Home » Klinik & bedah » Enteritis pada Hewan

Enteritis pada Hewan

Enteritis merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan terjadinya peradangan pada mukosa usus yang menimbulkan gangguan fungsi usus dimana peristaltik dan sekresi usus meningkat, namun fungsi dan absorpsi usus berkurang sehingga menimbulkan gejala klinis berupa diare. Enteritis biasanya dapat juga terjadi bersamaan dengan gastritis sehingga disebut dengan gastroenteritis.

Gejala klinis yang umum ditemukan pada enteritis adalah sakit pada abdomen, diare dan kadang-kadang dapat menyebabkan disentri. Diare akibat dari enteritis dapat bersifat kataralis ataupun berdarah dan tergantung dari agen yang menginfeksi. Enteritis yang terjadi dapat berlangsung akut atau kronis. Enteritis akut dapat berlangsung dalam 24 jam, sedangkan enteritis kronis dapat berlangsung selama beberapa bulan. Pada enteritis akut ditandai dengan gejala sakit pada abdomen, anoreksia, diare bentuk charlatanistic dengan kosistensi feses lembek atau cair dan menghasilkan bau yang tidak enak. Pada enteritis kronis ditandai dengan gejala diare mengandung darah (Gambar 1) dan sisa-sisa mukosa serta berlendir, nafsu makan biasanya sudah normal tetapi rasa haus meningkat, dan rasa sakit pada abdomen jarang ditemukan. Gejala lain yang ditemukan pada enteritis yaitu terdapat feses yang masih menempel di daerah sekitar anus, ekor sampai ke paha, pada saat auskultasi abdomen menandakan peningkatan motilitas dan fluiditas dari usus, pada kasus yang berat terjadi shock dengan denyut jantung yang tidak beraturan, kadang-kadang terjadi demam, terjadi dehidrasi pada diare yang parah. Intususepsio usus atau prolapsus rektum dapat terjadi pada kasus diare yang sangat berat.

Enteritis dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor penyebab dengan tingkat keparahannya yang bervariasi tergantung dari agen penyebab dan faktor dari inang yang terinfeksi seperti immunitas, stress, kondisi gizi dan umur. Berikut ini akan diuraikan agen penyebab dari enteritis yaitu sebagai berikut:

  1. Virus, misalnya virus rinderpest, bovine viral diarrhea, virus enteritis, infectious bovine rhinotracheitis, blue tongue, canine parvovirus, canine distemper virus dan canine coronavirus.
  2. Bakteri yang sering menyebabkan enteritis adalah E. coli, Salmonella spp., Clostridium perferingen dan Mycobacterium paratuberculosae.
  3. Protozoa yang dapat menyebabkan diare yaitu Eimeria sp. yang biasanya menyerang ternak muda, Giardia sp., Coccidia sp., Trichomonas sp.
  4. Cacing usus yang termasuk di dalam famili Strongylidae, Oesophagostomum sp, Trichostrongylus sp., Cooperia sp. dan Nematodirus sp. sering menyebabkan kerusakan selaput lendir usus, Paramphistomum sp., Copperia sp., Chabertia sp., dan Nematodirus sp.
  5. Keracunan karena bahan – bahan kimia dan juga bisa disebabkan oleh tanaman beracun. Keracunan oleh bahan-bahan kimia diantaranya timbal, arsen, fosfor, tembaga dan bahan kimia lainnya menyebabkan enteritis.
  6. Agen fisik, yaitu apabila menelan sejumlah besar pasir atau debu. Hal biasanya terjadi pada kuda (sand kolik).
  7. Memakan makanan yang berlebihan berupa biji-bijian yang dapat menghasilkan sejumlah besar asam laktat yang dapat memicu enteritis.

Kasus enteritis dengan gejala utama diare pada pedet (anak sapi) sering terjadi. Diare pada pedet biasanya dihubungkan dengan gangguan pada usus halus dan bisa disebabkan oleh hipersekresi dan malabsorbsi. Hal ini menyebabkan pedet kehilangan air, sodium, potasium, dan bikarbonat, bahkan pada beberapa kasus pedet mengalami hipovolemia, hiponatremia, acidosis dan prerenal azotemia. Diare akut pada pedet ini ditandai dengan dehidrasi parah dan kematian (kadang dalam waktu kurang lebih 12 jam). Pada kejadian subakut diare akan berlangsung beberapa hari sehingga menimbulkan malnutrisi dan emasiasi (kekurusan). Kejadian diare pada pedet merupakan interaksi kompleks antara tiga faktor yang saling berhubungan yaitu, antara pedet dan induk, lingkungan sekitar pedet (termasuk manajemen pemeliharaan) dan agen infeksius. Faktor risiko yang paling penting pada diare pedet berhubungan dengan resistensi terhadap penyakit (immunitas pedet), tingkat keterpaparan terhadap agen infeksius dan pakan.

Terapi yang seharusnya diberikan terhadap penderita diare yaitu memberikan antibiotik spektrum luas, vitamin atau multivitamin untuk memperbaiki kondisi tubuh serta pemberian infus atau cairan sebagai pengganti cairan tubuh akibat dehidrasi. Absorbensia (Kaolin) dapat digunakan untuk meningkatkan konsistensi feses serta antispasmodik (Papaverin HCl) untuk menurunkan gerakan peristaltik usus. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan analgesika (antalgin, aspirin) dan jika penyebab enteritis adalah keracunan maka dapat diberikan susu untuk menghentikan kerja racun. Selain itu, pemberian obat anthelmintik dan antiprotozoa juga dianjurkan terutama bila didukung oleh hasil pemeriksaan feses. Hewan dengan enteritis bakterial atau kerusakan mukosa usus (dicirikan dengan adanya darah dalam feses) harus diobati menggunakan antibiotik berspektrum luas.

Hemoragi gastroenteritis pada anjing yang ditandai dengan feses berdarah

Sumber: Schaer 2008

Gambar 1 Hemoragi gastroenteritis pada anjing yang ditandai dengan feses berdarah

Gambaran patologi antomi dari usus halus yang mengalami enteritis kataral akut

Sumber: Van Dijk et al. 2007

Gambar 2 Gambaran patologi antomi dari usus halus yang mengalami enteritis kataral akut

 

 

 

Sumber :

Aiello et al. 2000. The Merck Veterinary Manual. Edisi ke-8. USA : Whitehouse station.

Ettinger SJ, Feldman EC. 2004. Textbook of Veterinary Internal Medicine. Volume 1. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier Saunders.

Schaer M. 2008. Clinical Signs in Small Animal Medicine. USA: Manson Publishing.

Soekotjo W. 1979. Ilmu Penyakit Dalam Hewan Besar I. Bogor : Bagian Klinik Veteriner FKH IPB.

Subronto. 1995. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogjakarta : Gadjah Mada University Press.

Tilley LP dan Smith FWK. 2005. The 5 Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Philadelphia : Lippincott Williams and Wilkins.

Van Dijk JE, Gruys E, Mouwen JMVM. 2007. Color Atlas of Veterinary Pathology. Edisi ke-2. Philadelphia: Saunders Elsevier.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Pertolongan Pertama Ketika Kucing Mengalami Mencret atau Diare

Mencret atau diare bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit. Kucing yang mengalami ...