Home » Kesmavet » Faktor-faktor Resiko Kejadian Tuberkulosis

Faktor-faktor Resiko Kejadian Tuberkulosis

penularan TB
Terdapat beberapa faktor yang memicu berkembangnya penyakit TB pada kelompok masyarakat. Media penularan melalui udara dapat mempercepat proses penularan penyakit ini. Biasanya seorang penderita dapat menularkan pada saat terjadi ekspirasi paksa seperti batuk, bersin, ketawa keras dan sebagainya. Tidak semua orang yang sudah terkontaminasi atau terpapar dengan bakteri penyebab TB akan menjadi sakit. Faktor-faktor yang erat hubungannya dengan terjadinya infeksi basil TB adalah sumber penularan, jumlah basil, virulensi basil dan daya tahan tubuh seseorang, dalam hal ini ketahanan tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, faali, jenis kelamin, usia dan faktor lingkungan (nutrisi, perumahan dan pekerjaan). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian TB pada kelompok masyarakat diantaranya : faktor predisposisi (status gizi, imunisasi, HIV, diabetes melitus dan pendidikan), faktor pendukung (lingkungan rumah, sosial ekonomi, fasilitas dan sarana kesehatan), faktor pendorong (gaya hidup dan prilaku masyarakat) serta lainnya (umur dan jenis klamin).

a. Umur

Umur merupakan faktor resiko terhadap kejadian TB. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis yaitu pada umur 15 – 50 tahun. Berdasarkan hasil penelitian pada semua penderita TB yang menjalani pengobatan di Puskesmas Sedati didapatkan bahwa penderita TB terbanyak pada usia 20 – 54 tahun (81,4%) yang merupakan usia produktif, kemudian pada usia lebih dari 54 tahun (11,6%) dan kurang dari 20 tahun (7%).

Pada usia produktif mayoritas orang banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja, dimana tenaga banyak terkuras serta waktu istirahat kurang sehingga daya tahan tubuh menurun ditambah lagi dengan lingkungan kerja yang padat dan berhubungan dengan banyak orang yang kemungkinan sedang menderita TB. Kondisi kerja seperti ini memudahkan seseorang pada usia produktif lebih berpeluang terinfeksi TB.

b. Jenis kelamin

Pada umumnya penderita TB lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Berdasarkan hasil survei yang di lakukan pada seluruh penderita TB di Kabupaten Karo didapatkan bahwa penderita TB pada laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yaitu 60,4% pada laki-laki dan 22% pada perempuan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya seorang laki-laki dituntut bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama yang berusia produktif, bahkan terkadang masih ada yang bekerja meskipun sudah tua. Dibandingkan dengan seorang perempuan yang pada umumnya terinfeksi TB setelah persalinan akibat proses persalinan yang kurang bersih atau terinfeksi HIV yang mengakibatkan kekebalan tubuh menurun. Angka kejadian TB pada laki-laki cukup tinggi pada semua usia, tetapi pada perempuan angka kejadian TB cenderung menurun setelah melampaui usia subur. Selain itu, laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terinfeksi TB paru sebanyak 2,2 kali.

c. Diabetes melitus dan HIV

Diabetes melitus dapat mengganggu respons immun yang penting untuk mengatasi proliferasi TB sehingga diabetes melitus merupakan suatu faktor resiko untuk TB. Diabetes melitus juga sebagai suatu faktor resiko independen untuk infeksi saluran pernafasan bawah. Frekuensi terjadinya TB pada diabetes melitus lebih tinggi dibanding dengan bakteri-bakteri lainnya. Prevalensi TB paru pada diabetes melitus meningkat 20 kali dibanding non diabetes melitus dan aktivitas bakteri penyebab TB meningkat 3 kali pada diabetes melitus berat dibanding diabetes melitus ringan. Selain itu, pasien dengan diabetes melitus dan TB membutuhkan masa yang lebih lama untuk respons terhadap terapi anti-TB. Pasien dengan diabetes melitus dan TB aktif juga lebih cenderung terjadinya multi-drug resistant TB.

Infeksi HIV merupakan faktor resiko yang paling penting dalam peningkatan kejadian TB. Penderita TB menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV merupakan penularan TB tertinggi. Infeksi HIV menyebabkan terjadinya imunosupresi sehingga memungkinkan terjadinya replikasi M. tuberculosis yang lebih luas pada paru-paru dan berlanjut pada kondisi yang lebih buruk.

d. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan sebagai faktor predisposisi terhadap kejadian TB di kelompok masyarakat. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi prilaku. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah menerima informasi atau pengetahuan tentang TB. Seseorang dengan tingkat pengetahuan yang memadai mempunyai dasar pengembangan daya nalar dan merupakan jalan untuk memudahkan orang tersebut menerima motivasi.

e. Sosial ekonomi

Kejadian TB biasanya berkaitan dengan faktor sosial ekonomi. Menurut WHO (2011), 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok sosial ekonomi rendah atau miskin. Kemiskinan (sosial ekonomi rendah) merupakan keadaan yang mengarah pada kondisi kerja yang buruk, perumahan yang terlalu padat, lingkungan yang buruk serta malnutrisi (gizi buruk) karena kurangnya kemapuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi TB.

