Home » Klinik & bedah » Babesiosis pada Anjing

Babesiosis pada Anjing

Agen Penyebab Babesiosis

Babesiosis pada anjing disebabkan oleh Babesia canis dan Babesia gibsoni. Jenis protozoa ini dimasukkan pada Genus Babesia, Famili  Babesidae, Sub Ordo Piroplasmadae, Ordo Coccidida, Sub Kelas Coocidiomorphan dan kelas Sporozoa (Wayon,1926). Sedangkan menurut Levine (1978) memasukan Babesia kedalam Genus Theleria dan Genus Babesidae yang merupakan salah satu diantara tiga famili dari Ordo Hamosporodia.

Babesia sp. terdapat didalam sel darah terdapat bentuk bulat menyerupai buah pear, oval, walaupun kadang-kadang berbentuk bulat dan tidak teratur, umumnya berpasangan, intinya bulat, lonjong dan seperti batang dan apabila mengandung vakuola makanan berbentuk cincin (Gambar 1).

Sumber: https://www.studyblue.com

Gambar 1 Babesia sp. di dalam sel darah (lingkaran hijau)

 

Siklus Hidup Babesia sp.

Secara alamiah Babesia dapat dipindahkan oleh caplak. Caplak-caplak yang menjadi vektor Babesia canis dan B.gibsoni adalah Rhipicephalus sanguineus, Dermacentor, Haemaphysalis, dan Hyaloma. Perkembangan Babesia di dalam tubuh caplak ke stadium infektif untuk anjing tergantung pada seluruh caplak dari larva ke stadium nimfe. Sesudah stadium nimfe bentuk mirip seperti cacing yang ditemukan pada sel-sel air liur caplak, sama dengan bentuk-bentuk dalam getah bening. Bentuk cacing diduga seperti bola, membesar dan kromatin menjadi tersebar dalam sel dan akhirnya sel induk akan pecah, sehingga membebaskan organisme yang berbentuk ganda yang dikenal dengan vemikula. Vemikula ini melalui usus akan masuk kedalam haemolimpa, akhirnya tersebar ke indung telur dan jaringan lain induk semang avertebrata. Sewaktu stadium caplak berkembang dalam telur, vemikula ini dapan menginvasi sel-sel usus embrio, pembagian jamak belum dapat menghasilkan generasi lain. Sesudah menetas, stadium larva infektif yang potensial harus melekat pada induk semang vertebrata untuk menekan darah sehingga pertukaran kulit nimfa dapat disempurnakan. Pemasukan parasit dalam kelenjar air liur akan terjadi sesudah pertukaran kulit. Vemikula dalam kelenjar air liur akan melakukan perbanyakan jamak. Stadium yang dihasilkan adalah infektif pada induk semang vertebrata dan menyerupai bentuk-bentuk tidak teratur yang terlihat dalam eritrosit. Siklus pada caplak adalah betina dewasa menelan bentuk-bentuk Babesia eritrosit yang infektif. Caplak ini bertindak sebagai penghisap juga sebagai penggigit.

Sumber: http://veteriankey.com/babesiosis/

Gambar 2 Siklus hidup Babesia canis

 Baca juga mengenai: Kerugian Akibat Infestasi Caplak Rhipicephalus sanguineus pada Hewan

 

Patogenesa

Beberapa hal yang memegang peranan utama dalam menentukan patogenesis Babesiosis yaitu pelepasan zat-zat aktif secara farmakologi dan perusakan eritrosit. Anemia hemolitik akan terjadi karena perkembangan parasit  terjadi dalam eritrosit yang kemudian pecah.

