Home » Klinik & bedah » Cystitis pada Sapi

Cystitis pada Sapi

Apa Itu Cystitis?

Cystitis pada sapi merupakan sebuah peradangan pada saluran urinasi sapi yang dapat meluas ke ureter dan menyebabkan infeksi juga pada ginjal (pyelonefritis). Hal yang sama juga dapat terjadi pada domba. Kondisi demikian bersifat sporadik dan distribusinya meluas di penjuru dunia atau umum terjadi. Kejadian ini paling sering terlihat setelah melahirkan (partus) dan pada satu studi menyatakan persentasenya mencapai 83%, dengan resiko tertinggi pada induk yang sering melahirkan.

 

Agen Penyebab Cystitis

Agen yang paling sering menyebabkan Cystitis ini adalah bakteri Corynebacterium dan E.coli. Beberapa spesies Corynebacterium yang dapat meyebabkan cystitis yaitu C. renale, C. cystitidis dan C. pilosum. E.coli sering ditemukan pada kasus kronis dan biasanya diikuti infeksi Corynebacterium. Organisme lain yang sering ditemukan pada kasus cystitis namun tidak terlalu penting adalah Staphylococci dan Streptococci.

Corynebacterium spp. and E. coli merupakan agen yang sering menyebabkan cystitis dan banyak terdapat di lingkungan serta tidak berhabitat di vagina dan preputium. Pyelonefritis berkembang dari infeksi kandung kemih. Cystitis dapat muncul tanpa melibatkan ureter atau tanpa berkembang menjadi infeksi pada ginjal hingga ada kejadian yang menyebabkan hilangnya mekanisme pertahanan dari mukosa ureter. Organisme dapat menyentuh dan berkembang pada mukosa dari kandung kemih dan ureter setelah kejadian traumatik yang melemahkan pertahanan mukosa seperti stres melahirkan, puncak laktasi dan diet protein tinggi (meningkatnya pH urin sangat baik untuk pertumbuhan organisme).

 

Gejala Klinis Cystitis

Gejala klinis sapi terkena cystitis yaitu sebagai berikut:

  1. Anoreksia
  2. Demam tinggi
  3. Produksi turun
  4. hematuria atau pyuria
  5. Pada beberapa kasus kronis, hewan mengalami kolik, diare, polyuria, polydipsia, stranguria dan anemia

Progres dari penyakit ini adalah kandung kemih menjadi tebal dan meradang. Ureter juga menebal dan melebar berisi eksudat purulen. Ginjal yang terkena juga dapat menjadi kecil dan terdapat abses pada permukaannya yang dapat meluas hingga korteks dan medula ginjal.

 

Diagnosa Cystitis

Mendiagnosa cystitis dapat diihat dari tanda atau gejala klinis seperti adanya hematuria, pembesaran ginjal kiri ketika palpasi, kehilangan lobulasi dan ada rasa nyeri. Kemudian dapat juga dengan endoskopi vagina untuk mendeteksi peradangan dan pembesaran ureter, ekseminasi mikroskopis urin untuk melihat sel darah putih dan bakteri, dipstick screening untuk proteinuria dan hematuria dan kultur urin untuk mengidentifikasi organisme. Pada beberapa kasus akut pembesaran ureter dan ginjal kemungkinan tidak dapat terdeteksi dengan palpasi rektal.

 

Pengobatan Cystitis

Diagnosa yang tepat serta terapi yang mendukung sangat baik untuk penyembuhan kasus cystitis ini. Sampel urin harus diambil untuk kultur dan uji sensitivitas terhadap antibiotik. Terapi yang dapat dipilih untuk kasus pyelonefritis karena C renale adalah pemberian antibiotik yaitu Penicillin (22,000 IU/kg, IM) atau Trimethoprim-Sulfadoxine (16 mg combined/kg, IM, ) selama ≥ 3 minggu. Penggunaan antibotik harus diperhatikan guna mencegah adanya resistensi. E. Coli dapat diatasi dengan antibiotik broad spektrum seperti Gentamicin (2.2 mg/kg, IM, bid) selama 4 minggu.

Gambar 1 Perubahan pada kandung kemih yang mengalami cystitis

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Pembusukan Oleh Alcaligenes spp. pada Telur

Telur mengandung protein tinggi yang sangat baik bagi tubuh manusia. Kuning telur mengandung asam amino ...