Home » Patologi » Hemoragi dan Penyebab Terjadinya

Hemoragi dan Penyebab Terjadinya

Hemoragi (pendarahan) adalah kondisi yang ditandai dengan keluarnya darah dari dalam vaskula akibat dari kerusakan dinding vaskula. Kebocoran dinding ada dua macam melalui kerobekan (per reksis) dan melalui perenggangan jarak antara sel-sel endotel dinding vaskula (per diapedisis). Hemoragi per diapedisis umumnya terjadi pada pembuluh kapiler. Hemoragi per reksis dapat terjadi pada vaskuler apa saja, bahkan dapat terjadi bila dinding jantung robek atau bocor.

Berdasarkan besarnya vaskula yang rusak hemoragi dibagi menjadi beberapa bentuk diantaranya:

  • Hemoragi kecil, dimana berbentuk titik darah tidak lebih besar dari ujung peniti disebut ptechiae (tunggal, petechia) (Gambar 1)
  • Purpura atau hemoragi noktah yang memiliki besar noktah mencapai hampir 1 cm
  • Hemoragi dengan spot yang agak besar mencapai 1 cm atau lebih di permukaan tubuh atau di jaringan disebut ekimosis (tunggal, ekimosis) (Gambar 2)
  • Ektrafasasi merupakan hemoragi dalam jaringan yang sudah sangat menyebar
Hemoragi3

Sumber: Shapiro 2010; McGavin dan Zachary 2007

Gambar 1 (A) Ptechiae hemoragi pada ginjal anjing akibat infeksi virus herpes; (B) hemoragi pada jantung karena endotoxemia

Hemoragi ekimosis pada subkutis kelinci

Sumber: McGavin dan Zachary 2007

Gambar 2 Hemoragi ekimosis pada subkutis kelinci

Hemoragi pada usus ikan lele2

Sumber: Pazra 2008

Gambar 3 Gambaran histopatologi hemoragi pada usus ikan lele (panah)

Hemoragi berdasarkan pola bentuk pendarahan dibagi menjadi beberapa bentuk diantaranya:

  • Hemoragi linier, yaitu pendarahan yang memiliki bentuk garis merah yang sering terjadi pada mukosa kolon dan rektum
  • Hemoragi stria, yaitu hemoragi yang berbentuk seperti sapuan kuas cat. Hemoragi ini sering terjadi pada lapisan serosa organ dan rongga perut (peritoneum rongga pert, lapisan luar saluran digesti, kapsula ginjal, pleura dada dan diagfragma)
  • Hematom, merupakan pendarahan yang berbentuk kantong atau benjolan kerena gumpalan darah berada di bawah lapisan penutup seperti kulit dan serosa penutup organ

Hemoragi dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya sebagai berikut:

  1. Trauma yaitu kerusakan dalam bentuk fisik yang merusak sistem vaskula jaringan di daerah benturan/ kontak.
  2. Infeksi agen infeksius terutama mengakibatkan septisemia seperti pasteurellosis dan anthrax, infeksi oleh virus seperti canine adenovirus. Selain itu, infeksi parasit terutama parasit darah juga dapat menyebabkan hemoragi seperti Haemonchus contortus yang hidup di mukosa abomasum domba dan kambing dapat melukai mukosa dan mengeluarkan antikoagulan sehingga pendarahan sulit terhenti.
  3. Bahan toksik yang merusak endotel kapiler seperti keracunan arsen, dicumarol (racun tikus) yang dapat menghambat penggumpalan darah sehingga terjadi pendarahan dan toksin uremik yang dapat merusak endotel pembuluh darah.
  4. Faktor lain yang menyebabkan dinding vaskula lemah sehingga pembuluh darah rentan untuk bocor seperti pada kasus atherosklerosis (dinding arteri melemah terjadi pada kondisi kronis), defisiensi vitamin C yang dapat menyebabkan pendarahan gusi karena vaskula setempat rapuh (skorbutus).

