah pada tahun 2011 paling banyak terjadi pada laki-laki (88.61%) dibandingkan pada perempuan (11.39%).

Kasus anthrax pada manusia di Jawa Tengah

Gambar 3 Kasus anthrax pada manusia di Jawa Tengah

Tabel 2 Kejadian anthrax di Provinsi Jawa tengah dari Tahun 1990 – 2011

No.

Kabupaten

Tahun

Sapi

Kambing

1.

Klaten

1990

2

2.

Semarang

1991

1.550

3.

Surakarta

1991

1

1992

1

4.

Boyolali

1991

1

1992

1

1993

1

2011

3

5.

Karanganyar

1992

2

6.

Pati

2007

3

3

7.

Sragen

2010

9

15

2011

1

 

Sumber :

[Depkes RI] Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman dan Protap Penatalaksanaan Kasus Anthrax di Indonesia. Jakarta : Sub.Dit Zoonosis Direktorat P2B2, Dit Jen PPM dan PLP.

[Dinkes Kab. Bogor] Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. 2005. Pengamatan dan Penanggulangan Penyakit Antraks di Kabupaten Bogor tahun 2001 s/d Oktober 2004. Bogor : Dinkes Kab. Bogor.

Hardjoutomo S, Poerwadikarta MB, Martindah E. 1996. Anthrax pada hewan dan manusia di Indonesia. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 7-8 November 1995. hlm 305-318.

Martindah E, Wahyuwardani S. 1998. Pola kasus anthrax pada ternak di Propinsi Nusa Tenggara Barat. JITV 3(1): 39-46.

Martindah ES, Wahyuwardani, Nurhadi A. 1995. Epidemiologi anthrax di daerah endemis (Jawa Barat). Kumpulan Makalah, Konferensi Ilmiah Nasional ke VI; Surabaya, 20-23 November 1994. Bogor : Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat II. Hal 28-35

Naipospos TSP. 2011. Pertanian, Tradisi dan Anthrax. http://tatavetblog.blogspot.com/2011/08/pertanian-tradisi-dan-anthrax.html [24 Mei 2012].

Poerwadikarta MB, Hardjoutomo S, Martindah E. 1995. Studi retrospektif laboratorik anthrax di Indonesia: 1973-1992. Pros. Seminar Nasional Teknologi Veteriner untuk Meningkatkan Kesehatan Hewan dan Pengamanan Bahan Pangan Asal Ternak. Bogor, 22-24 Maret 1994. hlm 159-164.

Rhedono D, Sumanjard T, Guntur AH. 2012. Prevalensi Anthrax di Indonesia. Surakarta : Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Subbagian Immunologi, FK UNS.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Gejala Klinis Penyakit Ebola

Manusia Telah dilaporkan bahwa beberapa kasus infeksi penyakit pada manusia tidak disertai manifestasi penyakit ataupun ...

error: Content is protected !!