Home » Patologi » Apa Itu Kongesti (Pembendungan Darah)?

Apa Itu Kongesti (Pembendungan Darah)?

Kongesti (pembendungan darah) adalah berlimpahnya darah di dalam pembuluh darah di regio tertentu. Kongesti disebut juga hiperemi, jika dilihat secara mikroskopik kapiler-kepiler dalam jaringan yang hiperemi terlihat melebar dan penuh berisi darah. Pada  dasarnya kongesti dapat terjadi dengan dua mekanisme yaitu : (1) Kenaikan jumlah darah yang mengalir ke jaringan atau organ dan (2) penurunan jumlah darah yang mengalir ke jaringan atau organ. Kengesti dibagi menjadi 2 bentuk yaitu: kongesti aktif dan kongesti pasif. Gambaran histopatologi kongesti dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: Pazra 2008

Gambar 1 Gambaran histopatologi kongesti yang ditandai dengan banyaknya eritrosit yang terbendung di dalam pembuluh darah. (A) kongesti pada usus ikan lele; (b) kongesti pada insang ikan lele (Pazra 2008)

  1. Kongesti aktif

Kongesti aktif yaitu peningkatan aliran darah ke jaringan  atau organ. Pada kongesti aktif, lebih banyak darah mengalir secara aktif ke dalam jaringan atau organ. Kenaikan aliran darah lokal terjadi disebabkan oleh adanya dilatasi arteri yang bekerja sebagai katup yang mengatur aliran darah ke dalam mikrosirkulasi lokal (Gambar 2). Sebagai contoh dari kongesti aktif yaitu hiperemia yang menyertai radang akut, sehingga terjadi kemerahan pada jaringan yang meradang. Warna merah padam pada wajah ketika malu merupakan vasodilatasi yang muncul akibat respon terhadap stimuli neurogenik. Contoh dari kongesti aktif fisiologis yaitu pengiriman darah lebih banyak sesuai dengan kebutuhan jaringan yang sedang bekerja seperti otot yang sedang berkontraksi aktif. Hal ini disebut dengan hiperemia fungsional. Kongesti aktif sering terjadi dalam waktu singkat, apabila rangsangan terhadap dilatasi arteriol berhenti maka aliran darah ke daerah tersebut akan berkurang dan keadaan akan menjadi normal kembali

 

  1. Kongesti pasif

Kongesti pasif adalah terjadinya gangguan aliran darah pada suatu daerah. Penekanan pada venula-venula dan vena yang mengalirkan darah dari jaringan dapat menimbulkan kengesti pasif. Sebagai contoh yaitu tumor yang menekan aliran vena lokal dari suatu daerah. Kongesti dapat juga terjadi karena gangguan sistem sirkulasi darah sistemik yang dapat mengganggu drainase vena (Gambar 2) seperti kegagalan ventrikel jantung kiri mengakibatkan aliran darah yang kembali ke jantung dari paru-paru akan terganggu. Pada keadaan ini darah akan terbendung di dalam paru-paru dan akan menimbulkan kongesti pasif pembuluh darah paru-paru. Apabila terjadi kegagalan ventrikel jantung kanan, bendungan darah akan mempengaruhi aliran vena sistemik sehingga banyak jaringan di seluruh tubuh mengalami kongesti pasif.

Kongesti pasif yang berlangsung singkat keadaan ini disebut dengan kongesti pasif akut, sedangkan kongesti pasif yang berlangsung lama keadaan ini disebut sebagai kongesti pasif kronis. Kongesti pasif akut biasanya tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada jaringan tersebut (Gambar 3b), tetapi kongesti pasif kronis dapat mengakibatkan perubahan-perubahan permanen pada jaringan. Perubahan ini terjadi pada jaringan yang mengalami kongesti pasif dan apabila perubahan pada aliran darah ini cukup nyata, maka terjadi hipoksia jaringan yang menyebabkan menyusutnya jaringan atau bahkan dapat menyebabkan hilangnya sel-sel dari jaringan tersebut.

Pengaruh kongesti pasif kronis khususnya dapat terlihat pada paru-paru dan hati. Pada paru-paru yang mengalami kongesti akan mengakibatkan dinding ruang udara cenderung menebal dan banyak sekali makrofag yang mengandung pigmen hemosiderin, pigmen ini terbentuk sebagai hasil pemecahan hemoglobin dari sel-sel darah merah yang lolos dari pembuluh darah yang mengalami kongesti ke dalam ruang udara. Pada hati, kongesti pasif kronis mengakibatkan dilatasi nyata dari pembuluh darah di sentral tiap lobulus hati disertai dengan penyusutan sel-sel hati. Perubahan yang mencolok di hati yaitu penampilan yang terlihat kasar yang ditimbulkan oleh hiperemia daerah sentrolobuler diselingi daerah-daerah perifer tiap lobus yang lebih sedikit terpengaruh (nutmeg liver) (Gambar 3a). Kongesti pasif kronis juga dapat menyebabkan dilatasi vena di daerah yang mengalami kongesti. Akibat lain dari kongesti pasif kronis adalah terjadinya dilatasi vena pada daerah yang kongesti dan dinding vena akan menjadi fibrotik serta vena cenderung memanjang.

Sumber: McGavin dan Zachary 2007

Gambar 2 Perbedaan pada pembuluh darah yang mengalami hiperemia dan kongesti

Sumber: McGavin dan Zachary 2007

Gambar 3 Kongesti pasif pada hati. (A) kongesti pasif kronis pada hati (nutmeg liver); (B) kongesti pasif akut pada hati

 

 

 

 

 

Sumber:

McGavin MD, Zachary JF. 2007. Pathologic Basis of Veterinary Disease. Edisi ke-4. USA: Mosby Elsevier.

Price SA, Wilson L M. 2006. Patofisiologi. Edisi VI. Volume I. Jakarta: EGC.

Pazra DF. 2008. Gambaran Histopatologi Insang, Otot dan Usus pada Ikan Lele (Clarias spp.) Asal dari Daerah Bogor [Skripsi]. Bogor: FKH IPB.

About Debby Fadhilah

Keahlian saya dibidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat (penyakit zoonotik) serta dibidang higiene pangan dan keamanan pangan (food safety) terutama pangan asal hewan. Saya juga sebagai Tenaga Ahli untuk pangan di PT. ASRInternasional Indonesia.
x

Check Also

Mekanisme Terjadinya Edema

Edema dapat terjadi karena disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya yaitu terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik ...

error: Content is protected !!