 

Efek lokal dari suatu hemoragi berkaitan dengan adanya darah yang keluar dari pembuluh darah di dalam jaringan dan pengaruhnya dapat ringan sampai berat yang dapat mengakibatkan kematian. Pengaruh lokal dari hemoragi yang ringan yaitu memar. Perubahan warna memar menjadi kebiruan secara langsung berkaitan dengan adanya eritrosit yang keluar dan terkumpul di dalam jaringan. Eritrosit yang keluar dari pembuluh darah dipecah dengan cepat dan difagositosis oleh makrofag yang terdapat di sekitar jaringan yang mengalami peradangan. Pada saat hemoglobin dimetabolisme dalam sel makrofag terbentuk suatu kompleks yang mengandung besi yang disebut hemosiderin dan bersamaan juga dengan terbentuknya zat yang tidak mengandung besi yang di dalam jaringan dinamakan hematoidin. Hemosiderin berwarna coklat-karat dan hematoidin berwarna kuning muda. Interaksi pigmen-pigmen ini berpengaruh pada perubahan warna memar yang berkisar dari biru kehitaman kemudian memudar menjadi coklat dan kuning serta akhirnya menghilang kerena difagositosis oleh makrofag (pemulihan jaringan yang sempurna terjadi). Pada hematom yang bervolume besar penyembuhan yang terjadi tidak sempurna sehingga masih meninggalkan sedikit jaringan parut. Pada kondisi ektrim hemoragi lokal dapat menimbulkan efek mematikan meskipun hemoragi hanya terjadi masih ringan, jika terjadi pada organ vital seperti otak, jantung (kantong perikardium), paru-paru dan cabang trakeobronkhial.

Pengaruh sistemik akibat dari hemoragi yaitu dapat mengakibatkan anemia akibat dari banyaknya darah yang hilang dari tubuh yang berlangsung lama (bersifat kronis) sehingga terjadi penurunan jumlah eritrosit atau hemoglobin dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen. Individu yang mengalami anemia ditandai dengan gejala mukosa pucat dan mudah lelah. Kehilangan volume darah yang terlalu banyak dan cepat dapat menimbulkan shok hipovolemik. Shok hipovolemik yaitu kondisi kehilangan kesadaran karena volume darah yang mengalir ke jantung sedikit dan tidak mencukupi untuk jantung memompa darah yang cukup ke otak. Shok hipovolemik dapat mengakibatkan kematian karena denyut jantung tidak kontinyu dan akhirnya berhenti. Kematian akibat langsung dari pendarahan umumnya terjadi apabila tubuh kehilangan dari 1/3 volume darah, shok yang berkepanjangan, hemoperikardium yang mengakibatkan gumpalan darah dan menghambat aktivitas pemompaan darah (jantung tampon), pendarahan paru-paru yang dapat menghambat pertukaran oksigen dan pendarahan otak.

 

 

 

Sumber:

McGavin MD, Zachary JF. 2007. Pathologic Basis of Veterinary Disease. Edisi ke-4. USA: Mosby Elsevier.

Pazra DF. 2008. Gambaran Histopatologi Insang, Otot dan Usus pada Ikan Lele (Clarias spp.) Asal dari Daerah Bogor [Skripsi]. Bogor: FKH IPB.

Price SA, Wilson L M. 2006. Patofisiologi. Edisi VI. Volume I. Jakarta: EGC.

Shapiro LS. 2010. Pathology and Parasitology for Veterinary Tecnicians. Edisi ke-2. USA: Delmar.

Smith HA, Jones TC. 1961. Veterinary Pathology. Philadelpia: Lea & Febiger.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Tipe Nekrosa Lemak dan Perubahan Histopatologinya

Nekrosa lemak terjadi akibat trauma atau reaksi enzimatis pada jaringan lemak. Terdapat tiga jenis nekrosa ...

error: Content is protected !!