Home » Klinik & bedah » Diagnosa, Pencegahan dan Terapi Canine parvovirus

Diagnosa, Pencegahan dan Terapi Canine parvovirus

Canine parvovirus menyerang sel epitel usus

Hill’s 2007


Diagnosa

Tidak semua kasus diare berdarah pada anjing (dengan atau tanpa muntah) disebabkan oleh virus parvo (Canine parvovirus). Diagnosis infeksi virus parvo didasarkan pada anamnesa yang terpercaya dan gejala klinis lalu dikonfirmasi oleh hasil tes fekal dengan ELISA (Enzyme-linked Immunoabsorbent Assay) atau tes HA. Hasil positif ELISA bisa didapatkan pada hari pertama gejala klinis muncul dan 3-4 hari berikutnya serta penyebaran virus akan berhenti pada 10 – 14 hari pasca infeksi. Hasil uji ELISA dapat memberikan hasil negatif palsu jika dilakukan terlalu awal. Apabila anamnesa dan gejala klinis mendukung diagnosa parvovirus, tetapi pada uji ELISA negatif maka tes ELISA harus diulang. Hasil ELISA memiliki arti diagnostik dan bila positif setidaknya 104 partikel virus tiap gram tinja.

Sebagian besar anjing yang terinfeksi pada hasil pemeriksaan darah menunjukkan leukopenia atau limfopenia. Sedangkan neutropenia tergantung pada infeksi yang terjadi. Pada hasil pemeriksaan kimia darah bisa ditemukan terjadinya hipoalbuminemia, hiponatremia, hipokalemia, dan hipochloremia. Level ALT dalam serum meningkat pada beberapa kasus. Konfirmasi diagnosa tersebut dapat dilakukan dengan adanya peningkatan titer antibodi IgG terhadap parvovirus selama 7-14 hari, terdeteksinya antibodi IgM yang tidak divaksinasi dalam waktu 3-4 minggu sebelumnya, atau dapat juga dilakukan dengan mendeteksi partikel virus dalam feses menggunakan immunoflorescence, immunoperoxide staining, atau mikroskop elektron.

Pencegahan

Pencegahan terhadap virus parvo pada anjing dilakukan dengan cara vaksinasi pada umur 6, 9, dan 12 minggu, kemudian dilakukan pengulangan setiap tahunnya. Vaksin virus parvo tersedia dalam bentuk live vaccine (vaksin hidup) dan killed vaccine (vaksin mati). Vaksin hidup akan menghasilkan infeksi yang asimtomatik (tanpa gejala) dan durasi immunitas yang terbentuk lebih lama dibandingkan dengan vaksin inaktif (killed vaccine).

Terapi

Terapi untuk gastroenteritis yang disebabkan oleh CPV lebih bersifat simtomatis dan suportif. Terapi yang dapat diberikan untuk CPV diantaranya :

  1. Pemberian cairan fisiologis dan elektrolit
  2. Pemberian antibiotik spektrum luas mencegah infeksi sekunder, jika hewan tidak memperlihatkan gejala muntah maka dapat diberikan antibiotik Aminoglykosida (Neomycin, Gentamicin atau Kanamycin) dapat diberikan secara oral untuk mengurangi bakteri di saluran intestin dan mencegah invasi agen secara sistemik. Pemberian derivat Penicillin dan Aminoglykosida bersamaan secara intravena jika terjadi septikemia
  3. Pemberian short-acting soluble Corticosteroid (Dexamethasone sodium pospatase atau Prednisolone sodium succinat);
  4. Antiemetik (Metoclopramide) untuk pasien yang menunjukkan gejala muntah
  5. Antidiare
  6.  Tranfusi dengan plasma atau darah untuk pasien hipovolemia akibat kehilangan serum protein dari intestine.

 

Sumber:

Anonimus 2008. Canine Parvovirus pada Anjing. http://www.vet-klinik.com/ [31 Oktober 2009].

Lamm CG & Rezabek GB. 2008. Parvovirus infection in domestic companion animals. Dalam Veterinary Clinics of North America Small Animal Practice: Emerging and Reemerging Viruses of Dogs and Cats. Editor: Kapil S dan Lamm CG. W.B. Saunders Co. Philadelphia.

Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarja : Gadjah Mada University.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...