Home » Klinik & bedah » Feline Calicivirus

Feline Calicivirus

Feline calicivirus merupakan salah satu penyakit yang termasuk ke dalam cat flu. Cat flu adalah penyakit dengan kumpulan gejala pada organ respirasi bagian atas (upper respiratory disease). Cat flu merupakan penyakit yang umum pada kucing dan meskipun tidak fatal pada kucing dewasa yang sehat, tetapi dapat fatal pada anak kucing dan kucing tua yang mengalami imunosuppresi. Terdapat beberapa penyebab dari feline upper respiratory disease complex, tetapi 80-90% dari kasus disebabkan oleh feline herpes-1 (feline rhinotracheitisvirus) dan calicivirus. Penyebab lainya termasuk Chlamydophila felisi, feline reovirus, Bordetella bronchiseptica, Pasteurella spp., dan Mycoplasma. Pada tulisan ini akan dibahas tentang Feline calicivirus.

Feline calicivirus merupakan virus RNA yang dikenal sebagai Picornavirus (Gambar 1). Biasanya virus ini menyerang saluran pernafasan atas seperti paru-paru, selain itu juga menyerang lidah sehingga menyebabkan “tongue and lung disease”. Masa inkubasi penyakit kurang dari 48 jam dan bila tidak diikuti infeksi sekunder berlangsung 5-7 hari.

Struktur calicivirus

Sumber: MacLachlan and Dubovi 2011

Gambar 1 Struktur calicivirus

Penyebaran virus ini biasanya terjadi melalui kontak dengan air liur, cairan yang keluar dari hidung dan mata serta kadang-kadang melalui kotoran kucing yang terinfeksi. Virus ini tahan terhadap berbagai desinfektan dan dapat bertahan di luar tubuh kucing hingga 8-10 hari. Banyak kucing yang telah sembuh tetapi dapat menularkan penyakit ini meskipun tidak menunjukkan gejala sakit (karier). Virus ini sering menyerang kucing muda (kitten), rumah/tempat dengan jumlah kucing banyak dan tempat penampungan hewan. Wabah biasanya terjadi pada kandang/populasi kucing yang padat, ventilasi kurang baik, kandang yang kurang bersih, nutrisi kurang dan suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Kucing yang terinfeksi menyebabkan gangguan pernafasan, luka sekitar bibir dan mulut seperti sariawan (ulkus oral), kadang disertai sakit persendian. Penyakit ini menyebabkan flu yang agak berat tetapi jarang menyebabkan komplikasi serius. Calicivirus mempunyai beberapa strain, strain tertentu menyebabkan gejala yang berbeda seperti luka (ulkus) pada telapak kaki dan mulut. Sebagian besar gejala yang muncul biasanya suara menjadi serak, dan hilangnya nafsu makan.

Replikasi calicivirus terjadi pada jaringan oropharyngeal dan menyebar terutama pada epitel konjungtiva, hidung dan rongga mulut termasuk lidah dan langit-langit mulut. Kemudian terjadi sitolisis pada jaringan yang terinfeksi dengan cepat. Bentuk virulensi sistemik, gejala klinis yang muncul terjadi akibat vaskulitis dan perkembangan koagulasi intravaskuler yang menyebar atau gejala respon peradangan sistemik (systemic inflammatory response syndrome).

Feline calicivirus dapat dicegah dengan cara vaksinasi. Vaksin calicivirus dapat mencegah beberapa varian feline calicivirus. Galur yang resisten selalu ada dan tidak dapat diatasi oleh vaksin yang digunakan. Hewan yang sudah divaksin masih dapat menjadi karier dan dapat membahayakan hewan disekitarnya. Kucing mulai divaksin pada umur 6-12 minggu dengan vaksin inaktif untuk penyakit feline rhinotracheitis, feline calicivirus dan feline panleukopenia (cat distemper). Kemudian diulang 3-4 minggu kemudian sampai berumur 12 minggu. Kucing berumur 12 minggu atau lebih yang belum divaksin disuntik dua kali dengan selang 3-4 minggu.

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk mengeliminasi virus ini. Alfa-interferon dapat diberikan untuk menghambat replikasi virus. Biasanya kucing dijaga senyaman mungkin dengan menjaga tetap hangat dan mengobati gejalanya. Pemberian tetes mata atau salep antibiotik seperti eritromisin untuk gejala konjungtivitis. Discharge pada mata dan hidung harus dibersihkan secara teratur dengan NaCl fisiologis hangat. Infeksi bakteri sekunder dapat diobati dengan antibiotik spektrum luas seperti amoksisilin. Rasa sakit yang ditimbulkan akibat ulser dapat dikurangi dengan pemberian buprenorfin dengan dosis 0,01-0,03 mg/kg berat badan secara intramuskular, intravena atau peroral. Kucing yang terinfeksi feline calicivirus biasanya menyebabkan kehilangan rasa dari penciumannya sehingga kucing akan kehilangan ketertarikan untuk makan. Selain itu, ulcer yang terdapat pada mulut dapat menyebabkan kucing berhenti untuk makan. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan terjadinya malnutrisi dan dehidrasi sehingga pemberian cairan intravena perlu dilakukan.


Sumber :

Côté E. 2011. Clinical Veterinary Advisor. Edisi ke-2. Canada: Elsevier Inc.

Foster dan Smith M. 2009. Feline Upper Respiratory Disease : Rhinotracheitis and Calicivirus Infection in Cat. http://www.peteducation.com/index.cfm [25 Oktober 2009].

Lagerwerf W. 2008. Feline Upper Respiratory Viruses-Part Two;Calici Virus. http://www.cfa.org/articles/health/calici.html. [25 Oktober 2009].

MacLachlan NJ, Dubovi EJ. 2011. Fenner’s Veterinary Virology. Edisi ke-4. UK: Academic Press Elsevier.

Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Tilley LP dan Smith FWK. 2005. The 5 Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Philadelphia : Lippincott Williams and Wilkins.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...