Tingkat sosial ekonomi ditentukan oleh unsur-unsur seperti : pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan. Tingkat sosial ekonomi terutama penghasilan sangat berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan hidup seseorang dan keluarga. Sebuah keluarga dengan kondisi perekonomian baik tentunya dapat memenuhi segala kebutuhan termasuk kebutuhan akan kesehatan, sedangkan keluarga dengan ekonomi rendah harus selektif dalam pengeluaran karena pada umumnya mereka lebih mementingkan kebutuhan hidup sehari-hari sehingga hal-hal yang turut mendukung kesehatan sering kali diabaikan. Hal ini yang memicu munculnya penyakit di masyarakat termasuk TB.

f. Kepadatan (crowding)

Kepadatan penghuni rumah sangat mempengaruhi terjadinya penularan penyakit terutama penyakit yang menular melalui udara seperti TB. Semakin padat penghuni di dalam rumah maka perpindahan penyakit akan semakin mudah dan cepat, apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita TB dengan BTA positif. Daerah perkotaan (urban) yang lebih padat penduduknya lebih besar peluang terjadinya kontak dengan penderita TB dibandingkan di daerah pedesaan (rural). Selain itu, perumahan yang padat juga berkaitan dengan peningkatan kejadian TB.

Berdasarkan penelitian Atmosukarto dan Soewasti (2000), didapatkan bahwa : 1) Keluarga penderita TB mempunyai kebiasaan tidur dengan balita mempunyai resiko terkena TB 2,8 kali dibanding dengan yang tidur terpisah; 2) Tingkat penularan TB di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2 – 3 orang di dalam rumahnya; 3) Besar resiko terjadinya penularan untuk keluarga dengan penderita lebih dari 1 orang adalah 4 kali dibanding dengan keluarga yang hanya 1 orang penderita TB.

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni ≥10 m²/orang.

g. Keadaan jendela dan ventilasi

Ruangan dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Salah satu fungsi ventilasi adalah menjaga aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Luas ventilasi rumah yang < 10% dari luas lantai (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteri-bakteri patogen seperti M. tuberculosis. Fungsi kedua ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri terutama bakteri patogen seperti M. tuberculosis, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Selain itu, luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangngya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya basil TB yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan.

h. Kelembaban

Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40 – 60%. Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme antara lain bakteri, spiroket, ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara. Selain itu, kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. M. tuberculosis seperti halnya bakteri lain, akan tumbuh dengan baik pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri.

i. Suhu dan pencahayaan

Suhu dalam rumah akan membawa pengaruh bagi penguninya. Suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan meningkatkan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses evaporasi. Kehilangan panas tubuh ini akan menurunkan vitalitas tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena infeksi terutama infeksi saluran nafas oleh agen yang menular. M. tuberculosis memiliki rentang suhu yang disukai, tetapi di dalam rentang ini terdapat suatu suhu optimum saat mereka tumbuh pesat. M. tuberculosa merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh baik pada suhu 25 – 40 ºC, akan tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31 – 37 ºC.

Cahaya matahari mempunyai sifat membunuh bakteri terutama bakteri M. tuberculosis. Bakteri ini dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian TB. Kuman tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun dan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol, karbol dan panas api. Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dimasuki sinar matahari.

j. Kebiasaan merokok

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian tidak disebutkan bahwa kebiasaan merokok bukan merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian TB, akan tetapi pola hidup seseorang dengan kebiasaan merokok dapat memicu kemungkinan tertular TB. Sebanyak 71 responden yang mempunyai kebiasaan merokok terdapat 64 orang (70,3%) yang menderita TB. Hal ini dapat disebabkan karena orang-orang dengan kebiasaan merokok beresiko lebih tinggi terhadap penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dibandingkan dengan yang tidak merokok.

 

 

 

 

Sumber :

Atmosukarto dan Soewasti S. 2000. Pengaruh Lingkungan Pemukiman dalam Penyebaran Tuberkulosis. Media Litbang Kesehatan 9(4) : 20-25.

[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Panduan Nasional Penularan Tuberkulosis. Edisi ke-2. Jakarta : Depkes RI.

Espinal MA et al. 2000. Infectiousness of Mycobacterium Tuberculosis in HIV-1-Infected Patients with Tuberculosis: A Prospective Study. The Lancet 355 : 275-280.

Guptan A and Shah A. 2000. Tuberculosis and Diabetes : An Appraisal. Indian J. of TB 47: 3-6.

Gould D and Brooker, C. 2003. Mikrobiologi Terapan untuk Perawat. Jakarta: EGC.

Lienhardt C et al. 2003. Risk Factors for Tuberculosis Infection in Sub-Saharan Africa. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine 168 : 448-455.

Rao VG et al. 2010. Pulmonary Tuberculosis: A Public Health Problem Amongst The Saharia, A Primitive Tribe of Madhya Pradesh, Central India. International Journal of Infectious Diseases 14 : 713–716.

Notoatmodjo S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Shetty N, Shemko M, Vaz M, D’Souza G. 2006. An Epidemiological Evaluation of Risk Factors for Tuberculosis in South India: A Matched Case Control Study. Nint J Tuberc Lung Dis 10(1) : 80–86.

Soejadi TB, Apsari DA, Suprapto. 2007. Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kasus Tuberkulosis Paru. Jurnal Ilmiah PANNMED 2 (1) : 13-19.

Tanrikulua AC et al. 2008. Tuberculosis in Turkey: High Altitude and Other Socio-economic Risk Factors. Public Health 122 : 613–619.

Wanyekia I et al. 2006. Dwellings, Crowding and Tuberculosis in Montreal. Social Science & Medicine 63: 501–511.

[WHO] World Health Organization. 2011. Global Tuberculosis Control 2011. France : WHO Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Apa Itu Leptospirosis dan Bahayanya Terhadap Hewan

Apa itu Leptospirosis dan agen penyebabnya? Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ...