Home » Reproduksi » Faktor Penyebab dan Patogenesa Retensio Secundinae

Faktor Penyebab dan Patogenesa Retensio Secundinae

Sumber: http://breedinglivestock.blogspot.com

Penyebab retensio secundinae atau retensio plasenta bersifat kompleks. Tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya retensio secundinae diantaranya yaitu :

  1. Tidak cukupnya dorongan keluar oleh myometrium
  2. Kegagalan plasenta memisah dari endometrium
  3. Gangguan mekanik.
    Hal ini bisa disebabkan oleh perubahan-perubahan peradangan, belum dewasanya plasenta, ketidak seimbangan hormon, neoplasia, kurangnya migrasi polimorf ke tempat perlekatan dan mungkin juga karena defisiensi imunitas; obstruksi mekanikal termasuk penutupan parsial servik.

Pada dasarnya retensio secundinae adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon fetus dari kripta karankula maternal. Sesudah fetus keluar dan chorda umbilikal putus, tidak ada darah yang mengalir ke villi fetus dan villi tersebut mengkerut dan mengendor. Uterus terus berkontraksi dan sejumlah besar darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang. Karankula maternal mengecil karena suplai darah berkurang dan kripta pada karankula berdilatasi. Pada retensio secundinae pemisahan dan pelepasan villi fetus dari kripta karankula maternal terganggu dan terjadi pertautan. Pada plasenta yang sudah terlepas, proses pelepasan disebabkan oleh autolysa villi kronis. Sesudah beberapa hari terdapat leucosite di dalam plasentom, oleh karena itu plasentitis mudah terjadi.

Infeksi uterus selama kebuntingan dapat menyebabkan retensio secundinae. Mikroorganisme seperti Brucella abortus, Tuberculosis, Vibrio foetus dan beberapa jamur menyebabkan placentitis dan kotiledonitis yang mengakibatkan abortus atau kelahiran patologik dengan retensio secundinae. Mikroorganisme ini dapat menyebabkan abortus dan kelahiran prematur dapat menyebabkan endometritis, plasentitis dan retensio sekundinae. Retensio sekundinae karena penyakit menular hanya mencakup 20 – 30% kasus. Retensio secundinae terjadi 69% dari suatu kelompok sapi diberikan makanan dengan kadar karotene yang rendah. Avitaminosa A dapat menyebabkan hyperkarotenosis, metritis, abortus dan retensio secundinae. Kemungkinan besar vitamin A diperlukan untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epithel uterus dan plasenta. Selain itu, defisiensi vitamin E dan Ca juga menyebabkan terjadinya retensio secundinae.

Atoni uteri pasca melahirkan juga menyebabkan terjadinya retensio secundinae. Atoni uteri terjadi karena induk terlalu lelah merejan pada saat melahirkan atau karena adanya gangguan dalam mekanisme hormon oxytocin. Selain itu, gangguan pelepasan kotiledon dari karunkula induknya juga dapat  menyebabkan terjadinya retensio secundinae. Hal ini terjadi karena adanya peradangan akut, disertai adanya infiltrasi mikroorganisme dalam plasenta, misalnya plasentitis atau kotiledonitis. Gangguan pelepasan kotiledon ini dapat juga disebabkan oleh faktor bukan peradangan, seperti terlalu cepatnya melahirkan dimana plasenta belum mengalami degenerasi, adanya proses udema dari jonjot khorion sehingga menggangu pelepasan kotiledon dari mukosa uterus dan akibat induk defisiensi yodium dan vitamin A selama masa kebuntingan.

Retensio secundinae akibat dari gangguan mekanik terjadi apabila plasenta sudah terlepas dari dinding uterus tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari saluran kelamin karena berbagai faktor misalnya plasenta masuk ke dalam kornua yang tidak bunting, canalis cervicalis yang menutup terlalu cepat sehingga plasenta tertahan, atau dapat juga terjadi karena tersangkut pada karunkula yang besar.

 

 

Sumber :

Hardjopranjoto SH. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Surabaya : Airlangga University Press.

Jackson PGG. 2004. Handbook of Veterinary Obstetric. Elsevier : Saunders

Manan D. 2002. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Proyek Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Apa Itu Retensio Sekundinae dan Bagaimana Penanganannya?

Apa itu retensio secundinae? Retensio secundinae merupakan suatu keadaan dimana tertahannya membran fetus (plasenta) dalam ...

error: Content is protected !!