Parasit protozoa mampu menghasilkan respon kekebalan, baik secara humoral  mediated  ataupun secara cell mediated, dimana kedua sistem ini bekerja sama dalam mengendalikan parasitemia (parasitemia adalah keberadaan parasit dalam darah, biasanya dinyatakan dalam persen). Respon hewan terhadap infeksi Babesia meliputi mekanisme kekebalan secara spesifik dan tidak spesifik. Mekanisme kekebalan secara spesifik yaitu melalui kekebalan aktif terhadap Babesia dengan cara infeksi parasit hidup atau yang dilemahkan atau transfer pasif dari antibodi. Sedangkan mekanisme kekebalan yang tidak spesifik adalah sifat bawaan hewan itu sendiri sebagai kekebalan yang alami dan tidak ada hubungannya dengan sifat patogenitas tertentu. Walaupun mekanisme ini tidak dimengerti sepenuhnya. Berikut ini adalah beberapa faktor yang berperan dalam mekanisme kekebalan tidak spesifik :

  1. Semua hewan domestik atau liar peka terhadap infeksi babesiosis paling tidak pada satu spesies  Babesia.
  2. Anjing muda umur kurang dari 4 bulan pada umumnya lebih resisten terhadap Babesia karena hewan-hewan tersebut dilindungi oleh kekebalan pasif  dari kolostrum induknya serta oleh faktor-faktor non-spesifik lainnya yang belum dimengerti sebab-sebabnya.
  3. Hewan yang sedang bunting tua nampak lebih rentan, hal ini dimungkinkan karena adanya status imunodefisiensi mineral tertentu dapat juga menekan daya kekebalan tubuh.

Anjing yang sembuh akan memperoleh preimunisasi dan preimunitas yang disebabkan oleh infeksi laten umumnya tetap bertahan seumur hidup. Namun, ada perbedaan-perbedaan galur dan imunitas steril bukan sekedar preimunitas dapat terjadi.

Kematian dapat terjadi dalam 4-8 hari pada kasus-kasus akut. Mortalitas pada kasus yang tidak terobati dapat mencapai 59-90%. Kematian terjadi tidak hanya disebabkan oleh rusaknya sel darah merah yang menyebabkan anemia, oedema, dan ikhterus, tetapi juga karena tersumbatnya kapiler-kapiler dari berbagai organ oleh sel-sel parasit. Penyumbatan ini menyebabkan degenerasi sel-sel endotel pembuluh darah kecil, anoxsia, penimbunan hasil metabolisme yang bersifat toksik, kerapuhan kapiler, keluarnya eritrosit dari pembuluh darah dan hemoragi makroskopik.

Kerusakan utama adalah selaput-selaput lendir menjadi pucat. Terlihat gejala seperti, ikterus, limpa membesar dan berwarna merah tua diiringi penonjolan benda-benda limpa (splenik corpuscles), hati membesar dan warna coklat kekuningan, kantung empedu mengembang dan berisi empedu kental berwarna gelap, mukosa lambung dan usus oedematous, ikhterus dengan bercak-bercak (petechie) pendarahan. Darah encer seperti air, plasma dapat berwarna kemerah-merahan dan urine juga kemerahan. Hewan-hewan yang terserang kondisinya menurun menjadi kurus dan sering kali mati dengan tanda-tanda Babesiosis dapat bervariasi.

 

Gejala klinis

Gejala klinis hewan yang menderita babesiosis dapat di bagi ke dalam tiga fase, yaitu sebagai berikut :

  1. Perakut
    Gusi pucat, depresi, tidak mau makan, lemah, anemia (kerusakan RBC), demam, jaundice (kekuningan pada mata dan kulitnya), pada pewarnaan ulas darah ditemukan parasit babesia dalam RBC.
  2. Akut
    Mirip dengan perakut tetapi lebih ringan
  3. Kronis
    Lemah, ditemukan banyak RBC immature (regenerative anemia), pembesaran limpa, jaundice, agak demam dan intermitten (naik turun), kurus, kerusakan ginjal dan hati, pada pewarnaan ulas jarang ditemukan parasit babesia.

