Home » Kesmavet » Cemaran Aflatoksin pada Jagung

Cemaran Aflatoksin pada Jagung

Aflatoksin dapat mencemaran bahan pangan seperti jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya cemaran aflatoksin pada jagung meskipun kadarnya cukup beragam. Contoh jagung yang diambil dari tingkat petani dan pasar setempat diletakkan diatas dapur rumah tangga ternyata peluang tumbuh kapang Aspergillus flavus sangat kecil karena jagung selalu terasapi dan cemaran aflatoksin juga rendah. Sebaliknya jagung yang dianalisa BULOG pada umumnya dari tingkat KUD atau pedagang sudah lama disimpan di gudang sehingga peluang tercemar Aspergillus flavus cukup besar dan diikuti oleh pencemaran aflatoksin.

Proses penanganan jagung paskapanen tingkat petani masih dilakukan secara manual dengan bantuan peralatan yang sederhana, dimana pengeringannya dilakukan dengan cara penjemuran di bawah sinar matahari dan perontokan atau pemipilannya dilakukan dengan menggunakan tangan. Kondisi penanganan seperti ini sangat rentan terkena Aspergillus flavus yang menghasilkan aflatoksin. Keadaan ini juga didukung oleh iklim negara kita yang memiliki kelembaban relatif rata-rata yang cukup tinggi (sekitar 70 – 80%).

Aspergillus flavus pada jagung

Gambar 1. Aspergillus flavus pada jagung

Bukti-bukti dari berbagai penelitian mengungkapkan bahwa jagung merupakan komoditas yang mudah tercemar aflatoksin. Hasil penelitian di Filipina mengungkapkan kemungkinan besar adanya kaitan tingginya kejadian kangker hati dengan cemaran aflatoksin jagung karena lebih banyak kejadian kangker hati pada daerah yang menggunakan jagung sebagai makanan pokok serta ditemui adanya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut.

Hasil penelitian yang dilaporkan pada tahun 2004 (Rachmawati 2004; Yanuartin 2004), ternyata dari 123 sampel jagung (lokal dan impor) untuk bahan pakan yang dikumpulkan dari berbagai sumber diantaranya pabrik pakan, toko pakan, instansi Balai Pengujian Mutu Pakan, sebanyak 50 sampel mengandung aflatoksin B1 melebihi standar mutu yang ditetapkan SNI yaitu > 50 ug/kg (> 50 ppb) atau sebanyak 40,7%. Jagung lokal diperoleh dari Jawa Timur, Jawa Tengah (Purwokerto, Boyolali), Lampung, dan Makasar. Ternyata jagung dari Makasar mengandung aflatoksin cukup tinggi kisaran hasil analisis dari 4 sampel menunjukan nilai 218,0-517,0 ug/kg, jagung Jatim dari 13 sampel, 9 sampel diantaranya mengandung aflatoksin B1 > 50 ug/kg, dan kadar tertinggi 214 ug/kg, selanjutnya jagung Lampung 3 dari 14 sampel mengandung aflatoksin B1 melebihi SNI (>50 ug/kg) dan yang tertinggi adalah 131ug/kg. Sedangkan jagung impor (China, Thailand dan India) umumnya mengandung aflatoksin lebih rendah dibandingkan jagung lokal, dan yang berasal dari China terbaik kualitasnya dengan kadar aflatoksin dalam kisaran tidak terdeteksi sampai 7,0 ug/kg, kemudian dari India dan kualitas yang kurang baik berasal dari Thailand, 6 dari 8 sampel, aflatoksinnya > SNI, dengan kadar kisaran 43 sampai 82 ug/kg.

Selanjutnya laporan hasil penelitian tahun 2008 (Tangendjaja et al.2008), sebanyak 46,32% (163 dari 356 sampel jagung) yang dikumpulkan dari berbagai pabrik pakan di Indonesia mengandung aflatoksin B1 melebihi SNI dengan rata-rata 58,8 ug/kg dan kadar yang tertinggi adalah 236 ug/kg. Jagung lokal dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah mengandung aflatoksin cukup tinggi. Sedangkan jika dibandingkan jagung lokal dengan jagung import (USA dan Argentina) , jagung lokal mengandung aflatoksin 7 kali lebih tinggi.

 

 

Sumber :

Miskiyah dan Widaningrum. 2008. Pengendalian Aflatoksin Pascapanen Jagung Melalui Penerapan HACCP. Jurnal Standarisasi 10 (1) : 1-10.

Syarief R dkk. 2003. Mikotoksin Bahan Pangan. Bogor : IPB Press.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Agen Penyebab Ringworm dan Cara Penularannya

Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh jamur/cendawan yang hidup pada bagian kutan/superfisial atau bagian dari ...

error: Content is protected !!