Home » Kesmavet » Cemaran Aflatoksin pada Susu dan Produk Olahan Susu

Cemaran Aflatoksin pada Susu dan Produk Olahan Susu

aflatoksin pd susu
Susu merupakan bahan pangan asal hewan yang potensial sebagai sumber masuknya aflatoksin M1 ke dalam rantai pangan manusia. Kontaminasi aflatoksin M1 pada susu dapat berasal dari pakan ternak yang tercemar aflatoksin B1 (carry-over dari pakan ) kemudian dikonsumsi oleh sapi perah. Hal ini menimbulkan resiko adanya pencemaran aflatoksin M1 pada susu. Metabolisme aflatoksin B1 dapat menghasilkan aflatoksin M1, hal ini dibuktikan dengan terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1. Jumlah hasil metabolisme dalam bentuk aflatoksin M1 diperkirakan sekitar 1% dari aflatoksin B1 asal yang mencemari makanan ternak, dengan demikian susu mempunyai kecendrungan untuk selalu tercemari oleh aflatoksin M1.

Kendala utama dalam penanganan aflatoksin M1 pada susu adalah sifatnya yang stabil pada pemanasan, baik suhu pasteurisasi maupun sterilisasi, dan proses penyimpanan. Aflatoksin M1 tidak terurai pada pemanasan mencapai 250 °C, sehingga masih dapat ditemukan pada susu pasteurisasi, susu ultra high temperature (UHT), susu bubuk dan keju. Keberadaan aflatoksin M1 dalam susu dapat mengganggu kesehatan manusia terutama bagi anak-anak karena dapat menyebabkan kanker hati (hepatocelluler carcinoma).

Hasil pengamatan FDA di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa cemaran M1 beragam dari 0,01 sampai 3,90 µg/kg. Tingkat cemaran aflatoksin M1 menurun selama proses pengolahan khususnya setelah pasteurisasi dan sterilisasi. Sebagai contoh, dari cemaran aflatoksin M1 375 µg/kg turun menjadi 140 µg/kg dan 72 µg/kg berturut-turut setelah proses pasteurisasi dan sterilisasi.

Pada olahan susu lainnya seperti mentega, keju dan susu kental manis juga dapat tercemar aflatoksin M1. Hasil pengamatan di Perancis memperlihatkan bahwa keju dapat mengandung aflatoksin M1 95 – 2150 ppb (µg/kg) dengan frekuensi pencemaran 30%, mentega 0 – 150 ppt dan susu kental manis 220 – 2250 ppb dengan frekuensi berturut-turut 6% dan 40%.

Keberadaan aflatoksin M1 pada susu segar dari beberapa daerah di Indonesia telah dilaporkan dengan konsentrasi yang bervariasi. Kandungan aflatoksin M1 pada susu segar dari peternakan rakyat di Kota Bogor dan Pangalengan (Kabupaten Bandung) menunjukkan 78.38% (29 dari 37 sampel) terdeteksi aflatoksin M1 dengan konsentrasi 0.001-1.2 ppb. Survei untuk mendeteksi aflatoksin M1 juga telah dilakukan pada 113 sampel susu segar yang berasal dari peternakan sapi perah di Yogyakarta dengan hasil 57.5% terdeteksi aflatoksin M1 dengan konsentrasi 0.005-0.025 ppb.

International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan aflatoksin B1 dan aflatoksin M1 sebagai penyebab kanker pada manusia dalam grup 1 (carcinogenic to human). Aflatoksin dapat mengakibatkan kerusakan hati dan kanker hati apabila dikonsumsi dalam jumlah kecil secara terus menerus. Oleh karena itu, banyak negara yang membatasi konsentrasi maksimum kandungan aflatoksin M1 dalam produk susu, seperti Amerika Serikat sebesar 0,5 ppb dan Uni Eropa sebesar 0,05 ppb. Batas maksimum kandungan aflatoksin M1 pada susu dan produk olahan susu di Indonesia ditetapkan dalam SNI 7385-2009 dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 yaitu 0,5 ppb.

 

 

 

Sumber :

Al-Sawaf SD, Abdullah OA, Sheet OH. Use of enzyme linked immunosorbent assay for detection of aflatoxin M1 in milk powder. 2012. Iraqi J Vet Sci. 26(1):39-42.

Celik TH, Sarimehmetoglu B, Kuplulu O. 2005. Aflatoxin M1 contamination in pasteurised milk. Vet Arhiv. 75(1):57-65.

Heshmati A, Milani JM. 2010. Contamination of UHT milk by aflatoxin M1 in Iran. Food Control. 21:19-22.

Lanyasunya, T P et al.. 2005. The risk of mycotoxins contamination of dairy feed and milk on smallholder dairy farms in Kenya. Pakistan Journal of Nutrition 4 (3): 162-169.

Nuryono N, Agus A, Wedhastri S, Maryudani YB, Setyabudi FMCS, Bohm J, Razzazi-Fazeli E. 2009. A limited survey of aflatoxin M1 in milk from Indonesia by ELISA. Food Control. 20:721-724.

Prandini A, Tansini G, Sigolo S, Filippi L, Laporta M, Piva G. 2009. On the occurrenc of aflatoxin M1 in milk and dairy products

Susu merupakan bahan pangan asal hewan yang potensial sebagai sumber masuknya aflatoksin M1 ke dalam rantai pangan manusia. Kontaminasi aflatoksin M1 pada susu dapat berasal dari pakan ternak yang tercemar aflatoksin B1 (carry-over dari pakan ) kemudian dikonsumsi oleh sapi perah. Hal ini menimbulkan resiko adanya pencemaran aflatoksin M1 pada susu. Metabolisme aflatoksin B1 dapat menghasilkan aflatoksin M1, hal ini dibuktikan dengan terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1. Jumlah hasil metabolisme dalam bentuk aflatoksin M1 diperkirakan sekitar 1% dari aflatoksin B1 asal yang mencemari makanan ternak, dengan demikian susu mempunyai kecendrungan untuk selalu tercemari oleh aflatoksin M1.…

Review Overview

User Rating: Be the first one !
. Food Chem Toxicol. 47:984-991.

Sarimehmetoglu B, Kuplulu O, Celik TH. 2004. Detection of aflatoxin M1 in cheese samples by ELISA. Food Control 15:45-49.

Syarief R dkk. 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor : IPB Press.

Widiatuti R. 2006. Mikotoksin: pengaruh terhadap kesehatan ternak dan residunya dalam produk ternak serta pengendaliannya. Wartazoa. 16 (3):116-127.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Agen Penyebab Ringworm dan Cara Penularannya

Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh jamur/cendawan yang hidup pada bagian kutan/superfisial atau bagian dari ...

error: Content is protected !!