Home » Kesmavet » Gejala Klinis Penyakit Ebola

Gejala Klinis Penyakit Ebola

Manusia

Telah dilaporkan bahwa beberapa kasus infeksi penyakit pada manusia tidak disertai manifestasi penyakit ataupun gejala klinis, tetapi apabila manusia yang terinfeksi virus Ebola menunjukkan gejala klinis, maka gejala yang muncul sangat beragam mulai dari ringan sampai berat yang dapat berakibat fatal. Masa inkubasi dari penyakit Ebola dapat bervariasi yaitu antara 2-21 hari, namun sebagian besar antara 4-10 hari. Pada awalnya, gejala klinis yang muncul tidak spesifik dan hanya berupa demam ringan, nyeri kepala bagian depan, kelemahan tubuh dan mialgia. Sebagian besar dari pasien merasakan nyeri di bagian dada, diare, muntah, kekeringan dan rasa nyeri di tenggorokan, erupsi dan deskuamasi kulit (52%). Pada pasien dengan hemoragi, gejala yang paling umum muncul yaitu melena, hematenesis (muntah darah), epistasis dan hemoragi di organ-organ atau di jaringan lain berupa petekhie dan ekimosis serta hemoragi tidak dapat dihentikan dari pembuluh darah vena (Gambar 1).

Masa penyembuhan berlangsung lama, kadang-kadang sampai 2 bulan. Empat atau lima hari setelah muncul gejala klinis, pasien mengalami letargi berat dan kondisi mental berubah. Pasien dengan penyakit berat menunjukkan gejala kegelisahan, kebingungan dan disusul dengan koma sebelum meninggal. Kematian umumnya terjadi pada hari ke-6 hingga hari ke-9 sejak dimulai gejala penyakit. Gejala hemoragi yang lebih ringan akan muncul pada pasien yang terkena infeksi pada akhir suatu wabah daripada pasien yang terinfeksi pada awal wabah. Ibu hamil yang terinfeksi virus Ebola dapat mengalami keguguran (abortus) dengan gejala pendarahan yang hebat.

gejala-klinis-penyakit-ebola

Sumber: http://gudhealth.com/ebola-hemorrhagic-fever.html

Gambar 1 Gejala klinis berupa hemoragi pada kulit akibat dari infeksi virus Ebola

Baca juga mengenai: Sumber Infeksi dan Penularan Virus Ebola

 

Hewan

Wabah penyakit Ebola pada manusia yang terjadi di Afrika berhubungan dengan adanya kematian yang cukup tinggi pada primata non manusia seperti gorilla (Gorilla gorilla), simpanse (Pan troglodytes), mandril (Mandrillus sp.) dan guenon (Cercopithecus sp.). Berdasarkan hal tersebut, maka primata non manusia dikenal sebagai inang insidental. Selain itu, kematian yang cukup tinggi juga terjadi pada pada mamalia non primata liar seperti antelop liar (Chepalophus dorsalis) dan babi liar (Potamuchoerus porcus) serta bangsa kera liar lainnya. Sebelum mati, hewan yang rentan tersebut menunjukkan gejala klinis berupa muntah, diare, bulu rontok dan kekurusan serta terjadi pendarahan dari lubang hidung.

Infeksi virus Ebola pada berbagai spesies kera secara eksperimental menunjukkan penyakit yang parah dengan gejala klinis awal berupa demam dan depresi, kemudian diikuti dengan gejala diare, muntah, hemoragi berupa petekhie di bawah kulit, hemoragi di gastrointestinal dan membran mukosa, lemah, shock dan akhirnya mati. Spesies virus Ebola yang terdapat di Afrika pada umumnya lebih patogen bandingkan dengan Reston ebolavirus, dimana spesies virus Ebola yang terdapat di Afrika menyebabkan gejala klinis lebih parah, hemoragi lebih hebat dan mortalitas yang lebih tinggi.

Masa inkubasi pada hewan yang terinfeksi bervariasi tergantung dari strain virus dan dosisnya. Pada kera Cynomolgus macaques yang di inokulasikan Zaire ebolavirus melalui oral atau konjungtiva mata menujukkan gejala klinis 3-4 hari setelah  infeksi. Masa inkubasi Lake Victoria marburgvirus atau Zaire ebolavirus yang di inokulasikan pada rhesus macaques dan vervet monkey yaitu 3-16 hari, sedangkan pada marmot masa inkubasinya yaitu 4-10 hari.

Baca juga mengenai: Gejala Klinis dari Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus

 

 

 

 

Sumber:

Acha PN, Szyfres B. 2003. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. Third Edition. Volume III. USA : Pan American Health Organization.

Anonim. 2014. Ebola Hemorrhagic Fever. http://gudhealth.com/ebola-hemorrhagic-fever.html [30 April 2014].

[CFSPH]  The Center for Food Security and Public Health. 2009. Viral Hemorrhagic Fevers-Ebola and Marburg. Iowa: Iowa  State University.

Soeharsono. 2002. Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Soejoedono RR. 2004. Zoonosis. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

 

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...

error: Content is protected !!