Home » Kesmavet » Cemaran Aflatoksin pada Bahan Pangan

Cemaran Aflatoksin pada Bahan Pangan

Aflatoksin2
Aflatoksin sebagai metabolit sekunder dari Aspergillus merupakan senyawa toksik yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan. Aflatoksin merupakan salah satu bentuk cemaran yang keberadaannya dalam produk pangan perlu mendapat perhatian khusus. Mengingat kondisi Indonesia yang lembab dan beriklim tropis memungkinkan Aspergillus toksigenik tumbuh di Indonesia dan sangat kondusif menyebabkan bahan pangan/pakan dan produk olahannya mudah terserang oleh Aspergillus penghasil toksin (aflatoksin). Selain itu, faktor lain adalah rendahnya kualitas komoditas pertanian yang dihasilkan oleh para petani serta masih kurangnya pengetahuan dan kesadaran konsumen terhadap bahaya mikotoksin. Aflatoksin kontaminasi dalam pangan menjadi ancaman yang besar untuk kesehatan manusia dan hewan serta perdagangan internasional. Menurut perkiraan FAO, 25% dari tanaman pangan dunia telah terpengaruh oleh mikotoksin setiap tahun, serta menyebabkan kerugian akibat kontaminasi aflatoksin.

Sumber-sumber karbohidrat seperti serealia dan bebijian cenderung dicemari oleh berbagai jenis kapang salah satunya yaitu Aspergillus yang dapat menghasilkan alflatoksin. Produk makanan yang mengandung aflatoksin diantaranya yaitu biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit) dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang serta produk olahan susu seperti keju, yoghurt dan mentega. Selain itu kadar aflatoksin tinggi pada pakan ternak juga dapat menyebabkan adanya residu pada produk ternak seperti daging, hati dan telur serta aflatoksin ditemukan juga pada udang.

 

 

 

Sumber :

Handajani N S dan Ratna S. 2006. Identifikasi Jamur dan Deteksi Aflatoksin B1 terhadap Petis Udang Komersial. Biodiversitas 7(3): 212-215.

Kusumaningtyas E dkk. 2006. Penurunan Residu Aflatoksin B1 dan M1 pada Hati Itik dengan Pemberian Kultur Saccharomyces cerevisiae dan Rhizopus oligosporus. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner :790-795.

Labbe R G, Garcia S. 2001. Guid to Foodborne Pathogens. New York : Wiley Interscience.

Rachmawati S. 2005. Aflatoksin dalam Pakan Ternak di Indonesia : Persyaratan Kadar dan Pengembangan Teknik Deteksi-nya. Wartazoa 15 (I) : 26-37.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Agen Penyebab Ringworm dan Cara Penularannya

Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh jamur/cendawan yang hidup pada bagian kutan/superfisial atau bagian dari ...