Home » Kesmavet » Cara Penularan Rabies

Cara Penularan Rabies

penularan rabies

Cara penularan rabies pada manusia

Sebagian besar cara penularan rabies pada manusia terutama melalui gigitan hewan yang terinfeksi rabies. Begitu juga dengan hewan, dapat tertular rabies melalui gigitan hewan lain yang terinfeksi rabies. Sekitar 70% anjing yang tertular rabies mengandung virus di dalam salivanya. Penularan melalui gigitan kelelawar penghisap darah (vampire) yang terinfeksi pada hewan domestik sering terjadi di Amerika Latin. Penularan rabies juga dapat terjadi melalui saliva atau jaringan dari hewan yang terinfeksi mengenai kulit dengan luka terbuka atau konjungtiva pada saat melakukan seksi pada hewan tersangka atau saat mengerjakan preparat di laboratorium, meskipun kejadian ini jarang terjadi. Selain itu, penularan rabies juga diduga dapat terjadi melalui aerosol (udara) yang mengandung partikel virus misalnya pada saat memasuki gua yang banyak terdapat kelelawar atau melakukan blender vaksin rabies pekat ataupun material yang akan diperiksa.

Penularan antar manusia melalui saliva secara teoritis dimungkinkan karena saliva dari manusia yang terinfeksi dapat mengandung virus, namun hal ini belum pernah dilaporkan. Penularan rabies pada manusia juga dapat terjadi melalui transplantasi organ (cornea) dari orang yang terinfeksi rabies dan kasus ini pernah dilaporkan.

Virus penyebab rabies dapat ditemukan di dalam kelenjar saliva setelah anjing terinfeksi selama 3-8 minggu. Pada umumnya gigitan serigala lebih berbahaya daripada gigitan anjing, karena saliva karnivora liar lebih banyak mengandung enzim hialuronidase yaitu suatu enzim yang dapat meningkatkan permeabilitas jaringan dan virulensi virus. Saliva banyak mengandung virus terutama bila gejala klinis sudah terlihat, meskipun kadang-kadang dalam beberapa hari virus sudah ada di dalam saliva sedangkan gejala klinis belum terlihat.

Tidak semua manusia yang di gigit oleh anjing atau hewan penderita rabies akan menderita penyakit rabies. Timbulnya penyakit rabies tergantung kepada parahnya gigitan dan lokasi gigitan. Virus akan menuju syaraf dari sumsum tulang belakang kemudian menuju otak, karena jangka waktu virus mencapai otak relative panjang maka masih ada peluang bagi pasien yang di gigit oleh anjing penderita rabies untuk mendapatkan terapi dengan diberikan serum antirabies (SAR) dan vaksinasi rabies secara simultan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penularan rabies yaitu sebagai berikut:

a. Virus di saliva hewan penggigit
Hewan yang positif terinfeksi rabies belum tentu menularkan virus melalui gigitan karena hanya 50-90% dari hewan yang mati karena rabies mengandung virus pada salivanya. Prevalensi keberadaan virus pada saliva lebih tinggi pada hewan liar daripada hewan peliharaan. Skunk (sigung) dapat mengandung virus dalam salivanya dalam jumlah besar dan berlangsung lama.

b. Kepekaan spesies hewan
Setiap spesies hewan memiliki kepekaan terhadap infeksi rabies yang berbeda-beda. Rubah merupakan hewan yang paling peka terhadap infeksi rabies, sedangkan opposum (Didelphus marsupialis) dewasa sangat tahan terhadap infeksi rabies. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan hewan terhadap infeksi rabies adalah umur hewan, cara infeksi dan sifat virus.

c. Tempat gigitan
Manusia atau hewan yang digigit oleh hewan lain yang terinfeksi rabies pada bagian tangan atau kaki depan pada hewan, kepala atau leher akan lebih mudah dan cepat terinfeksi rabies serta dapat menimbulkan penyakit yang lebih parah. Hal ini disebabkan karena pada daerah tersebut lebih banyak terdapat syaraf-syaraf perifer sehingga memudahkan terjadinya penyebaran virus di dalam tubuh karena sifat neurotropik dari virus penyebab rabies.

d. Pengobatan antirabies
Hewan atau manusia yang mendapatkan pengobatan dengan serum antirabies biasanya menjadi lebih resisten terhadap infeksi rabies.

penularan rabies2

Cara penularan rabies pada hewan

Sumber:

Acha PN, Szyfres B. 2003. Zoonoses and Communicable Diseases Common to Man and Animals. Third Edition. Volume III. USA : Pan American Health Organization.

Charles L, Stoltenow, Solemsaas K, Niezgoda M, Yager P dan Rupprecht. 2001. Rabies in american bison from North Dakota.J.Wildlife Dis 96(1):169-171.

[Depkes] Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. 2008. Jakarta: Depkes.

Soeharsono. 2002. Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Soejoedono RR. 2004. Zoonosis. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

x

Check Also

Cara Membedakan Kucing yang Terinfeksi Feline Viral Rhinotracheitis dan Feline Calicivirus

Feline viral rhinotracheitis (FVR) dan feline calicivirus (FCV) disebut juga penyakit flu kucing (cat flu). ...

error: Content is protected !!