 

Pengobatan dan Vaksinasi

Pengobatan

Obat-obat yang sering diberikan pada hewan yang terkena Babesiosis diantaranya adalah:

  1. Trypan blue, dengan dosis 100 ml, kepekatan 1-2 % dalam NaCl fisiologis diberikan secara Intra Vena, cukup diberi dua kali berturut-turut selama dua hari. Obat ini tidak boleh diberikan atau disuntikan diluar vena misalnya diberikan secara sub-kutan karena akan terjadi abses dan nekrosa dan urat daging berwarna biru sehingga persembuhan akan lambat.
  2. Phenamidine, dosis 12 mg per kg berat badan, kepekatan 40% diberikan secara sub-kutan. Membasmi semua parasit dari hewan yang diobati tidak lagi memiliki preimunisasi. Kadang-kadang terjadi keracunan karena tipe anafilaksis, tetapi biasanya hewan sembuh kembali.
  3. Pirevan (Acaprin, Piroplasmin, Babesan), dosis 0,02 ml kepekatan 5% per kg berat badan, diberikan secara sub-kutan. Obat ini banyak digunakan dalam pengobatan Babesiosis
  4. Clindamycin HCL dengan dosis 150-300 mg per kg berat badan. Diberikan secara per oral atau secara intramuskular. Indikasinya untuk saluran pernafasan, infeksi kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, septikimia dan endokarditis. Obat ini tidak dapat membunuh Babesia sp secara tuntas tapi masih meninggalkan beberapa sisa parasit untuk tujuan proses kekebalan.

 

Vaksinasi

Dalam program vaksinasi, beberapa faktor yang harus dipertimbangkan antara lain: apakah perlu diadakan vaksinasi?, parasit-parasit apa saja yang dimasukkan di dalam vaksin?, dan kapan waktu untuk vaksinasi?.

Vaksinasi terhadap Babesiosis paling baik dilakukan dalam kondisi berikut ini :

  1. Ketika hewan peka, khususnya hewan dari daerah bebas caplak dipindahkan ke daerah endemik. Vaksinasi disarankan pada hewan yang diimpor ke negara tropis yang biasanya terdapat vektor caplak.
  2. Ketika stabilitas endemik terganggu sebagai hasil dari adanya pengendalian caplak atau keadaan iklim yang tidak sesuai untuk berkembang biak serta menyebar luasnya caplak, sehingga ada sebagian hewan yang menjadi peka. Pada daerah endemik yang tidak stabil ini vaksinasi dianjurkan untuk dilakukan pada hewan yang berumur di bawah 9 bulan.

Baca juga mengenai: Berbagai Jenis Ektoparasit yang Dapat Menginfeksi Anjing

 

 

 

Sumber:

Adam, K.M.G, J. Paul and V. Zaman. 1971. Medical and Veterinary Protozoologi. An Ilustrated Guide. Churchill Livingstone, Edinburgh and London

Akosa, B.T. 1996. Kesehatan Sapi. Panduan Bagi Petugas Tekhnisi, Mahasiswa, Penyuluh, dan Peternak. Yogyakarta : Kanisius. Hal : 169-172.

Ashadi, G dan Handayani, S, U. 1992. Protozoologi Veteriner 1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bogor : Pusat Antar Universitas Biotekhnologi, IPB.

Arifin, C dan Soedarmono. 1982. Parasit Ternak dan Cara-cara Penanggulangannya. Jakarta : Penebar Swadaya.

Bock, R.E, A.J de VOS, T.G  Kingston, D.J.McLellan. 1997. Effect of Breed of Cattle in Resistance to Infection with Babesia bovis, Babesia bigemina, dan Anaplasma marginale. Australia : Vet J.

Bambang, S dan Soedarsono. 1991. Ilmu Peternakan, Edisi IV. Yogyakarta : UGM Press.

Dolan, T.T. 1991. Recent Devolopment in the Control Of Anaplasmosis, Babesiosis, and Cowdriasis. Edisi I. Kenya : Nairobi.

Levine, ND. 1995. Text Book of Veterinary Protozoologi. Buku Pelajaran Protozoologi Veteriner. Alih Bahasa oleh S. Soekardono. Yogyakarta : UGM Press.

Losus, G.J. 1986. Infection Tropical Disease of Domestic Animals. Edisi I. Kanada.

Ristic, M dan Intyre, M. 1981. Disease of Cattle in the Tropic. London : Martinus Hijhoof Publhiser.

Tampubolon, M. P . 2004. Protozoologi. Pusat Studi Ilmu Hayati. Bogor : IPB.

 

 

 

 

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.

error: Content is protected !!